Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Papua Development’ Category


Oleh Harco Kurniawan

JAKARTA – Perusahaan tambang emas dan tembaga, PT Freeport Indonesia (Freeport), akan mengucurkan kredit lunak US$ 100 juta kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua. Dana itu akan digunakan untuk membangun pabrik semen di Timika, Papua, berkapasitas 500 ribu ton.

Presiden Direktur Freeport Indonesia Armando Mahler menuturkan, proses pencairan kredit mulai dilakukan tahun ini untuk keperluan riset dan pengembangan. Selain mendukung dari sisi pembiayaan, Freeport mengirimkan tenaga ahli untuk membantu Pemprov Papua.

“Pada dasarnya pembangunan pabrik semen merupakan proyek dari Pemprov Papua. Kami hanya membantu dengan memberikan kredit dan tenaga ahli,” ujarnya kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (8/4).

Armando menerangkan, pembangunan pabrik semen terbagi menjadi beberapa tahap. Sebagai tahap awal, Pemprov Papua akan membangun infrastruktur di lokasi pabrik.

grafik bantuan

grafik bantuan

Saat ini, tegas dia, Pemprov Papua tengah membangun jalan raya yang menghubungkan Timika dan Morotali. Setelah proyek infrastruktur rampung, pemprov baru mulai membangun pabrik.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »


Saudara- saudari, pernahkah kita duduk sejenak dan kembali membuka lembaran-lembaran hidup kita di masa lampau sampai saat ini?

Jika kita membuka kaleiskop hidup kita, memang hidup hidup amat penuh warna. Ada waktu kita sukacita- ada waktu kita sedih. ada waktu kita menangis, ada waktu juga kita menangis. Kita lihat disekitar kita, ada banyak kelahiran temun hampir lebih banyak kematian yang dialami oleh orang pribumi tanah Papua, mulai dari hilangnya lahan untuk makan seperti di perusahaan-perusahaan, Penerimaan Pegawai negeri dan swasta yang tidak mengakomodir kepentingan orang pribumi, lahan untuk berburu-meramu, bertani, berternak yang mulai habis dengan program pemekaran wilayah, transpigrasi dan pertambangan sampaikan kepada minuman keras, penyakit dan serta peluru panas.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hal ini bisa terjadi seperti banjir yang tidak bisa dibendung lagi?

pasti ada banyak jawab yang kita bisa dapatkan.

namun demikian dalam tulisan ini, saya hendak  ajukan satu jawaban saja, dan menurut hemat saya, jawaban ini merupakan jawaban utama dari semua masalah yang dialami oleh orang pribumi tanah Papua, yakni “KUTUK”.

Kutuk yang sedang dan telah datang kepada orang pribumi tanah Papua saat ini, memang telah menghancurkan berbagai macam sendi orang pribumi tanah Papua sehingga orang pribumi tanah Papua sendiri telah hidup malas tahu dengan kondisi dan situasi yang sedang dialaminya.

tidak mau merenungkan kembali hidupnya, tidak mau membenahi diri. Tidak mau urus keluarga. Hidup berfoya-foya. Tuntut denda kepada sesama sampai mencakar langit.

Kutuk inilah yang membuat sehingga tidak ada masa depan yang baik lagi bagi orang pribumi tanah Papua di tanah yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.

Karena itu, inilah saatnya orang pribumi tanah Papua segera bangkit dan menghancurkan “KUTUK” ini dan gantikan dengan segara meraih “BERKAT”.

Bagaimana caranya. Silahkan klik bacaan berikut ini!Mengubah Kutuk Keluarga Menjadi Berkat Tuhan

Read Full Post »


JAKARTA – PT Freeport Indonesia (Freeport) akan menyerap semen produksi pabrik lokal di Papua. Hal itu menyusul rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua membangun basis produksi semen di daerah tersebut Presiden Direktur dan CEO Freeport Armando Mahler mengatakan, saat ini rencana Pemprov tersebut dalam tahap kajian studi dan ditargetkan segera rampung.

“Kebutuhan semen Freeport mencapai 180 ribu ton per tahun. Selama ini kami dipasok dari Semen Gresik dan Semen Cibonong. Kalau proyek itu direalisasikan, kami akan menyerap produksi semen industri lokal tersebut,” kata Armando di sela-sela pelepasan secara simbolik 2.200 artefak Indonesia ke Shanghai oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta, Rabu (24/2).

Dia menambahkan, rencana tersebut membantu pasokan semen ke Papua dari aspek harga. Pasalnya, kata dia, selama ini Papua bergantung pada pasokan semen dari industri di kawasan Indonesia Barat. “Mudah-mudahan dalam waktu singkat kajian studinya selesai. Kalau bisa langsung dibangun tahun depan, kira-kira 1,5 tahun kemudian bisa menikmati pasokan dari industri semen lokal. Yang pasti, kalau proyek itu bisa direalisasikan, harga semen di Papua bisa bersaing.

Sebab, kalau dipasok dari Indonesia Barat, ongkos logistiknya mahal,” tutur dia. Proyek tersebut, lanjut dia, diperkirakan membutuhkan dana investasi awal sekitar US$ 170-200 juta. Proyek yang direncanakan dibangun di Timika itu, ujar Armando, diprediksi berkapasitas sekitar 500 ribu ton per tahun.

Tidak Berminat

Sementara itu, Armando menegaskan, pihaknya tidak berencana membangun pabrik semen sendiri, termasuk di Papua. “Kalau untuk membangun pabrik semen sendiri, Freeport tidak berencana karena core (inti) bisnis kami adalah pertambangan. Tapi, Freeport mendukung proyek itu dengan mengerahkan tenaga ahli dan memberikan program pelatihan,” ujar Armando.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat berencana mengajak industri-industri di Papua, termasuk Freeport, membangun pabrik semen di daerah tersebut. Menurut Hidayat, jika industri di Papua membangun pabrik semen lokal, har- ga yang selama ini masih tinggi dapat ditekan. Selain itu, kata Hidayat, investasi baru tersebut dapat mempercepat pembangunan infrastruktur di Papua

Dihubungi terpisah, CEO Bosowa Group Erwin Aksa mengatakan hal senada. Menurut Erwin, membangun industri semen di Papua tergolong sulit Pasalnya, Papua masih jauh dari ketersediaan sumber energi terutama listrik. Selain itu, infrastruktur Papua belum mendukung rencana tersebut.

Erwin menjelaskan, meski Papua memiliki pasokan sumber bahan baku utama semen yakni limestone (batu gamping), rencana tersebut sulit direalisasikan. Dia menambahkan, pasar semen yang kecil juga tidak mendukung rencana tersebut

“Sebaiknya, masalah infrastruktur khususnya listrik dan pelabuhan harus dibereskan lebih dahulu. Selain itu, pasar semen di Papua kecil dan tersebar di beberapa kota. Contohnya, pabrik Semen Kupang. Karena pasarnya kecil, produksi menjadi tidak ekonomis.

Bosowa belum berminat membangun pabrik semen di Papua,” tutur Erwin saat dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu. Menurut dia, syarat menjadi pabrik yang ekonomis harus dengan kapasitas produksi sebesar 1,5 juta ton per tahun. Selain itu, kata dia, harus terletak di dekat pasar dan sumber energi batubara yang besar.

Erwin menambahkan. Bosowa melalui pabriknya di Sulawesi Selatan memasok sekitar 40% kebutuhan semen di kawasan Indonesia Timur. Menurut Erwin, kebutuhan semen di Papua mencapai 600 ribu ton per tahun, sedangkan Kupang membutuhkan 400 ribu ton semen per tahun.(eme)

Sumber: Media Indonesia, 25 Pebruari 2010

Read Full Post »


PT Freeport Indonesia akan tetap mengekspor sebanyak 70% dari konsentrat tembaga untuk proses peleburan (smelter). Saat ini, perusahaan tersebut tengah menunggu realisasi pembangunan dua pabrik peleburan tembaga yang berkapasitas 200-300 juta ton per tahun.

Dua pabrik peleburan tembaga itu, yakni PT Nusantara Smelting di Bontang dan PT Indosmelt di Makassar. “Untuk saat ini. Freeport sudah pasok (konsentrat tembaga) ke Gresik (PT Gresik Smelter) sebanyak 30% atau sekitar 300 ribu hingga 500 ribu ton per tahun,” kata Presiden Direktur CEO PT Freeport Indonesia Armando Mahler di Jakarta kemarin.

Armando menyebutkan, produksi konsentrat tembaga PT Freeport per tahun mencapai 5 ribu ton per hari. Untuk saat ini, ia belum ada rencana guna menambah lagi pasokan domestik dengan alasan kapasitas produksi Gresik Smelter sudah maksima].

Armando juga mengungkapkan, pihaknya tengah menunggu perundingan bisnis antara dua calon perusahaan peleburan tembaga baru, yaitu PT Indosmelt dan PT Nusantara Smelting. Jika dua pabrik smelter tembaga tersebut jadi dibangun, lanjutnya, Freeport akan mengkaji studi kelayakan kemungkinan kontrak pasokan konsentrat tembaga. Dengan pembangunan kedua peleburan tersebut, Armando berharap pasokan konsentrat ke dalam negeri lebih banyak.

Di sisi lain. Freeport juga akan menyerap semen lokal jika pemerintah Provinsi Papua merealisasikan proyek pembangunan pabrik semen di Timika. ” Selama ini kan dipasok dari Gresik dan Cibinong sehingga jika proyek ini terealisasi, kami akan beralih ke semen lokal,” jelas Armando.

Saat ini Pemerintah Provinsi Papua tengah menyelesaikan kajian studi pembangunan pabrik semen di Timika. Proyek itu menelan dana sebesar US$170 juta hingga US$200 juta untuk produksi tahap pertama sebanyak 500 ribu ton per tahun. Armando menambahkan, pihak Freeport turut membantu proyek tersebut dengan menyuplai tenaga ahli dan terlatih dalam pembangunan pabrik.

Sumber: Media Indonesia, 25 Pebruari 2010

Read Full Post »


Ten elementary school students from Papua’s Amungme and Kamoro tribes with low achievements in math and science have been selected to study at the Surya Institute in Tangerang, Banten.

Head of the education office’s youth and child focus division of the Amungme and Kamoro Community Development Institute (LPMAK), Abraham Timang, said the 10 were selected out of 40 students from a number of schools in Mimika regency, whose population is dominated by the two tribes.

“This is a special program that we conduct in cooperation with the Surya Institute in a bid to help improve the quality of education for children from Amungme and Kamoro tribes,” Abraham told The Jakarta Post on Thursday.

At least two former Surya students — Septinus George Saa and Anike Nelce Bowaire — have gone onto great academic success.

Septinus won a gold medal at the 12th annual physics contest the First step to a Nobel Prize in Physics competition in Warsaw in 2004 and Anike received similar recognition a year later.

Abraham said the one-year program has only been conducted since this year and is exclusively given to the two tribes as the holder of the ulayat (collective territorial) rights at mining firm PT Freeport Indonesia.

The program is eligible for second to fourth graders who had difficulties with the two school subjects.

The selected students, who left to join the program on Sunday, were between eight and 10 years of age; could actively read and write in Indonesian; knew the numbers of 1 to 10; and are among the most under-performing students in the regency.

“All the selected students have met with the criteria provided by the Surya Institute,” Abraham said.

He also said that both parents and teachers of the selected students welcome the program since many children at the regency faced problems in learning the two subjects and some even had to drop out of school.

“This is a new history in the education of our children for the Amungme and Kamoro tribes,” said Anthonius Alomang of Amungme.

He fully supported the program and hoped it would continue to create quality human resources and leaders for the tribes in the future.

Similar support was also raised by Maria Rosmini, a teacher at the state elementary school SD Inpres Nawaripi Baru.

“Their skills are actually similar to students from other regions, except they lack support from parents who have yet to understand their children’s educational needs.”

Abraham said the program would help improve the quality of education in Mimika where education facilities and good science teachers were limited.

He hoped that after completing the program, the 10 students would be able to compete with students from other parts of Indonesia.
Source: The Jakarta Post, February 12, 2010

Read Full Post »


JAKARTA. Far-distant day, investors have looked at the Provincial Government’s plan (the administration) Papua build hydropower plants. A number of private firms in foreign countries and to explore the use of generators Urumuka River in the Mimika district.

Papua Governor Barnabas Suebu says it has successfully completed a project feasibility study expected to cost around Rp 5 trillion. “There’s a company called China Hydro China was eager to work on this project,” said Barnabas according to a hearing with the House Budget Board, Thursday (11 / 2).

Barnabas optimistic that this project can be completed in 2015. That way, the electricity crisis in Papua may be decreasing. Generator that produces 300 MW of electricity can flow to the people residing in five districts around Timika, southern Papua.

In addition, the electric current generated from power plants will be sold to PT Freeport Indonesia. Freeport requires electricity supply about 200 megawatts, in order to support the mining operations in Mimika District, Timika Each year we can sell electricity Rp 2 trillion to Freeport, “said Barnabas.

That way the Papua provincial government to raise local revenue (PAD) for the years to come. Currently, Papua only produce revenue of Rp 500 billion each year. This amount is very small compared with the potential of natural resources in Papua are very abundant.

Papua provincial government revenue target deposits in 2021 reached Rp 20 trillion. Increased revenue needs, to reduce dependence on financing from Papua, the central government. Because, of the total budget for this area, black pearl, 95% contributed from the new state budget and the rest of the PAD. “We want the year 2021, 95% donated by the PAD,” please Barnabas.

This plan had the support of the House of Representatives. Members of the House Budget Board Yorris Raweyai Papua will be pushed to increase revenue by using the potential of their natural wealth. “To the people of Papua are also able to enjoy the wealth of the region,” said Golkar Party politician from Papua. Papua also is exploring the potential development of hydropower plants in Mamberamo, which is expected to produce 10 MW electricity.

Source: Kontan, 12 Pebruary 2010

Read Full Post »


JAKARTA. Jauh-jauh hari, investor sudah melirik rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua membangun pembangkit listrik tenaga air. Sejumlah perusahaan swasta dalam dan luar negeri menjajaki pembangkit yang memanfaatkan aliran Sungai Urumuka di Kabupaten Mimika itu. Gubernur Papua Barnabas Suebu mengatakan telah berhasil menuntaskan studi kelayakan proyek yang diperkirakan menelan dana Rp 5 triliun itu. “Ada perusahaan China namanya China Hydro berminat sekali untuk mengerjakan proyek ini,” ujar Barnabas sesuai rapat dengar pendapat dengan Badan Anggaran DPR, Kamis (11/2). Barnabas optimistis proyek ini dapat diselesaikan pada 2015. Dengan begitu, krisis listrik yang terjadi di Papua dapat berkurang. Pembangkit yang menghasilkan 300 MW ini dapat mengalirkan listrik untuk masyarakat yang berada di lima kabupaten sekitar Timika, Papua Selatan. Selain itu, setrum yang dihasilkan dari pembangkit listrik itu akan dijual kepada PT Freeport Indonesia. Freeport membutuhkan pasokan listrik sekitar 200 megawatt, guna mendukung operasional pertambangan di Kabupaten Mimika, Timika Tiap tahun kita bisa jual listrik Rp 2 triliun ke Freeport,” ujar Barnabas. Dengan begitu Pemprov Papua bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) untuk tahun-tahun mendatang. Saat ini, Papua hanya menghasilkan PAD sebesar Rp 500 miliar setiap tahun. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan potensi kekayaan alam di Papua yang sangat berlimpah. Pemprov Papua menargetkan setoran PAD pada 2021 mencapai Rp 20 triliun. Peningkatan PAD perlu, untuk mengurangi ketergantungan Papua terhadap pembiayaan dari pemerintah pusat. Sebab, dari total anggaran untuk daerah mutiara hitam ini, 95% disumbangkan dari APBN dan sisanya baru dari PAD. “Kami ingin di tahun 2021, 95% disumbangkan oleh PAD,” harap Barnabas. Rencana ini mendapatkan dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Anggota Badan Anggaran DPR Yorris Raweyai akan mendorong agar Papua bisa meningkatkan PAD dengan menggunakan potensi kekayaan alam mereka. “Agar masyarakat Papua juga bisa menikmati kekayaan daerahnya,” ujar politisi Partai Golkar asal Papua ini. Papua juga sedang menjajaki potensi pembangunan pembangkit listrik tenaga air di Mamberamo, yang diperkirakan dapat menghasilkan tenaga listrik 10 MW.

Sumber: Kontan, 12 Pebruary 2010

Read Full Post »

Older Posts »