Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2009

Sekilas Panorama Paniai


Gambar-gambar ini adalah cuplikan-cuplika kecil wajah georgrafi dan panorama Paniai

hulu sungai yawei/uta

hulu sungai yawei/uta

Read Full Post »


Kita semua tentu sudah tahu bahwa saat ini negara super power amerika sedang dalam masalah / krisis keuangan. Menurut kompas penyebab dari krisis ekonomi AS adalah penumpukan hutang nasional yang mencapai 8.98 triliun USD, pengurangan pajak korporasi, pembengkakan biaya perang irak dan afghanistan, dan yang paling krusial adalah Subprime Mortgage: Kerugian surat berharga property sehingga membangkrutkan Lehman Brothers, Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UF.

 

Surat kabar di Eropa menyoroti krisis ekonomi di Amerika Serikat yang dampaknya juga mulai terasa di Eropa.

 

 

 

Mengenai krisis konjunktur di Amerika Serikat dan akibatnya bagi pertumbuhan ekonomi global,

Harian dari Italia La Republica yang terbit di Roma dalam tajuknya berkomentar :

 

“Saat ini Amerika Serikat dilanda resesi yang sangat serius dan menyakitkan. Kini pertanyaanya adalah: Seburuk apa fase konjunktur ini, dan apakah akan dapat meruntuhkan ekonomi Amerika Serikat secara mendadak? Di Eropa, terutama  Bank Sentral Eropa walaupun menyadari hal itu merupakan ilusi, masih tetap mengharapkan bahwa mereka masih dapat melindung kawasannya atau menepis dampak dari krisis berat ekonomi di Amerika Serikat. Namun, di tahun 2008 ini Eropa tidak akan lagi mampu menahan dampak krisis ekonomi dari Amerika Serikat dan akan ikut tergilas.”

 

 

Dari Perancis Harian Dernieres Nouvelles d`Alsace yang terbit di Strassburg juga mengomentari dengan tajam krisis ekonomi dunia tsb:

 

“Di Jerman serikat buruh menuntut kenaikan gaji sampai 8 persen untuk mengimbangi daya beli yang terus menurun. Juga di Perancis menurunnya daya beli menjadi topik bahasan. Namun dalam kenyataannya penurunan daya beli ini adalah masalah seluruh Eropa. Di mana-mana pertumbuhan ekonomi harus dikoreksi ke bawah. Bank Sentral Eropa mengecam tuntutan serikat buruh- khususnya dengan menyoroti Jerman sebagai penggerak ekonomi Eropa. Ekonomi global mengalami perubahan drastis. Krisis kredit di Amerika Serikat menunjukkan betapa rentannya globalisasi moneter. Para aktor baru ekonomi juga muncul di luar rencana. Seperti halnya dana simpanan jangka panjang dari negara-negara penghasil minyak bumi, yang merupakan investasi jangka panjang. Yang berbeda dari dana pensiun, yang hanya tertarik pada keuntungan jangka pendek. Perubahan drastis dalam sirkulasi keuangan tidak dapat diabaikan lagi.”

 

 

Sedangkan Harian yang beredar di Jerman Der Tagesspiegel yang terbit di Berlin berkomentar :

 

“Juga jika tidak seluruh ketakutan menjadi kenyataan, sekarang terlihat betapa buruknya persiapan Jerman menghadapi penurunan konjunktur. Tahun lalu kas negara hanya mendapat pemasukan 70 juta Euro, walaupun pendapatan dari sektor pajak meningkat milyaran Euro. Negara tidak mampu lagi mengembalikan kemampuannya untuk bertindak. Politik secara keseluruhan, gagal mengambil manfaat dari laju konjunktur. Asuransi kesehatan, yayasan dana pensiunan dan pasaran kerja tidak lagi kebal dari krisis. Tema ini harus dibicarakan dalam kampanye.”

 

 

Dan yang terakhir harian liberal Denmark Information yang terbit di Kopenhagen mengomentari dampak resesi pada kampanye pemilu presiden di AS :

 

“Ancaman resesi ekonomi di tahun pemilihan presiden, secara ajaib kelihatannya mempersatukan partai Republik dan partai Demokrat di Kongres serta presiden saat ini. Sakarang ini juga harus disuntikkan dana segar bagi sirkulasi ekonomi, dan lebih baik tentu saja jika langsung disalurkan kepada konsumen AS. Seandainya presiden AS merintangi proyek ini, peluang partai Republik untuk mempertahankan kekuasaannya di Gedung Putih akan semakin buruk. Sebab kandidat partai demokrat dapat melemparkan tanggungjawab bagi resesi serius tahun 2008 ini, kepada Bush dan partai Republiknya. Untuk sementara, kelihatannya krisis ekonomi tsb meningkatkan peluang partai Demokrat untuk memenangkan pemilu presiden dan meraih mayoritas di kedua kamar di Kongres.”

 

 

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? krisis kuangan yang menimpa amerika jelas juga berdampak di Indonesia, seperti harga rupiah yang terus melemah, IHSG yang juga tidak sehat, ekspor diperkirakan juga menjadi terhambat karena perusahaan- perusahaan AS akan melakukan politik banting harga. Namun apakah krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997/98 akan terjadi lagi? Menurut Ekonom UGM Sri Adiningsih menilai sampai sejauh ini pemerintah Indonesia belum mempunyai langkah strategis untuk mengantisipasi dampak krisis financial AS, padahal jika krisis financial AS tidak segera teratasi maka dampaknya terhadap perekonomian Indonesia bisa lebih buruk dibanding krisis ekonomi tahun 1997/98.

 

Setidaknya kita berharap pasar asia masih bertahan dalam menghadapi krisis yang terjadi di AS, karena saat ini pemerintah hanya memiliki strategi untuk fokus kepada jalur distribusi ekspor, akan tetapi apabila pasar asia ikut hancur maka dipastikan Indonesia akan mengalami krisis ekonomi yang lebih parah dari tahun 1997/98

Source : http://www.pinara.net

Read Full Post »


I have a dream that my four little children will one day live in a nation

where they will not be judged by the

color of their skin, but by the content of their character.,

(Dr.Martin Luther King Jr, Washington, August 28, 1963)

 

 

Hari ini, 20 Januari 2009, waktu Washington, D.C., presiden terpilih Barack Hussein Obama, dilantik secara resmi menjadi Presiden Amerika Serikat ke-44. Presiden berkulit hitam pertama sejak Amerika merdeka lepas dari kerajaan Inggris 04 Juli 1776 atau 232 tahun lalu. Pada 4 November 2008 lalu, rakyat Amerika akhirnya menoreh lembaran sejarah baru sekaligus mengukuhkan diri bukan saja sebagai negeri adidaya dalam bidang ekonomi, politik dan ertahanan, tetapi sekaligus meneguhkan diri sebagai championof democracy and human rights (kampiun demokrasi dan hak asasi manusia).

Terpilihnya Obama, tidak terlepas dari perjalanan panjang dan melelahkan dari perjuangan para tokoh kulit hitam melawan sejarah buram perbudakan dan rasialisme. Tokoh-tokoh ini, di antaranya : Hiram Revels, Joseph Rainey, Rose Parks, Martin Luther King Jr, Malcolm X, Jesse Jackson, Douglas Wilder hingga Colin Powell dan Condoleeza Rice.

Melangkahnya Obama memasuki pintu Gedung Putih, hari ini (20/01/2009), jelas merupakan pemenuhan impian Dr.Martin Luther King Jr, seperti dikutip pada alinea pengantar tulisan ini. Martir gerakan sipil dan hak asasi manusia ini memimpikan agar keempat anaknya – bahkan juga semua anak budak kulit hitam dan anak pemilik budak kulit putih, suatu saat nanti, dapat hidup berdampingan di sebuah negari dimana mereka tidak dinilai dari warna kulit, namun oleh kekuatan karakter yang dimiliki.

Berpaut momen pelantikan yang ditentukan, rakyat Amerika juga dapat memperingati sebuah peristiwa historis terpenting yang ikut pula memberikan kontribusi mengantarkan Barack Obama melangkah ke Gedung Putih. Peringatan Hari Martin Luther King Jr (Martin Luther King Jr Day) yang jatuh pada senin ketiga bulan Januari setiap tahun. Menurut kalender tahun 2009, senin ketiga jatuh pada tanggal 19 Januari. Martin Luther King Jr Day diperingati di Amerika Serikat sebagai hari libur nasional (libur federal) guna mengenang dan menghormati jasa-jasan pendekar hak asasi manusia dan gerakan sipil ini dalam memperjuangkan persamaan hak dan kebebasan bagi warga kulit hitam, maupun juga , kebebasan dan persamaan bagi semua ras manusia.

Kemenangan Obama yang telah menyihir dunia melalui pemberitaan media massa menginspirasikan sebuah wacana menarik. Mungkinkah, suatu saat nanti, muncul seorang Obama ala Indonesia — alias presiden Indonesia asal Papua — (Liddle, Kompas 07/11/2008), (Piliang, Seputar Indonesia, 08/11/008), (Papuan for President ?, Pitchforth, The Jakarta Post, Nov 09, 2008), di kancah perpolitikan nasional di negeri kepulauan ini ? Mungkinkah infrastruktur politik yang ada — telah dan akan — memberikan ruang dan peluang yang luas bakal melahirkan Obama Indonesia ? Dan, apa saja hambatan-hambatan yang merintangi perwujudnyataan impian ini ? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, dapat dilihat pada bagian lain di bawah ini.

 

Kemiripan

Apa relevansi antara pemilihan dan pelantikan Obama di Amerika dengan wacana presiden asal Papua dalam konteks Indonesia ? Fonemena kemunculan Obama menjadi presiden kulit hitam pertama di negera Paman Sam, mempunyai kemiripan, selain juga ada perbedaan, dengan keberadaan Papua dalam konteks Indonesia ?

Pertama, Obama adalah warga kulit hitam yang merupakan kelompok minoritas, kurang lebih 38 juta, (13%) dari 300 juta jiwa penduduk Amerika Serikat saat ini (Kompas, 07/11/2008).Walaupun putra berdarah campur ini sebenarnya tidak merepresentasikan keturunan warga Afro-Amerika umumnya yang sudah sejak lama (1607 -1897 ) menjadi budak yang dipekerjakan pada perkebunan orang-orang kulit putih dan telah mengalami perjalanan kehidupan bernegara dan berbangsa Amerika yang penuh tembok hitam praktek perbudakan, dominasi rasialisme dan diskriminasi, beratusan tahun yang mengerikan dan manakutkan.

Begitupun, warga Indonesia yang berasal dari rumpun ras Melanesia (Papua) hanya berjumlah kurang lebih 1,5 juta jiwa atau (1%) dari 230 juta penduduk Indonesia, (Siswono, Kompas, 15/12/2008), (The Pacific Ecologist, Aug 03,2004), (Piliang & Sumule, 2006) dan (Q-TV, 13/11/2008). Namun, persentase ini tidak menggambarkan peluang dan akses ke sumber daya politik dan ekonomi di tingkat lokal, apalagi di tingkat nasional. Akan tetapi, masih beruntung bahwa warga Indonesia rumpun Melanesia ini tidak mengalami sejarah rasialisme kelam (secara fisik diekspresikan jelas), seperti terhadap warga Afro-Amerika, salah satunya, yang berbuntut pada pemboikotan bus (Montgomery Civil Rights Boycott) yang dimotori oleh Rose Parks dan Martin Luther King Jr (1955 – 1956). Toh, diakui bahwa tindakan pelanggaran HAM berat, perlakuan diskriminatif, sikap apriori, prejudis dan dominasi kelompok mayoritas memang masih sering dialami orang Papua.

Kedua, dalam pernyataan kemerdekaan (declaration of independence) Amerika Serikat dengan tegas dinyatakan bahwa All men are created equal (semua orang diciptakan setara). Pernyataan serupa juga secara gamblang tertuang di dalam batang tubuh UUD 1945 yang menegaskan bahwa setiap warga Negara Indonesia mempunyai hak dan kedudukan yang sama di depan hukum dan pemerintahan. Itu artinya konstitusi Indonesia memberikan ruang yang sama bagi setiap warga negara, tanpa memandang apakah seorang warga negara berketurunan berdarah biru, ras tertentu atau etnis mayoritas dsb.

Ketiga, Amerika adalah republik federal yang ber-50 negara bagian, sementara Indonesia merupakan negara kesatuan yang menganut sistem desentralisasi, ber-33 provinsi. Keduanya sama-sama Negara pluralistik yang tercermin pada semboyan (E Pluribus Unum — dari banyak menjadi Satu) dan (Bhineka Tunggal Ika — berbeda-beda namun satu). Masing-masing menganut sistem demokrasi dalam penyelenggaraan politik pemerintahan. Meskipun usia demokrasi di Amerika sudah berjalan 2 ¼ abad (232 tahun). Sementara Indonesia masih 63 tahun dan baru 1 dekade bertransformasi dari rezim otoritarian dan tiranis ke rezim demokratis-reformis. Sebagai penganut sistem demokrasi, kedua negara niscaya membangun suatu sistem berbangsa dan bernegara yang memberi ruang bagi keberagaman. Semua sama di depan hukum, yang sama hak politik dan sipinya.

 

Presiden Indonesia asal Papua

Kembali menjawab pertanyaan di atas. Mingkinkah, suatu saat nanti, demokrasi politik Indonesia menciptakan ruang kebebasan, persamaan dan kesetaraan yang melahirkan seorang presiden Indonesia asal Papua di jagat perpolitikan nasional di negeri kepulauan ini ? Jika jawabnya — ya, mungkin —, lantas, seberapa besar dan menjanjikan demokrasi politik Indonesia memberi ruang kepada orang Papua untuk menjadi presisen ? Kalau jawabnya — tidak mungkin —, kemudian apa saja hambatannya ?

Mari kita bahas lebih dulu pertanyaan terakhir, apa kendala yang menghambat sehingga impian menggapai Obama Indonesia tidak kesampaian, kemudian, kembali ke pertanyaan, seberapa besar peluang yang menjanjikan untuk meraih cita-cita yang masih mewacana ini. Untuk sekarang, dan bahkan mungkin 4 dekade mendatang, menjelang 1 abad usia Indonesia atau malah mungkin 2 ¼ abad seperti Amerikapun, mustahil akan muncul seorang Obama Indonesia dari Papua. Alasannya ? Bukannya Wong Papua ora iso, melainkan lantaran:

pertama, selama kurang lebih 4 dekade berintegrasi dengan Indonesia, khususnya selama rezim Soeharto berkuasa, hubungan Jakarta – Papua dibangun atas relasi patron-klien, mayoritassuperioritas vs minoritas-inferioritas, dominasi vs subordinasi dalam berbagai bidang sehingga mematikan inisiatif dan kreativitas sehingga tidak melahirkan figur pimpinan yang memiliki kapabilitas dan kapasitas yang memadai. Buktinya, mengapa satupun gubernur, bupati, pangdam atau kapolda di wilayah lain di Indonesia belum dijabat orang Papua ? Mengapa Papua saja yang selalu dituntut ber-bhineka tunggal ika ? Adilkah ?

Kedua, UU No.21/Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua sebagai salah satu infrastruktur politik yang memberikan peluang yang menjanjikan untuk melahirkan Obama ala Indonesia masa depan, ternyata dikhianati oleh elit politik pusat sendiri. Kewenangan pengambilkeputusan (decision-making authority – termasuk hak veto) bandan sentral – MRP – yang tertuang dalam PP No.54/Tahun 2004 digerogoti sehingga tidak lebih merupakan badan konsultatif (consultative body) yang tak bergigi. Para ultranasionalis memberi pembenaran demi meredam semangat separatisme. Implementasi otsus selama 7 tahun berjalan hanya dimaknai sebatas uang. Partai politik lokal tidak menjadi agenda prioritas. Persoalan dan kesalahan terbesar adalah Jakarta mencederai keputusan politik yang dibuatnya sendiri dengan menerbitkan kebijakan kontroversial — Impres No.1/Tahun 2003 mengenai pemekaran Papua dan Perpu No. 1/Tahun 2008 tentang perubahan atas UU No. 21/Tahun 2001, menjegal pelaksanaan otsus. Ingat, implementasi otsus hanya tinggal 18 tahun lagi.

Ketiga, Partai Politik Nasional tidak memberikan ruang dan tempat yang memadai dan proporsional bagi kader mereka di Papua. Malah menjelang pemilu 2009 praktik politik dinasti merajalela dan menjadijadi di tubuh parpol nasional yang ramai disorot media massa nasional. Kalaupun, satu dua kader utusan Papua di tingkat nasional, semisal almarhum J.P. Solossa, Simon Patrice Morin atau Gobay, hanyalah klien yang sekedar memfasilitasi sumber daya (dana dan dukungan konstituen) bagi kepentingan hegemoni elit parpol nasional. Kasus pemekaran Papua yang disinggung pada poin kedua di atas, menjadi cermin buruk bahwa ternyata partai politik nasional tidak konsisten menjalankan konsensus nasional. Malah justru mengejar agenda kepentingannya sendiri-sendiri. Golkar vs PDIP memperebutkan sumber daya (finasial dan dukungan konstituen) guna memenangkan Megawati Soekarnoputri menduduki RI nomor I, melalui pemilu 2004, baca (McGibbon, 2006: 44-51), (Muridan, 09/02/2008), (Sydney Jones, 09/04/2003), (Sullivan, 10/09/2003) dan (Pusat Studi Demokrasi UNCEN, Juni 2003). Selain tentunya memuluskan jalan agenda politik divide et impera untuk melemahkan musuh bebuyutan para ultranasionalis banal — separatis. Kesejahteraan dan pemerataan, memperpendek rentang kendali pembangunan dan pelayanan pemerintahan yang menjadi alasan pembenar pemekaran hanyalah akal bulus untuk menutup rapat agenda busuk yang diusungnya.

Keempat, Faktor primordialisme menjadi hambatan besar dunia politik Indonesia. Masalah primordialisme ini dibenarkan oleh Dewan Penasehat The Indonesian Institute, Indra Jaya Piliang, (Andai Obama WNI, Seputar Indonesia, 08/11/2008). “Seorang yang berkulit hitam dan berambut keriting adalah makhluk asing dalam dunia politik Indonesia. Masih butuh waktu lama untuk mencalonkan seorang warga negara Indonesia yang berasal dari Flores atau Papua untuk jabatan presiden dan wakil presiden.” Ditambahkannya, “ Padahal, dalam perjalanan saya, terdapat sejumlah anak Papua dan Flores yang betulbetul pintar, berkepribadian baik, serta berkarakter Indonesia yang menjadi tokoh-tokoh nasional yang baik.

Namun hanya karena mereka berkulit lebih gelap dan beragama yang bukan mayoritas, sulit berharap kalau orang-orang brilian itu akan masuk dalam kompetisi politik nasional.” Unsur primordialisme juga sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan warga Indonesia. Karena rendahnya tingkat pendidikan kebanyakan warga bangsa, bukannya rasionalitas dan objektivitas yang dijadikan tolokukur dalam menilai seorang figur yang tampil, kalaupun, andaikata, suatu saat mendatang, tampil sosok Papua yang kharismatik, berkharakter, cerdas dan memiliki visi kepemimpinan nasional yang jelas.

Kembali menjawab pertanyaan di atas, seberapa besar dan menjanjikan demokrasi politik Indonesia memberi ruang kepada orang Papua untuk menjadi presisen ? Jawabnya, peluang itu barangkali tercipta, bila:

Pertama, para elit politk nasional harus secara asimetris memperbaiki 4 persoalan yang dikemukakan di atas.

Kedua, kewenangan-kewenangan yang dimandatkan di dalam UU No 21/2001 tidak boleh dikebiri dan digerogoti dengan dalih separatisme.

Ketiga, adanya penghargaan dan pemberian ruang kebebasan — yang sungguh-sungguh, bukan semu — terhadap minoritas dengan keunikan sejarah, budaya, ras dan lokalitas untuk mengaktualisaikan diri. Hanya dengan demikian akan berpeluang memunculkan seorang Obama Indonesia di negeri bermultietnik ini.

Barack Obama, Selamat Melangkah ke Gedung Putih, 20 Januari 2009. Semoga jejak langkahmu terus menginspirasi dunia, termasuk Indonesia.

 

Penulis Tinggal di Timika. E-mail Address : john_fatie@yahoo.com

 

Sumber: Radar Timika, Januari 2009

 

Read Full Post »


Menurut Ensiklopedia Bebas-Wikipedia bahasa Indonesia,

Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya penduduk asli pulau Papua.

 

Koteka sebenarnya bukan  merupakan pakaian penutup kemaluan yang barangkali diidentikan dengan celana dalam oleh Ensiklopedia Bebas-Wikipedia Bahasa Indonesia tetapi koteka adalah pakaian itu sendiri bagi masyarakat pribumi Pengunungan Tengah Papua.

Secara harfiah, kata ini bermakna pakaian, berasal dari bahasa Mee.[1] Suku Dani yang hidup di Lembah Baliem-Wamena-Kabupaten Jayawijaya menyebut pakaian tradisional laki-laki ini dengan nama holim atau horim. Selanjutnya setiap suku masyarakat pribumi Pegunungan Tengah mempunyai nama sendiri.big-koteka

 Koteka dibuat dari tumbuhan yang buahnya agak mirip dengan tumbuhan mentimun atau ketimun. Namun buah koteka agak panjang. Bangkali yang agak tepat adalah kulit buah labu mini dan besar(Lagenaria siceraria), setelah kulit buah tersebu sudah tua dan kulitnya sudah agak keras.

Orang Mee menyebutnya bobbe. Bobbe biasanya di tanam di kebun atau di halaman rumah. Proses pembuatannya, bobbe dipetik (biasanya yang sudah tua) kemudian dimasukkan kedalam pasir halus. Di atas pasir halus tersebut dibuat api yang besar. Setelah panas kulit bobbe akan lembek dan isinya akan mencair, lalu biji-biji beserta cairan akan keluar dari dalam ruas bobbe. Setelah itu, bobbe digantung (dikeringkan) di perapian hingga kering. Setelah kering dilengkapi dengan anyaman khusus dan siap pakai sebagai koteka.

 Mengenai ukuran dan bentuk koteka tak berkaitan dengan status pemakainya. Ukuran biasanya berkaitan dengan aktivitas pengguna, hendak bekerja atau upacara. Banyak suku-suku di sana dapat dikenali dari cara mereka menggunakan koteka. Koteka yang pendek digunakan saat bekerja, dan yang panjang dengan hiasan-hiasan digunakan dalam upacara adat.

Namun demikian, setiap suku memiliki perbedaan bentuk koteka. Suku Yali[2] misalnya, menyukai bentuk labu yang panjang. Sedangkan orang Tiom[3] biasanya memakai dua labu.

 

 

[1] Suku Mee adalah salah satu suku pribumi Pengunungan Tengah Papua yang hidup dan mendiami  Kabupaten Paniai, Dogiay dan Nabira

[2] Suku Yali adalah salah satu suku pribumi Pegunungan Tengah Papua yang hidup dan mendiami Kabupaten Yahukimo-Papua

koteka 3

koteka 3

[3] Orang Tiom adalah sebuah kelompok masyarakat Suku Lani yang hidup dan mendiami  daerah pegunungan barat kabuparen Jayawijaya, tepatnya di kecamatan Tiom.


koteka 2

koteka 2

Koteka 1

Koteka 1

 

Read Full Post »


Bila di dalam ketelanjangan dan kecabulan media, tak ada lagi batas antara baik/buruk, benar/salah, asli/palsu, realitas/fantasi, maka yang terjadi adalah semacam kematian budaya (death of culture).”

Yasraf Amir Piliang (2004)

 

Adalah Yasraf Amir Piliang saya kira orang yang paling dapat dikatakan sebagai juru bicara posmodernisme di Indonesia, terutama dalam mengartikulasikan konsepsi teoritis Jean Baudrillard –walaupun dalam salah satu ulasannya di Dunia yang Dilipat , Yasraf menyatakan bahwa Baudrillard tidak termasuk pemikir posmo- konsepsi semiotik-hipersemiotik, dan lainnya. Satu bukunya yang menukik pada kedalaman permenungan filosofis atas realitas kebudayaan kontemporer adalah Posrealitas: Relitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika, terbitan Jalasutra, Yogyakarta, 2004. Buku tersebut dibagi menjadi empat bagian besar, bagian I membincangkan pososial, bagian II tentang poshororisme, bagian III posdemokrasi, dan bagian IV posmoralitas. Dalam analisis buku ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk membahas semua isi buku ini, namun hanya pada beberapa bagian dari buku saja, terutama pada beberapa istilah kunci dn yang relatif relevan dengan peristiwa kekinian. Buku-buku Yasraf memang sangat padat hingga tidak mudah disarikan substansinya, karena tiap paragraf seakan sudah merupakan substansi itu sendiri, yang masih dapat lebih dijabarkan berlembar-lembar lagi.

Yasraf menyatakan bahwa telah terjadi perubahan besar pada awal milenium ketiga, yaitu terbentuknya sebuah dunia baru sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, yang di dalamnya tercipta berbagai definisi dan pemahaman baru mengenai apa yang disebut realitas. Nah, dalam realitas baru tersebut, tanda tidak lagi merefleksikan realitas, representasi tidak lagi berkaitan dengan kebenaran, informasi tidak lagi mengandung objektivitas pengetahuan. Dunia baru tersebut, sebaliknya adalah dunia yang dibangun oleh berbagai bentuk distorsi realitas, permainan bebas tanda, penyimpangan makna, dan kesemuan makna. Realitas baru itulah yang pada dasarnya lebih tepat dikatakan sebagai kondisi posrealitas (post-reality). Kondisi posrealitas adalah sebuah kondisi, yang di dalamnya prinsip-prinsip realitas itu sendiri telah dilampaui, atau diambil alih oleh penggantinya, yang diciptakan secara artifisial via ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, yang telah menghancurkan asumsi-asumsi konvensional tentang apa yang disebut sebagai yang nyata (the real).

Sementara itu posmetafisika merupakan penjelasan dari proses akhir dari metafisika, yang di dalamnya inheren dengan pengertian posrealitas, dalam pengertian akhir dari realitas sebagai konsekuensi berakhirnya metafisika. Yasraf menyatakan bahwa konsep berakhirnya metafisika tak dapat dilepaskan dari Heidegger yang memang telah memproklamasikan matinya metafisika. Namun, matinya metafisika bukan sama sekali mati, melainkan telah sampai pada energi paling akhir. Dalam relasinya dengan dunia realitas bentukannya, posrealitas adalah kondisi ketika dunia realitas dan potret dunia yang dibentuk berdasarkan klaim-klaim kebenaran metafisika telah mengalami kemunduran, yang membuka peluang bagi terbentuknya realitas-realitas baru, berdasarkan potret baru dunia, yang dibentuk di atas klaim posmetafisika. Akhir dunia metafiska, menurut Heidegger, dimulai ketika klaim ontologi yang menjadi fondasi dunia realitas mengalami kemerosotan. Di dalam kemerosotan itu, dunia realitas tidak lagi menggantungkan pembentukan dirinya pada mode-model kebenaran metafisis tersebut, yaitu pada logos, oidos, substansi, esensi, Tuhan. Meskipun demikian, pembangunan yang nyata (eksis) tidak diserahkan sepenuhnya pada hasrat atau kehendak, sebagaimana yang disarankan Nietszche dan para pendukung post-strukturalisnya, melainkan pada apa yang disebut Heidegger sebagai Yang Ada (Being), yang ditafsirkan dengan tafsiran baru.

Posrealitas ini juga didefinisikan sebagai semacam pembalikan dunia realitas Platonisme, yaitu dengan memandang dunia penampakan (appearance) yang bersifat mengindra (sensous) sebagai dunia realitas sejati (true reality); sementara dunia oidos yang bersifat melampaui indra (suprasensous) sebagai realitas palsu. Akan tetapi, sebagaimana diperlihatkan oleh Deleuze, Guattari, Lyotard, Foucault, dan Baudrillard, fondasi dari dunia penampakan itu telah beralih pada hasrat dan kehendak (kekuasaan), yang menggiring dunia realitas ke dalam apa yang dikatakan Heidegger sebelum ini sebagai dunia yang dikuasai oleh ontologi citraan atau abad potret dunia, disebabkan logika di balik citraan itu sendiri adalah logika hasrat dan logika kehendak –sebuah dunia realitas yang tentunya tidak seperti yang dibayangkan Heidegger sendiri. Dalam hal ini Heidegger melihat berakhirnya metafisika sebagai permulaan kebangkitan kembali metafisika dalam wujud barunya, wujud ini mengarah pada metafisika yang sesungguhnya, yang menghasilkan pengetahuan yang baru. Menurut Flynn, kencenderungan posmetafisika dalam pengertian kebangkitan ini tampak pada pemikir seperti Marx, Habermas, Foucault, dan mungkin juga Derrida. Foucault misalnya, menyatakan bahwa beroperasinya metafisikan bukan dalam pengertian bahwa ia menembus penampakan untuk sampai pada supersensibel, melainkan sebaliknya, bahwa konsep kekuasaan itu diklaim dapat menembus ke balik dunia penampakan sampai pada kondisi eksistensinya yang nyata (tubuh nyata). Artinya, di balik sebuah tubuh yang nyata beroperasi sebuah kekuasaan tak tampak (yang dengan sendirinya bersifat metafisis).

Dalam hal ini Yasraf menyatakan bahwa Arendt, Marleau Ponty, dan Lefort, mungkin juga Deleuze, Guattari, Lyotard, Baudrillard, dan Rorty dapat dikatakan berada pada kategori mereka yang mendukung matinya metafisika (death of metaphysics). Rorty misalnya menyatakan penolakannya yang eksplisit terhadap segala sesuatu yang disebut sebagai fondasi (anti-fondational), termasuk metafisika sebagai penjelajahan terhadap fondasi kebenaran dari realitas. Lewat filsafat pragmatisme, ia mengembangkan sebuah kecenderungan pemikiran yang antimetafisika. Banyak label yang diberikan untuk menjelaskan kecenderungan antimetafisika ini, di antaranya adalah pragmatisme, eksistensialisme, dekonstruktivisme, holisme, filsafat proses, postrukturalisme, posmodernisme, Wittgensteinianisme, antirealisme, dan hermeneutika. Sedangkan bagi Baudrillard, era matinya metafisika sekarang ini menjadikan kita berada dalam era posrealitas, yaitu era simulasi realitas (simulation). Di sinilah Baudrillard mengungkapkan tentang patafisika, yakni versi tak lazim dari metafisika, yang di dalamnya, baik yang metafisis (Tuhan, Kesadaran, Kebajikan, Spirit) maupun yang nonmetafisis (mimpi, ilusi, halusinasi), diobjektivikasikan dalam pengertiannya yang khusus, yaitu mentransformasikan sifat ketidakberwujudannya (immaterial) ke dalam wujud-wujud faktual (meskipun belum tentu real), yaitu ke dalam ontologi cintra itu sendiri.

Dalam kondisi melampaui realitas (hyper/past-reality) inilah juga terdapat berbagai fenomena pelampauan lainnya, antara lain adalah pososial (post-social), yaitu ruang sosial yang di dalamnya berbagai prinsip, model, atau bentuk, aktivitas sosial telah melampaui prinsip, model dan bentuk aktivitas-aktivitas yang natural, yang kini diambil alih oleh wujud artifisial dan virtualnya. Relasi dari komunikasi sosial tatap muka (face to face communication) digantikan oleh bentuk-bentuk komunikasi yang dimediasi oleh media seperti handphone, internet, dan lainnya, yang pada akhirnya menciptakan masyarakat informasi global (global information society), di dalamnya setiap relasi sosial berlangsung secara artifisial, mengambil alih relasi sosial yang natural. Realitas inilah yang menciptakan komunitas virtual (virtual community) yang juga merupakan komunitas imajiner (imagined community). Di dalam komunitas imajiner inilah terjadi simulakra sosial yang merupakan duplikasi sosial di dunia nyata, akan tetapi dalam wujudnya yang menyimpang dan terdistorsi, yang di dalamnya berlangsung berbagai bentuk reduksionisme, penyederhanaan, generalisasi, dan manipulasi sosial. Realitas sosial yang melampaui (post-social) ini tidak dapat lagi dinilai berdasarkan logika (rasionalitas, moralitas) yang ada dalam konteks realitas sosial yang sesungguhnya, melainkan berdasarkan logika simulasi media, dengan berbagai trik, strategi, dan manipulasi teknologisnya.

Dalam konteks ekonomi terjadi apa yang dinamakan sebagai posekonomi. Fenomena sosial, ekonomi, dan kebudayaan ditandai oleh berbagai peningkatan tempot kehidupan, sebagai akibat dari meningkatnya kecepatan dalam berbagai bidang produksi, konsumsi, tontonan, dan hiburan. Internet dan terutama televisi telah menjelma menjadi kotak jiwa, yang melaluinya manusia abad ke-21 mengisi kehampaan spirtiualnya dengan jutaan citraan semu, rayuan palsu (iklan), televisi menjadi fantasmagoria, yaitu ruang di mana citraan muncul dan menghilang dengan kecepatan tinggi, yang merayu manusia untuk memasuki jaringan ekstasi kecepatan dan kegilaan serta histeria gaya hidup yang diciptakannya. Mal atau hipermarket telah menjelma menjadi agen difusi, ruang kelas, ia tak lagi sekadar tempat transaksi barang dan jasa, tetapi merupakan cermin dari sebuah masyarakat. Tubuh juga menjadi pusat kebudayaan abad ke-21, ia menjadi titik sentral dari mesin produksi, promosi, distribusi, dan konsumsi kapitalisme. Tubuh juga dijadikan sebagai metakomoditi, yaitu komoditi untuk menjual komoditi lain, lewat peran sentralnya dalam sistem promosi kapitalisme tubuh. Di samping itu, ruang sosial global selalu dihuni ole segala macam pergerakan deteritorialisasi yang beroperasi dalam kecepatan tinggi, yaitu pergerakan kapital, industri, gaya dari satu teritorial ke teritorial berikutnya tanpa henti. Pergerakan itu dipengaruhi oleh pergerakan mesin hasrat tanpa henti, hasrat itu sendiri tak lain adalah semacam arus yang selalu bergerak mencari kesenangan baru, kegairahan baru, identitas baru, kenyamanan baru.

Dalam konteks demokratisasi, Yasraf mengungkapkan femonena posdemokrasi, yaitu ketika demokrasi telah terputus sama sekali dengan realitas demokrasi yang sesungguhnya, yaitu demokrasi yang melampaui atau berlangsung hanya pada tingkat citra, akan tetapi terputus dari prinsip demokrasi itu sendiri. Pertama, demokrasi pada tingkat citra menjadikan simulakrum demokrasi (simulacrum of democracy), adalah demokrasi yang menampakkan dirinya pada tingkat citra seakan-akan sebagai kopi (copy) atau ikon (icon) demokrasi, padahal citra tersebut merupakan deviasi, distorsi, bahkan terputus dari realitas yang sesungguhnya. Kedua, posdemokrasi sebagai kondisi tumpang tindihnya prinsip demokrasi dengan prinsip-prinsip lain, seperti anarkisme dan kebebasan mutlak, baik pada tingkat citra maupun tingkat realitas. Konsep-konsep yang membangun demokrasi itu sendiri seperti pluralisme, persamaan, hak asasi manusia, kebebasan berkumpul, bersuara, berserikat, telah berkembang ke titik ekstrimnya, melampaui prinsip-prinsip demokrasi itu sendiri.

 

Read Full Post »


Apa Kata Paul Krugman dan Bagaimana Perkembangan Selanjutnya?

Dalam artikel tentang Kondisi Ekonomi kita(Indonesia) dan Gelombang Pasang Surutnya, kami telah mencoba menguraikan tentang struktur ekonomi Indonesia dalam arti apakah relatif kelebiham modal dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja, ataukah relatif kelebihan tenaga kerja dibandingkan dengan modal yang dimilikinya? Tulisan tersebut mendasarkan diri pada teori-teori yang dapat dikelompokkan ke dalam pengenalan terhadap penyebab krisis ekonomi yang dikaitkan dengan struktur perekonomian dalam arti relatif kekurangan modal atau relatif kekurangan tenaga kerja.

Seperti dapat dibaca kembali, dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa dalam ekonomi suatu bangsa yang strukturnya relatif kelebihan tenaga kerja, pada umumnya krisis disebabkan oleh overinvestment, sehingga penanggulangannya hanya bisa dilakukan selama hausse atau boom sedang berlangsung. Harus ada pengenalan bahwa ekonomi memanas dan terjadi ketegangan dalam wujud investasi yang jauh lebih besar daripada tabungannya. Kalau krisis sudah terjadi sudah terlambat. Mereka hanya dapat menyaksikannya dengan penuh penderitaan. Paling-paling dapat menggunakan kesempatan selama resesi berlangsung untuk lebih memantapkan diri dalam organisasi ekonominya.

Sebaliknya, negara bangsa yang struktur ekonominya bercirikan relatif kelebihan modal, krisis disebabkan oleh underconsumption. Maka kalau krisis terjadi yang diikuti dengan resesi atau bahkan depresi, konsumsi dan investasi digenjot, yang dinamakan prime pumping. Pendeknya resepnya John Maynard Keynes yang paling tepat.

Saya pernah sangat heran mengapa tidak ada ekonom, terutama di Indonesia yang berbicara tentang teori business cycle dalam menjelaskan resesi ekonomi, dan dari pikiran itu menemukan terapinya yang tepat. Apakah teori-teori business cycle atau conjunctuur sudah mati, sudah kuno, sudah ketinggalan zaman? Dalam bukunya Paul Krugman terakhir yang berjudul “The Return of Depression Economics and The Crisis of 2008”, dia mengatakan memang banyak sekali ekonom terkemuka yang mempunyai anggapan bahwa teori-teori tentang business cycle sudah tidak terlampau relevan lagi, karena mereka merasa bahwa pengetahuan ilmu ekonomi sudah maju, sehingga kita tidak perlu risau terhadap gejolak business cycle.

Krugman sendiri tidak berpendapat demikian. Dia masih percaya bahwa gelombang pasang surutnya ekonomi masih berlaku sepenuhnya. Dia mengemukakan contoh-contohnya, yaitu Amerika Latin di tahun 1980-an, Jepang di tahun 1990, krisis di Asia, termasuk Indonesia yang dimulai di tahun 1997. Namun dia beranggapan bahwa resesi dan depresi selalu bisa ditanggulangi atau diperlunak.

Mari kita kutip pendapatnya tentang business cycle di halaman 9 dari bukunya tersebut sebagai berikut:

“Di tahun 2003, pemenang hadiah Nobel Robert Lucas mengatakan kepada rapat tahunan dari American Economic Association. Lucas tidak mengatakan bahwa business cycle sudah tidak ada. Dia mengatakan bahwa business cycle sudah bisa dijinakkan, sehingga kita tidak perlu khawatir lagi. Maka fokus kita lebih baik diarahkan pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ben Bernanke (yang sekarang Gubernur Bank Sentral AS) di tahun 2004 mengatakan bahwa kebijakan ekonomi makro telah berhasil mengendalikan business cycle, sehingga pencuatannya hanya merupakan gangguan kecil saja, bukan isu utama.

Krugman berkomentar bahwa krisis-krisis belakangan ini sangat mirip dengan depresi tahun 1930, sehingga pernyataan-pernyataan yang optimistik seperi yang dikemukakan oleh Robert Lucas dan Ben Bernanke terasa sangat picik.

Toh Krugamn tidak terlampau pesimistik tentang prospek akan dapat ditanggulanginya krisis dan resesi yang sedang berlangsung. Dia tidak menjelaskan mengapa. Saya sendiri menduga keras bahwa dalam zaman globalisasi ini faktor produksi yang paling mobile adalah uang atau modal. Maka tidak ada kekurangan modal relatif dibandingkan dengan tenaga kerja atau kekurangan tenaga kerja relatif dibandingkan dengan modal yang sifatnya struktural.

Yang ada ialah dalam satu negara dan dalam kurun waktu tertentu investasi lebih besar dibandingkan modal yang tersedia untuk kredit investasi, baik yang domestik maupun asing, bukan tabungan nasional oleh rakyatnya sendiri. Perbandingan inilah yang menandai ekonomi dalam kondisi hausse atau baisse.

Maka kalau semua negara mengalami kelangkaan modal seperti sekarang ini, kita saksikan terjadinya resesi di mana-mana. Sebabnya bukan terbatasnya modal, tetapi karena modal yang ada disimpan atau terjadi hoarding besar-besaran. Seperti kita ketahui, bank yang memberi kredit berarti menciptakan uang giral dan ketika kredit dikembalikan terjadi pemusnahan uang. Maka kita membaca bahwa di mana-mana sedang terjadi pengetatan likuiditas atau liquidity squeeze atau credit squeeze.

Bagaimana prospeknya? Buat kami sangat sulit ditebak. Bahwa resesi atau bahkan depresi seperti apapun hebatnya akan teratasi adalah soal waktu. Bukan hanya kali ini saja dunia mengalami resesi yang diperkirakan akan menjurus pada depresi.

Yang menjadi tantangan buat para pemimpin dunia bukannya itu, tetapi apakah depresi hebat dapat dihindarkan. Para pemimpin negara-negara maju dan kaya nampaknya sudah sepakat akan memompakan uang seperlunya untuk tujuan itu, berapapun jumlahnya. Mereka tidak lagi berbicara dalam hitungan ratusan milyar dollar AS, tetapi trilyunan. Proses menuju pada kesepakatan secara all out menghindarkan diri dari depresi hebat sudah tampak yang akan melibatkan jumlah pemompaan daya beli senilai 4 sampai 5 trilyun dollar AS, yang terutama akan dipompakan oleh pemerintah-pemerintah Amerika Serikat, Eropa dan China.

Bahwa gelombang pasang surutnya ekonomi atau business cycle atau conjunctuur melekat pada sistem mekanisme pasar rasanya tidak terbantahkan. Tetapi hal baru yang sangat menarik adalah keterkaitan antara satu negara dengan negara lainnya, serta sudah sangat banyaknya uang yang terakumulasi dari kemajuan teknologi dan ekonomi yang menciptakan nilai tambah dalam jumlah yang sangat besar.

Tidak terbayangkan bahwa China mempunyai uang dalam bentuk valuta asing sekitar 2 trilyun dollar AS tanpa Taiwan dan Macau, dan mungkin juga tanpa Hong Kong. Sekitar 1 trilyun dollar sudah tertanam dalam US treasury bonds. Seperti yang diberitakan oleh media massa, pemerintah China sedang memikirkan strategi apa yang akan mereka tempuh. Membantu AS atau mengembangkan ekonominya dengan cara memompakan daya beli kepada rakyatnya. Mereka mempertimbangkan memompakan daya beli kepada AS bukan karena cinta, tetapi karena kemakmuran China bagian terbesarnya karena ekspor ke AS dan UE yang sekarang drastis berkurang dan entah sampai kapan akan menyusut terus.

Memompakan daya beli kepada rakyatnya yang berjumlah 1,3 milyar manusia dengan maksud memberantas kemiskinan mempunyai dampak sampingan yang luar biasa besarnya dalam bidang mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Rakyat miskin yang dinaikkan pendapatannya dengan sendirinya akan membelanjakan pendapatan yang diperolehnya. Ini mendongkrak permintaan akan barang dan jasa, yang pada gilirannya akan mendongkrak produksi dan menggairahkan industri, perusahaan dagang dan jasa. Kecuali bahwa Investasi mempunyai dampak ganda yang bernama multiplier dan konsumsi mempunyai daya dongkrak yang bernama akselerasi, semua komponen yang mempunyai daya untuk menggerakkan ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi bekerja sepenuhnya, terutama China yang telah membuktikan mempunyai kemampuan besar dalam ekspor neto. Maka dalam persamaan Y = C + I + G + (X – M), semuanya bekerja. C atau Konsumsi digerakkan melalui pemompaan daya beli kepada bagian terbesar dari rakyatnya yang miskin tetapi sangat besar jumlahnya. Untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya yang meningkat disamping memenuhi kebutuhan dunia, perusahaan-perusahaan baru harus didirikan dan perusahaan-perusahaan lama diperluas, yang berarti bahwa I atau Investasi akan meningkat yang melipat gandakan pertumbuhan melalui apa yang dinamakan multiplier effect. Pemerintahnya yang masih menguasai bagian terbesar dari perusahaan-perusahaan akan lebih-lebih lagi mempunyai kemampuan untuk membangun infrastruktur. Ini berarti G atau Government Spending meningkat. Tentang ekspor neto kita tidak perlu berbicara, karena kemampuannya sudah dibuktikan yang membuat China mempunyai cadangan devisa sekitar 2 trilyun dollar AS.

Melihat ini semua kita tidak perlu terlampau pesimistik menghadapi resesi ekonomi dunia. Dalam angka-angka memang lebih dahsyat dibandingkan dengan the great depression tahun 1930, tetapi kemampuan negara-negara dan bangsa-bangsa maju juga sudah luar biasa. Mereka juga sudah mengakumulasi daya beli yang luar biasa besarnya untuk melakukan yang dinamakan prime pumping guna mewujudkan jump start perekonomian negara-negara maju, betapapun hebatnya depresi moral dan psikologi yang menurut keyakinan saya memegang peran demikian besarnya dalam resesi yang sedang kita alami.

Itulah sebabnya dalam waktu yang begitu singkat orang sudah tidak terkejut lagi dan sudah terbiasa berbicara tentang trilyunan dollar AS yang dibutuhkan, sedangkan baru sekitar dua bulan yang lalu semua orang dikejutkan oleh permintaan dana sebesar 700 milyar dollar AS oleh Menteri Keuangan Henry Paulson.

Maka rasanya sudah terlihat a light at the end of the tunnel, karena negara-negara paling kaya sudah sepakat bertindak bersama-sama dengan kekuatan keuangannya yang luar biasa. Kecuali itu, pemerintah AS masih mempunyai kekuatan mencetak uang dollar AS yang akan diserap oleh seluruh dunia, karena kurang lebihnya sudah mentradisi menjadi standard dari mata uang seluruh dunia.

Bagaimana Indonesia?

Dengan sejujurnya saya tidak tahu dan tidak mempunyai gambaran sedikitpun tentang apa yang akan terjadi. Sebabnya karena pemerintah praktis tidak memberikan signal, apalagi gagasan dan rencana kerja yang jelas dan konkret.

Tadi telah dikatakan bahwa Indonesia yang strukturnya relatif kelebihan tenaga kerja, tetapi karena pengaruh globalisasi bisa saja mendapat dana dari luar negeri, yang membuat ketimpangan ini mengecil sedikit.

Tetapi modal asing yang masuk dan berupa investasi riil atau FDI sedikit. Bagian terbesarnya ditanam dalam saham-saham atau deposito yang cepat lari kembali, dan itu sudah terjadi. Maka IHSG kita menurun terus sebelum krisis keuangan di AS meledak, dan nilai rupiah juga merosot dengan 20% dalam waktu sangat singkat.

Maka untuk Indonesia yang berlaku tetap saja sebuah struktur yang relatif kekurangan modal dibandingkan tenaga kerjanya, walaupun Indonesia sangat terbuka dalam lalu lintas modal global. Tidak ada negara lain yang berkepentingan ekonomi Indonesia maju atau tidak. Maka tidak ada yang peduli terhadap Indonesia. Para pemimpin kita telah membuat bangsanya sendiri tidak relevan dalam globalisasi.

Sekarang sudah sangat jelas gambarannya bahwa perekonomian Indonesia kembali pada zaman kolonial, yaitu tempat untuk mengeduk kekayaan mineral dan kekayaan laut serta tempat untuk menanam komoditi perkebunan besar dengan nilai tambah untuk bangsa Indonesia yang sangat kecil. Indonesia juga sudah lama menjadi pasar barang-barang industri dari mancanegara dengan nilai tambah yang tinggi buat mereka yang diraih dari konsumen Indonesia.

Terjadilah hal yang sangat konyol. Tim Ekonomi menggebu-gebu mempropagandakan diri sangat terbuka terhadap modal asing, sangat liberal, tidak mau regulasi terlalu banyak, karena penganut Washington Consensus, merugikan negaranya sendiri sampai ratusan trilyun rupiah karena mengikuti secara membabi-buta dan nurut apa saja yang diperintahkan oleh IMF. Tetapi ketika ikut terkena dampak negatif dari globalisasi, liberalisasi, mekanisme pasar dengan pengaturan paling minimal dan sebagainya itu, tidak dianggap sama sekali oleh tuan-tuan yang memerintahnya.

Jadi apa yang harus dilakukan? Berpikir dan bersikaplah mandiri dan kreatif, berpikirlah secara lateral tanpa berdogma dan berdoktrin. Sudah terbukti bahwa para majikan dan ndoro-ndoro asingnya Tim Ekonomi seperti IMF dan Bank Dunia tidak berdaya dan juga tidak relevan lagi untuk mengatasi masalah-masalah keuangan dunia. Kekuatan modal mereka dibandingkan dengan yang ditipu oleh Bernard Madoff saja tidak ada artinya, apalagi dibandingkan dengan sekitar US$ 4 trilyun yang sedang disiapkan oleh AS, EU, China dan mungkin negara-negara Arab?

Karena tidak pernah terlatih secara mandiri, pikirannya tentang bagaimana menghadapi krisis ini ya sangat lucu. Mari kita telaah.

Tim Ekonomi akan memompa daya beli dengan cara mempercepat penggunaan APBN yang tidak mampu diserap oleh aparat birokrasi, sehingga tersisa sekitar Rp 60 trilyun. Ini kan bukan prime pumping? Ketika tidak mampu membelanjakan, sifatnya sudah kontraktif, sehingga ketika digenjot hanya mengkoreksi kesalahan, bukan prime pumping yang bisa membuat jump start.

Terus ingin memberi insentif pajak buat pengusaha. Pengusaha sedang menghadapi kemerosotan permintaan. Omsetnya turun, bukan beban pajaknya yang tinggi.

Yang ada pengaruhnya harga BBM yang justru tidak diturunkan secara signifikan, walaupun harga minyak mentah internasional sudah turun menjadi sangat rendah. Masih dalam bidang harga BBM, kebijakannya didasarkan atas persepsi yang salah sama sekali, mengandung penyesatan kepada rakyat seperti yang telah berkali-kali saya jelaskan sampai bosan. Sekarang lebih aneh lagi. Harga minyak mentah internasional yang diacu bagaikan agama turun drastis, harga BBM tidak diturunkan secara proporsional. Dalam kondisi sulit masih saja berbohong, mencla-mencle dengan perbuatan yang tidak konsisten dengan jalan pikirannya sendiri.

Lantas apa yang bisa dilakukan? Tidak banyak karena memang tidak ada kemampuan dana besar dan juga tidak ada kemampuan berpikir inovatif, kreatif dan mandiri. Rakyat tidak merasakan ada pemerintah atau tidak ada, karena pemerintahnya sendiri yang membuat dirinya tidak relevan dalam bidang ekonomi dengan dalih the best government is the least government. Bank Dunia dan IMF yang selalu menjadi acuan hanya bisa memberikan utangan lagi sekedarnya. Mereka sendiri sama sekali sudah tidak dianggap oleh negara-negara yang menentukan jalannya roda ekonomi dunia.

Paul Krugman tentang peran IMF di Indonesia

Apa kata Krugman tentang peran IMF di Indonesia dalam krisis tahun 1997? Dalam bukunya yang terbaru tersebut, di halaman 115 dan 116 Krugman berkomentar tentang kebijakan IMF di Indonesia sebagai berikut:

“Banyak orang mengatakan bahwa IMF dan Departemen Keuangan AS yang de facto mendikte IMF yang menyebabkan terjadinya krisis di Indonesia, atau mereka sangat salah (mishandled) menanganinya, sehingga krisisnya menjadi semakin parah.

Marilah kita mulai dengan yang paling mudah. Dalam dua hal IMF jelas melakukan blunder.

Pertama, ketika IMF diundang membantu Thailand, Indonesia dan Korea, mereka segera saja menuntut pengencangan ikat pinggang, bahwa negara-negara ini harus menaikkan pajak, mengurangi pengeluaran untuk menghindarkan diri dari defisit anggaran yang besar. Sangat sulit dimengerti mengapa kebijakan seperti ini yang menjadi programnya IMF di tiga negara tersebut, karena tidak ada seorangpun kecuali IMF (KKG : dan para kroninya di Indonesia) yang menganggap defisit anggaran sebagai masalah. Dan ternyata kebijakan IMF itu mempunyai dua dampak negatif. Yang pertama, resesi diperparah karena permintaan merosot. Kedua, segala sesuatunya menjadi lepas kendali sehingga terjadi kepanikan.

Kedua, IMF menuntut reformasi struktural (structural reform) yang melampaui batas-batas bidang moneter dan fiskal sebagai persyaratan memperoleh pinjaman dari IMF. Penutupan bank-bank tidak relevan untuk menanggulangi krisis. Yang lainnya, seperti menuntut pemerintah Indonesia menghapus pemberian monopoli oleh Presiden Soeharto kepada para kroninya tidak ada hubungannya dengan mandat dan wewenang IMF. Memberikan monopoli cengkeh kepada dua pengusaha saja memang hal yang buruk. Tetapi apa hubungannya dengan ketidak percayaan terhadap rupiah yang membuat nilai tukarnya anjlok?”

Para pembaca, ini kata-katanya Paul Krugman, bukan kata-kata saya. Banyak ekonom mengatakan hal yang sama di tahun 1997 sampai tahun 2000, tetapi mereka dianggap dungu dan goblok oleh para ekonom yang memegang kendali kebijakan ekonomi sampai hari ini. Bagaimana pendapat mereka sekarang terhadap Paul Krugman yang baru saja memenangkan hadiah Nobel?

Tim Ekonomi Tidak Perlu Cemas

Kembali tentang resesi yang sedang berlangsung, Tim Ekonomi tidak perlu terlampau cemas, karena nampaknya, dampak krisis dan resesi dunia tidak terlampau besar buat bagian terbesar rakyat Indonesia yang miskin. Mereka selalu hidup tanpa adanya keterkaitan dengan sektor modern di dalam negerinya sendiri (ekonomi dualistik), apalagi dengan dunia. Dunia mau hausse dan boom hebat-hebatan, mereka tetap miskin, dunia mau depresi hebat mereka juga tetap miskin. Mereka tidak lagi dijajah dan dihisap oleh kekuatan asing, tetapi oleh kekuatan elit bangsanya sendiri. Mereka sudah kekurangan gizi, tidak berpendidikan dan tidak sehat, sehingga menerima kemiskinan, kelaparan dan kematian dengan tenang tanpa protes.

Itulah sebabnya elit kita, termasuk pemerintahnya cukup tenang dan terkesan tidak peduli pada nasib dari bagian terbesar rakyatnya yang sangat miskin. Banyak yang mengatakan kepada yang prihatin: bukankah jalanan macet dengan kendaraan mewah? Bukankah ada Grand Indonesia yang bisa dipasangi gambar besar dengan Presiden dan para menteri yang sedang memakmurkan rakyatnya (walaupun hanya dalam gambar saja)? Bukankah ada berbagai city ini dan city itu yang merupakan kota-kota kecil mandiri super baru dan super mewah di Jakarta? Bukankah di setiap sudut kota ada mall dengan barang-barang bermerk yang sangat mahal? Masa bodoh siapa yang membiayai. Masa bodoh laku dijual atau tidak, masa bodoh bank-bank BUMN yang membiayainya menyembunyikan kesulitannya memperoleh pembayaran kembali cicilan utang pokok dan bunganya, sampai nanti bank-bank ini meledak lagi. Kalau itu terjadi, Uncle Sam dan IMF toh akan datang melindunginya lagi, selama kebijakan ekonomi berada di tangan para kroninya. Kalau ini yang ada dalam benak pemerintah, terutama Tim Ekonominya, kami hanya mohon satu hal: be realistic.

Oleh Kwik Kian Gie

Read Full Post »


Kondisi Ekonomi kita dan Gelombang Pasang Surutnya

Dalam sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia, kita selalu mengalami gelombang pasang surutnya pertumbuhan ekonomi beserta indikator-indikatornya seperti kesempatan kerja, investasi, tabungan, tingkat suku bunga, besarnya anggaran negara.

Ekonomi tidak bisa tumbuh terus tanpa batas. Kehidupannya selalu ditandai oleh fluktuasi dengan periode meningkatnya kegiatan ekonomi, disusul dengan titik puncak yang sekaligus merupakan titik balik (the upper turning point). Terjadi krisis, yang disusul dengan periode menurunnya kegiatan ekonomi, atau baisse, sampai tingkat pertumbuhan dan besaran-besaran makro ekonomi lainnya mencapai titik paling rendah. Terjadilah titik balik terendah (the lower turning point), disusul dengan periode kenaikan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, atau economic boom, atau hausse lagi. Gejala pasang surutnya kegiatan ekonomi secara periodik di dalam teori ekonomi disebut business cycle atau conjunctuur.

Jadi kalau ekonomi suatu negara pada saat tertentu tiba pada titik tertinggi, yang lalu mentok dan terjadi krisis, yang disusul dengan memasuki resesi, hal itu sangat wajar. Ekonomi akan merosot terus, dan pada waktunya nanti akan dicapai titik terrendah. Bertolak dari sini, gelombangnya meningkat lagi.

Sangat jelas bahwa ekonomi kita memasuki resesi. Titik baliknya berupa krisis keuangan di Amerika Serikat dengan dampak yang telah saya kemukakan dalam artikel pertama, yaitu ekspor ke AS, Eropa dan Jepang tersendat. Modal yang tertanam dalam saham-saham di Indonesia dijual karena sedang sangat diperlukan untuk negerinya sendiri. Dampaknya IHSG anjlok. Hasil rupiahnya dibelikan dollar, nilai tukar rupiah anjlok. Dampak psikologisnya semuanya mengerem pembelian, permintaan menurun, produksi dikurangi, PHK meningkat, daya beli menurun, permintaan menurun, omset menurun, investasi dikurangi lagi dan seterusnya terjadi spiral ke bawah atau downward spiraling yang sangat kita kenali dalam resesi-resesi, apalagi depresi yang lalu.

Apakah pemerintah sebagai pengelola ekonomi negara tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan ekonomi bergelombang naik turun atas dasar mekanisme pasar? Jawabnya jelas bisa, dan bahkan harus. Kita mengenalnya dengan sebutan kebijaksanaan yang “antisiklis”. Tetapi tipologi dari krisisnya itu sendiri yang merupakan the upper turning point sangat bervariasi. Tipe titik balik tertinggi atau krisis mewarnai resesi yang dimasukinya. Pengenalannya sangat penting untuk mengetahui, apakah kita memang mempunyai instrumen-instrumennya untuk membendung arus yang tidak kita kehendaki, ataukah kita dihadapkan pada keterbatasan yang membuat semua upaya dan usaha sia-sia?

Mari kita telusuri permasalahannya.

ANALISA TIPE KRISIS DAN RESESI

Dalam tulisan ini saya mencoba mendekati resesi yang kita masuki dari segi teori dan pola business cycle. Pertama-tama ingin saya kemukakan berbagai macam teori dan pola yang ada. Lalu kita coba menempatkan tipe resesi ekonomi yang kita alami dewasa ini termasuk kedalam teori atau pola yang mana. Berdasarkan pengenalan dan analisa mengenai teori dan pola yang kira-kira berlaku untuk Indonesia, kita bisa mencoba mendeteksi, terapi apa yang sebaiknya kita terapkan.

Semua teori sepakat mengenai gambaran dari periode meningkatnya kegiatan ekonomi, hausse, atau gelombang pasang, dan menurunnya kegiatan ekonomi, baisse atau gelombang surut. Dalam periode gelombang pasang, investasi selalu lebih besar daripada tabungan yang dapat dibentuk oleh pendapatan nasional. Kekurangannya selalu dibiayai oleh penciptaan uang, antara lain melalui kredit bank. Dalam periode gelombang surut, tabungan yang terbentuk dari pendapatan nasional selalu lebih besar daripada investasi. Dalam periode ini terjadi pemusnahan uang, antara lain dengan membayar kembali kredit bank. Selisih antara investasi dan tabungan justru merupakan saluran bagi mengembang dan menciutnya arus uang, yang dalam hal ini sama dengan mengembang dan menciutnya permintaan akan barang dan jasa.

Dalam menjelaskan mengenai mengapa krisis terjadi yang merupakan titik balik dari gelombang pasang menjadi gelombang surut, teori-teori business cycle dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yang masing-masing dapat disebut sebagai kelompok dari teori-teori overinvestment dan kelompok dari teori-teori underconsumption.

KELOMPOK TEORI UNDERCONSUMPTION

Menurut kelompok teori-teori ini, cikal bakal dari krisis adalah kenaikan dari permintaan untuk barang-barang konsumsi yang tidak setimpal dengan kenaikan kapasitas produksi dari barang-barang konsumsi tersebut. Permintaan masih meningkat, tetapi naiknya tidak setimpal dengan membesarnya kapasitas produksinya. Karena permintaan tidak dapat menyerap volume produksi, tidak ada gunanya memperluas kapasitas lebih lanjut. Gairah untuk investasi berkurang. Di sini awal kirsis, karena dengan berkurangnya gairah investasi, investasi menurun, yang mengakibatkan pendapatan menurun, dengan akibat konsumsi menurun. Konsumsi menurun berarti permintaan terhadap barang-barang konsumsi menurun, sehingga gairah terhadap investasi tambah menurun lagi dan seterusnya. Terjadilah spiral ke arah menurunnya seluruh kegiatan ekonomi dan menurunnya indikator-indikator makro ekonomi. Menurut teori ini, sebab utama adalah konsumsi yang tidak bisa membengkak terus sesuai dengan pembengkakan kapasitas produksinya. Maka menurut kelompok teori ini, obatnya adalah bahwa pada waktu krisis terjadi, kita harus meningkatkan konsumsi dengan cara memompa atau menambah daya beli kepada masyarakat, kalau perlu dengan deficit spending. Sasarannya biasanya adalah pembangunan proyek-proyek prasarana oleh pemerintah. Kalau pola krisis dan resesi seperti ini, investasi proyek-proyek besar disyukuri.

Para pencetus atau penganut teori ini dengan nuansa dan variasinya masing-masing adalah Samuelson melalui teori akselerasi dan multiplier. Aftalion dengan memasukkan unsur gestation period. Hicks, Harrod dan Haberler yang melihat mentoknya unsur manusia sebagai faktor produksi, Kaldor dan Kalecki yang melihatnya dari segi psikologis, yaitu faktor kejenuhan manusia, dan Schumpeter yang menjelaskannya dari segi kurangnya inovasi untuk berinvestasi.

KELOMPOK TEORI OVERINVESTMENT

Inti dari teori-teori overinvestment adalah bahwa investasi yang selama gelombang pasang selalu memang lebih besar daripada tabungan, dilakukan dengan menggunakan kredit dari bank yang semakin lama semakin besar. Artinya, selama gelombang pasang, pembentukan modal sendiri atau equity capital tertinggal dibandingkan dengan kesempatan dan gairah investasi. Maka investasi dilakukan dengan kadar kredit dari bank yang semakin lama semakin membengkak. Kesediaan dan kemampuan bank tidak akan berkelanjutan tanpa batas. Pada suatu saat, kredit bank akan berkurang. Dengan demikian investasi akan berkurang, dan krisis dimulai. Pemikiran ini tampak jelas pada Machlup.

Antara lain Witteveen mengatakan bahwa selama kesempatan bisnis atau kesempatan untuk investasi masih ada, walaupun investasi dibiayai oleh kredit bank pada mulanya, peningkatan investasinya sendiri akan mengakibatkan kenaikan pendapatan yang berganda lewat multiplier. Pendapatan yang meningkat akan membentuk pula tabungan yang meningkat, dan tabungan ini akan cukup untuk menutup investasi yang pada mulanya dibiayai dengan kredit bank. Maka selama kita masih belum mentok pada salah satu faktor produksi, investasi bisa dilakukan terus.

Namun kelompok teori overinvestment menekankan bahwa walaupun kredit bank bisa dipakai sebagai pembiayaan investasi, yang nantinya akan ditutup dengan tabungan yang akan dibentuk, pasti akan ada faktor produksi yang menjadi kendala di dalam gelombang pasang. Faktor produksi ini menjadi rerbutan dan harganya akan naik. Maka untuk mempertahankan volume investasi, dibutuhkan lebih banyak lagi modal, karena adanya peningkatan harga pada faktor-faktor produksi yang sudah menjadi langka. Dengan demikian, kebutuhan akan pembiayaan oleh bank akan menjadi membengkak, sehingga akhirnya banknya sendiri akan tersendat dalam kemampuannya. Bilamana sumber pembiayaan bagi investasi ini tersendat, investasinya tentunya akan tersendat pula, dan dengan menurunnya investasi, krisis dimulai. Jadi yang mentok akhirnya toh berpulang pada faktor modal lagi.

Saya sendiri ingin menambahkan bahwa rentabilitas dari seluruh investasi tidak selalu lebih tinggi dari tingkat suku bunga bank. Bilamana rentabilitas investasi atau Return On Investment (ROI) lebih kecil dari tingkat suku bunga, perusahaan-perusahaan yang memakai banyak kredit akan berguguran dengan kebangkrutan, atau dipaksa menciutkan skala usahanya.

PERBEDAAN DASAR ANTARA KEDUA KELOMPOK TEORI KONJUNGTUR

Sekarang kita telaah lebih dalam, apa sebenarnya yang merupakan inti perbedaan antara kelompok teori underconsumption dan kelompok teori overinvestment? Teori overinvestment melihat bahwa cikal bakal krisis muncul selama gelombang pasang sedang berlangsung, karena kuatnya keinginan untuk investasi, sehingga akhirnya pertumbuhan investasi ini mentok pada pembiayaannya, yang selalu ditutup oleh kredit bank. Kredit bank ini ada batasnya, sehingga pada saat pembiayaan oleh bank tersendat, krisis terjadi. Oleh karena itu, kelompok teori ini berpendapat bahwa usaha menghindarkan diri dari krisis harus dilakukan selama gelombang pasang sedang berjalan. Tidak boleh ditunggu sampai krisis sudah terjadi. Bahkan banyak penganut teori ini mengatakan bahwa apabila krisis sudah terjadi, kita tidak dapat berbuat lain kecuali menyerahkan penyembuhannya pada proses alamiah yang sangat menyakitkan. Artinya, kita tidak dapat berbuat lain kecuali membiarkan resesi ekonomi sampai mencapai titik balik yang terendah, dan proses gelombang pasang dimulai lagi berdasarkan titik keseimbangan baru yang terletak pada tingkat “the lower turning point”.

Pada kelompok teori underconsumption (seperti yang kita lihat tadi), cikal bakalnya krisis adalah pertumbuhan konsumsi yang kurang sepadan dengan pertumbuhan kapasitas produksi dari barang-barang konsumsi ini. Oleh karena itu, penanganan krisis adalah dengan meningkatkan konsumsi setelah krisis terjadi.

Jadi pada teori underconsumption, krisis harus diatasi dengan meningkatkan konsumsi. Pada teori overinvestment, krisis hendaknya diperlunak dengan cara mengurangi konsumsi dan investasi, agar bisa memperbesar tabungan. Tindakannya pun harus cukup dini selama gelombang pasang masih berlangsung. Kalau sudah terlambat, tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali menjalani proses yang sangat menyakitkan.

Contoh bagi kita saat ini antara lain adalah mega proyek dalam bidang properti yang mencapai jumlah puluhan milyar US$. Berapa besar yang sudah dibangun setengah jalan? Kalau diteruskan tidak ada uangnya. Kalau dihentikan akan menjadi besi tua. Inilah antara lain yang saya artikan dengan proses yang menyakitkan.

Kita lihat dengan jelas bahwa terapi yang disajikan oleh teori underconsumption bertolak belakang dengan terapi yang disajikan oleh teori overinvestment. Baik instrumen yang dipakai maupun timing penanganannya. Maka pertanyaan yang paling krusial adalah teori manakah yang pada saat ini kira-kira berlaku bagi Indonesia? Teori underconsumption atau teori overinvestment? Sebelum menelusuri lebih dalam, kita teropong terlebih dahulu hubungan antara kedua kelompok teori ini dengan struktur ekonomi makro kita, karena teori mana yang berlaku bagi sesuatu negara dalam suatu kurun waktu tertentu, sangat banyak ditentukan oleh struktur ekonomi makronya yang berlaku dalam kurun waktu yang bersangkutan.

STRUKTUR DAN KONJUNGTUR

Dalam analisa tulisan ini yang diartikan dengan struktur adalah perbandingan antara modal dan tenaga kerja. Kegiatan ekonomi atau investasi dan produksi tidak lain adalah mengkombinasikan faktor produksi tenaga manusia dan modal untuk mengolah alam menjadi barang-barang konsumsi dan alat-alat produksi. Jarang sekali terjadi bahwa untuk jangka waktu yang cukup lama, jumlah tenaga kerja yang tersedia tepat cukup untuk dikombinasikan dengan jumlah modal yang ada.

Untuk periode yang cukup lama, modal lebih banyak daripada tenaga kerja yang tersedia. Struktur yang demikian kita namakan STRUKTUR LANGKA TENAGA KERJA. Keadaan yang sebaliknya adalah bahwa kita selalu kekurangan modal untuk dapat menciptakan lapangan kerja bagi seluruh angkatan kerja. Struktur ini kita namakan STRUKTUR LANGKA MODAL.

Witteveen berpendapat bahwa dengan struktur langka modal, yang berlaku adalah teori-teori overinvestment. Dalam kurun waktu yang ditandai oleh struktur langka tenaga kerja, yang berlaku adalah teori underconsumption. Tanpa penelahaan lebih dalam, hubungan ini memang logis. Kurang modal berarti faktor ini yang akan mentok terlebih dahulu. Jadi klop dengan overinvestment seperti yang tergambarkan tadi. Kurang tenaga manusia berarti kurang mulut yang berkonsumsi. Jadi klop dengan underconsumption.

Kita melihat bahwa pada teori underconsumption, struktur yang melandasi penyebab krisis adalah tiadanya kesempatan untuk menginvestasikan tabungan, karena faktor tenaga kerja sudah terpakai habis. Dalam struktur yang ditandai oleh langka modal, kita dihadapkan pada kecenderungan yang kuat dan terus menerus untuk melakukan investasi agar bisa memberikan lapangan kerja kepada penduduknya. Kecenderungan yang kuat ini lalu dipaksakan dengan pembiayaan-pembiayaan melalui kredit bank. Seperti telah diuraikan diatas, pembiayaan semacam ini tidak bisa berkelanjutan tanpa batas. Kredit bank akan tersendat, dan biaya-biaya investasi akan meningkat.

APA YANG BERLAKU UNTUK INDONESIA?

Tanpa penelitian lebih lanjut, rasanya bagi Indonesia, seperti halnya dengan negara-negara berkembang lainnya, struktur pada umumnya adalah langka modal. Maka yang berlaku rasanya adalah teori overinvestment.

Berdasarkan teori ini, tidak akan banyak manfaatnya untuk meningkatkan investasi terus dengan memompa atau memperbesar daya beli masyarakat, karena krisis terjadi justru disebabkan oleh overinvestment. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah sekedar supaya resesi tidak menjadi terlampau parah. Secara mental kita harus sudah siap dengan proses alamiah untuk mencapai keseimbangan baru. Yang dapat dilakukan adalah tight money policy, penjadwalan kembali proyek-proyek besar tanpa pandang bulu milik siapa proyek itu, pengendalian kredit komersial dari luar negeri. Pokoknya mengerem investasi. Dengan mengerem investasi kita memang memasuki resesi yang akan merupakan proses yang menyakitkan, tetapi tidak bisa kita hindarkan. Ini adalah biaya yang dari waktu ke waktu harus kita bayar karena kita ingin memiliki ekonomi yang tidak sentralistik dan tidak otoriter. Maka kita harus menghadapi resesi yang kita masuki sekarang ini dengan tenang dan wajar, karena gelombang ekonominya sedang surut. Kita berkonsolidasi untuk boom yang pasti akan datang setelah kita mencapai the lower turning point .

Yang perlu ditegakkan adalah konsistensi dalam pelaksanaan dan disiplin baja tanpa pilih kasih. Yang perlu dipantau dan diantisipasi adalah perubahan kondisi psikologi massa yang setiap saat mendadak bisa mencapai momentumnya, agar theory of the rational expectation yang negatif tidak terjadi. Pemerintah perlu siap dengan gebrakan-gebrakan psikologis bilamana sewaktu-waktu nanti diperlukan.

Oleh Kwik Kian Gie

 

Read Full Post »

Older Posts »