Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Parents Educations’


Seringkali kita berdecak kagum melihat kiprah dan karya orang-orang kreatif. Betapa hebatnya mereka. Terbesit di benak kita, mungkinkah setiap orang mengembangkan potensi kreatifnya sehingga meraih pencapaian-pencapaian luar biasa? Ataukah kreatifitas hanyalah milik segelintir orang tertentu saja?

Otak manusia sangat luar biasa. Dengan 100 milyar sel syaraf, otak kita bisa menggunakan sekitar 100 milyar bit informasi atau setara dengan 500 ensiklopedia. Pikiran manusia normal, bila diasah, sesungguhnya dapat bergerak dengan kecepatan lebih dari 300 mil per jam. Dalam 24 jam, manusia bisa mengembangkan 4.000 pikiran. Karena itu, banyak ungkapan yang diberikan untuk menggambarkan otak manusia, misalnya ”raksasa yang sedang tidur”, ”seperangkat mesin kompleks di jagad raya”, ”wilayah terbesar di dunia yang belum tergali”, dan ”superkomputer biologis”.

Otak manusia bahkan dapat memperbaiki dirinya sendiri. Selama Perang Dunia II, 10.000 tentara tertembak di bagian kepala sehingga otaknya mengalami kerusakan. Mereka dirawat di Inggris. Para dokter menemukan fakta bahwa manusia bisa memprogram kembali bagian sisa otak yang sehat agar bisa mengambil alih tugas bagian otak yang rusak atau hilang.MENGGALI POTENSI KREATIFITAS MANUSIA

Advertisements

Read Full Post »

Anak-Anak Karbitan


 

Oleh Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan
Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Anak-anak yang digegas
Menjadi cepat mekar
Cepat matang
Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana
orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan
yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan
pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa,
di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga
bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat
beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya.
Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung,
cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main
musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan
denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras
isi kantung orangtua …

Captive market

Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita
amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur
yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita
akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan
bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak patutan
yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidaktahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap
anak.
Di antaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan
intelektual secara dini. Akibatnva bermunculanlah anak-anak ajaib dengan
kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani
akselerasi
dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan
akademik di dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini
terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi
pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra scorang
psikiater.
Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun
usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu
mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi
berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian ? James Thurber seorang
wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak
lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan
membuat orang banyak berdecak kagum pada bcberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada
scorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana
seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen
menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif
anaknya sejak si anak masih benapa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah
memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak
berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi
dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh
mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat
sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi
Britannica. Usia 6 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York
Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya
menginjak 15 lahun la menjadi guru matematika di Michigan State
University.
Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan
kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya
juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih
anak saat ia mcnjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam
kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil
mengguncang dunia dengan penemuannya.
Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa
yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya
Einstein yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak
bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di
masa depan sangat ditentukan oleh faktor kogtutif. Otak memang memiliki
kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua
dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training”. Era
pemberdayaan otak mencapai masa keemasanmya. Setiap orangtua dan pendidik
berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super
(Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif
yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan
hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua
belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini
terjadi sekarang dimana-rnana, di Indonesia….

“Early Ripe, early Rot…!”
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1960 di
Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya
pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak
segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak
dini maka mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka
selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman
KanakKanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati
menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini
gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amcrika sudah
dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era
Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk
membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka
(tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa
yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner,
seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal
“The Process of Education” pada lahun 1960, la menyatakan bahwa kompetensi
anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan
yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika. “We begin with the hypothesis
that any subject can be taught effectively in some intellectually honest
way to any child at any stage of development”.
Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh
banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan
dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang
dan cepat busuk… early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD.
Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu
mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman
menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep
“kesiapan-readiness” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang
mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological
limitiions on learning’. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini
dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar
apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah
membuat anakanak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi “miniature orang
dewasa “.

Read Full Post »

Anakmu bukan milikmu


Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri.
Lewat engkau mereka lahir, namun tidakdari engkau
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih-sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kauberikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan.
Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu.

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah, anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangmu dengan kekuasaan-nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap

Dari Buku Sang Nabi
Kumpulan puisi karya Kahlil Gibran
Diterjemahkan oleh
Sri Kusdyantinah
cetakan pertama : 1981

Read Full Post »