Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Traditional Music’


 

Dr. J. Kunst  adalah seorang ahli etnomusikologi asal Belanda yang meneliti tentang musik tradisional di beberapa wilayah Hindia Belanda(skrg.Indonesiadi) Pantai Utara Papua dan Pegunungan Tengah bagian Utara yang dikenal dengan nama New Guinea Barat atau West Papua, dari tahun 1920-an sampai 1930-an.

Barangkali karena penelitiannya dan penemuannya serta pemarannya tentang musik etnis New Guinea inilah yang menjadikan dirinya sebagai salah seorang pelopor cabang ilmu musik yang sekarang disebut “etnomusikologi”.

Penelitian yang dilakukan oleh Kunst ini terbagi dalam beberapa episode, yakni:

 

Penelitian Pertama

Penelitian pertama kali dilakukan pada tahun 1926, ketika ia serta dalam Ekspedisi New Guinea Amerika-Belanda yang dipimpin C.C.F.M. Le Roux, seorang ahli etnografi dan topografi, yang mengajak Kunst ikut.

Penelitian ini diperlengkapi dengan 14 fonogram(sejenis alat untuk merekam suara dan lagu – untuk merekam nyanyian dan musik suling suku Takutameso atau Kauwerawet di Papua.

Kemudian yang tidak jadi direkam karena terhalang adalah musik suku Awembiak dan Dem, dua suku katai di Pegunungan van Rees di pedalaman sekitar Sungai Mamberamo. Solusinya,  Le Roux dan asistennya, Muhammad Saleh, yang hafal lagu-lagu kedua suku tadi  merekamnya untuk Kunst. Le Roux menyanyikannya sedang Saleh memainkan biola secara terpisah.

 

Penelitian kedua:

Penelitian musik etnik yang kedua yang dilakukan oleh Kunst adalah dengan melakukan penelitiang langsung pada tahun 1929 terhadap beberapa suku di utara Nieuw Guinea, yaitu, dari pesisir Waropen, pulau Yapen, dan beberapa kampung di Teluk Humboldt (Jayapura masa kini).

Dalam penelitian ini J. Kunst berhasil merekam beberapa lagu dari suku-suku pesisir di utara Nieuw Guinea secara langsung karena kelompok suku ini dihadirkan oleh tim kesenian Belanda di West New Guinea untuk mengikuti dan merayakan hari ulang tahun Perhimpunan Kesenian dan Sains Batavia yang ke-150, yang berbarengan dengan penyelenggaraan Kongres Sains Pasifik Keempat di Batavia – sekarang bernama Jakarta – tempat suatu pameran etnografik diadakan.


Penelitian Ketiga

Penelitian Kunst yang ketiga adalah dengan mengadakan suatu kunjungan resmi yang tidak berhubungan dengan musik – ke Nieuw Guinea tahun 1932. Namun demikian, ia mendapat kesempatan merekam beberapa nyanyian Papua dari penduduk Waigeo dan Sorong.

Lalu pada kesempatan ini juga, ia mendapat beberapa koleksi nyanyian suku Marind, Ye, dan Kanun-anim yang direkam oleh Pater (Romo) Verschueren, seorang misionaris Katolik asal Belanda di Merauke. Ia juga mendapat 24 koleksi  nyanyian Marind-anim yang dicatat oleh Soukotta, seorang perwira polisi asal Ambon di Merauke.

 

Penelitian Kempat:

Penelitian yang keempat atau yang terakhir yang dilakukan oleh Kunst adalah merekam musik suku-suku pegunungan di Pegunungan Tengah dan nyanyian-nyanyian penduduk pesisir di Utah(wilaya bawat kabupaten Mimika), pesisir Barat Daya New Guinea.

Penelitian ini dilalukan pada tahun 1939 ketika ia mengikuti suatu ekspedisi yang dilakukan oleh Perhimpunan Geografi Kerajaan Belanda yang dipimpin lagi oleh Le Roux untuk menelitik kondisi alam dan geografis Wes New Guinea.

 

Penerbitan Hasil Penelitian Kunst

Hasil-hasil penelitian Kunst tentang musik tradisional Papua di atas diterbitkan untuk pertama kali oleh Panitia Riset Ilmiah Hindia Belanda pada tahun 1931. kemudian penelitiannya yang ketiga diterbitkan Lembaga Tropis Kerajaan Belanda tahun 1950.

Hasil penelitian di atas, kemudian diterjemahkan ke dalam versi bahasa Inggris dan naskah aslinya diterbitkan Lembaga Kerajaan Belanda untuk Linguistik, Geografi, dan Etnologi pada tahun 1967. Judulnya, Music in New Guinea, terbitan Martinus Nijhoff di ‘s-Gravenhage (Den Haag).

 

Sebab-sebab penelitian Kunst

Dr. J. Kunst melalukan penelitian tentang musik traditional Papua-West New Guinea karena ada beberapa sebab:

(a)  para peneliti masyarakat primitif belum tahu banyak tentang musik tradisional masyarakat, mereka belum punya suatu gambaran umum tentang apa musik tradisional suku-suku terasing, membutuhkan suatu pemahaman sistematik tentang musik seluruh bangsa di dunia melalui fonografi;

(b)  musik tradisional Afrika yang sedikit sekali diteliti dan dipahami tengah terancam oleh musik modern dari kebudayaan Barat, Kalau musik tradisional itu tidak cepat diteliti dan direkam melalui fonogram, para ahli musik kuatir mereka terlambat untuk memahami apa sesungguhnya musik tradisional di dunia, termasuk dari New Guinea;

(c)   untuk mengetahui dan pengenal keberagam suku masyarakat pribumi New Guine-West Papua yang pada waktu itu dipahami oleh dunia luar sebagai suatu lapisan masyarakat dan budaya yang berbeda-beda namun tumpang-tindih;

 

Dalam melakukan penelitian terhadap musik tradisional di West New Guinea, Kunst melakukan studi perbandingan dalam bidang musik etnik untuk memahami ciri-ciri musik jenis ini. Hal ini dilakukan dengan cara: melakukan berbagai perbandingan – mencari persamaan dan memisahkan perbedaan – antara musik tradisional suatu atau beberapa suku Papua yang saling terkait menurut sejarah keturunan atau musiknya dengan musik tradisional suku-suku atau bangsa lain. Data perbandingan tidak berasal dari dirinya saja tapi juga dari ahli-ahli lain, kebanyakan bukan ahli musik etnik melainkan ahli di bidang lain, seperti etnologi (sekarang disebut antropologi-budaya), topografi, dan pemerintahan.

Dari pendekatan macam ini, dia mengemukakan berbagai ciri umum dan ciri khas musik tradisional di Papua, bahwa memang, terdapat berbagai macam perbedaan yang khas, yakni barangkali menurut penulis dapat dibagi dalam 3 ciri umum yakni: (a)musik tradisional pantai utara atau Utara New Guinea dengan tipe gembira dank eras; (b) musik tradisional pantai Selatan atau Selatan New Guinea dengan tipe melankolis; (c)sedangkan musik tradisional Pegunungan Tengah Papua  atau High land New Guinea dengan keras, gembira dan juga melankolis.

 

Dari berbagai macam sumber

Read Full Post »