Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘ekonomi kreatif’


Selama ini sampah menjadi masalah yang krusial dalam penanganannya. Menurut catatan Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, setiap orang di Jakarta menghasilkan sampah rata-rata 2,9 liter per hari. Dengan penduduk sekitar 12 juta jiwa, termasuk para komuter, tiap hari mereka menimbun 26.945 meter kubik atau sekitar 6.000 tong sampah.

Siapa sangka, sampah yang begitu banyak bisa menjadi bisnis yang menguntungkan dan memiliki prospek bagus. Hidayat mengelola sampah dan menghasilkan kredit karbon sesuai dengan konsep clean development mechanism (CDM).

Dia memasok biomassa ke beberapa perusahaan. Semula Hidayat adalah pemasok bunga krisan di supermarket. Selain itu, sejak 1993, dia juga memproduksi mesin pencacah plastik atau pengepres sampah. Namun, sebagian besar mesin yang dijualnya ternyata hanya menjadi pajangan semata. Pembeli yang kebanyakan dari pemerintah daerah tidak mampu mengoptimalkan pengoperasiannya.

Dari sanalah akhirnya tercetus ide untuk menawarkan jasa pengelolaan sampah. Sebagai langkah awal, Hidayat menawarkan konsep waste management di lingkungan sekitar tempat tinggalnya di kawasan Jatimurni, Bekasi. Dia memasang tong sampah kosong di setiap jalan utama kampung.

Awalnya dia tidak memungut biaya sepeser pun. Namun, setelah sebulan berlalu, HIdayat memungut biaya retribusi. Untuk satu tong sampah, dia memungut biaya retribusi Rp 30.000. Satu tong sampah ini bisa dipakai bersama atau individual.

Dengan mobil pikap, pekerja Hidayat akan mengambil sampah yang ada di tong. Kalau ada yang tercecer mereka akan meninggalkan di tempat semula. “Saya ingin masyarakat menghitung banyak sampah yang mereka hasilkan setiap harinya,” tutur Hidayat.

Selain menangani sampah di wilayah Jatimurni, Hidayat juga melayani waste management di perumahan kawasan Cinere, BSD City Serpong, Cibubur, Citeureup, dan Pasar Ciroyom, Bandung. Kini Hidayat malah kewalahan melayani permintaan dari pengembang perumahan yang terpincut dengan gayanya mengelola sampah.

Meskipun begitu, Hidayat enggan mengambil semua peluang. Pasalnya, volume sampah yang masuk tempat pengolahan harus seimbang dengan kapasitas mesin pengolah agar tak terjadi penimbunan. Setiap hari Hidayat mampu mengolah 7,5 ton sampah.

Dari Sampah Keluar Emas

Setelah sampah terkumpul, mobil pikap pengumpul sampah segera meluncur ke tempat pengolahan sampah. Di sana sampah dimasukkan dalam mesin sortasi. Sampah organik dijadikan kompos, sementara anorganik mengalami proses lebih panjang, yakni melewati mesin pencacah dan pencuci.

Hasilnya, sampah plastik yang kondisinya masih bagus dijual untuk didaur ulang oleh pihak lain, sedangkan sampah yang tidak bisa diapa-apakan lagi akan dipadatkan untuk dijadikan biomassa.

Pelanggan Hidayat adalah beberapa pabrik semen, seperti PT Indocement Tunggal Prakasa, PT Holcim Indonesia, dan beberapa pabrik gula. “Banyak perusahaan yang membutuhkan biomassa karena harga BBM semakin melangit,” kata Hidayat.

Saat ini Hidayat tengah menjajaki kerja sama dengan Jepang untuk teknologi pengubah plastik menjadi solar dan pengekstraksi gas metan yang ada dalam tanah. Selain itu, Hidayat juga menggelar program penciptaan 1.000 enterpreneur sampah.

Dia mendidik calon pengusaha yang tertarik dalam bisnis ini. Dari bisnis sampahnya, Hidayat mendapatkan setidaknya Rp 225 juta per bulan. Ke depan, Hidayat berangan-angan ingin mendaftarkan perusahaannya ke lantai bursa. “Masih lama sih, mungkin sepuluh tahun lagi,” kata Hidayat.

Sumber: Kompas, Kamis, 28 Agustus 2008

Read Full Post »


Jakarta (ANTARA News) – Pemerintah segera menyusun program aksi pengembangan ekonomi kreatif yang ditargetkan bisa memberi sumbangan sekitar 7-8 persen terhadap PDB pada 2015.

“Pada Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) yang kedua nanti kami akan fokus membahas program aksi untuk mencapai target itu,” kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, potensi industri kreatif di Indonesia sangat besar mengingat kekayaan budaya yang beragam. Selama ini, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB telah mencapai 6,4 persen.

“Kontribusi ekspor produk industri kreatif selama ini telah mencapai 10 persen. Tapi itu ditambah ekspor fesyen secara keseluruhan termasuk yang diproduksi secara massal,” jelasnya.

Mendag menjelaskan pada PPBI ke-2 yang digelar pada 4-8 Juni 2008 nanti akan diluncurkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif hingga 2025.

“Secara umum kami telah diidentifikasi lima permasalahan utama yang menjadi pokok perhatian dalam rencana pengembangan industri kreatif untuk pencapaian target tahap pertama pada 2015,” ungkap Mendag.

Lebih lanjut ia menjelaskan permasalahan dalam industri kreatif adalah kurangnya jumlah dan kualitas sumber daya manusia sehingga harus dikembangkan lembaga pendidikan dan pelatihan yang bisa melahirkan pelaku industri kreatif.

Masalah kedua adalah pengembangan iklim kondusif untuk memulai dan menjalankan usaha industri kreatif yang meliputi sistem administrasi negara, kebijakan dan peraturan serta infrastruktur yang diharapkan dapat dibuat kondusif bagi perkembangan industri kreatif.

Masalah ketiga, lanjut Mendag, mengenai penghargaan terhadap pelaku industri kreatif baik secara finansial maupun nonfinansial.

Masalah lain yang teridentifikasi adalah upaya percepatan tumbuhnya teknologi informasi dan komunikasi yang terkait erat dengan pengembangan akses pasar dan inovasi dalam industri kreatif.

Ekonomi kreatif bertumpu pada 14 subsektor industri kreatif yaitu periklanan, penerbitan dan percetakan, TV dan radio, film, video dan fotografi, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, fesyen, kerajinan, pasar barang seni, permainan interaktif, layanan komputer dan piranti lunak serta penelitian dan pengembangan.

Persentase kontribusi PDBB sub sektor industri kreatif pada 2006 didominasi oleh fesyen sebesar 43,71 persen atau senilai Rp45,8 triliun, kerajinan sebesar 25,51 persen atau senilai Rp26,7 triliun, periklanan sebesar 7,93 persen atau senilai Rp8,3 triliun.

Selama 2002-2006, industri kreatif menyerap sekitar 5,4 juta pekerja dan menyumbang Rp81,5 triliun atau 9,13 persen terhadap total ekspor nasional. Selama ini sumbangan ekonomi kreatif pada PDB sebesar 6,4 persen. (*)

Sumber:
Antara COPYRIGHT © 2008

Read Full Post »