Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Peran Intelektual’


Pidato Kebudayaan M. Syafi’i Maarif

Oleh Umdah El-Baroroh

Dari paparan Buya, memang kategori siapa pengkhianat dan siapa pahlawan tidak dibuat terang-benderang dalam kategori yang sederhana. Sebab mengidentifikasi siapa pengkhianat intelektual itu baginya sama sulitnya dengan memberikan definisi tentang siapa itu kaum intelektual. Ia tak memberi definisi yang jelas, memang.

Tanggal 22/11 lalu, Dewan Kesenian Jakarta menggelar hajatan tahunan berupa pidato kebudayaan. Acara yang digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, ini diawali dengan halal bihalal, dimeriahkan beberapa pentas musik, dan peluncuran buku Ismail Marzuki, “Musik, Tanah Air, dan Cinta”.

Ratusan peserta antusias hadir, antara lain untuk mendengarkan pidato tunggal mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah, Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif. Di tengah situasi berbangsa dan bernegara yang carut marut ini, petuah-petuah dari bijak bestari seperti Buya—demikian sapaan akrabnya—memang sangat dibutuhkan. Terlebih, pidato kebudayaan yang akan ia sampaikan malam itu mengangkat tema soal “Pengkhianatan Kaum Intelektual Indonesia: Perspektif Kebudayaan”. Tema itu betul-betul mengundang tanya. (more…)

Advertisements

Read Full Post »


Oleh Setyo Budiantoro

Seorang pemikir yang dipenjara hingga menjelang akhir hidupnya, Antonio Gramsci, menuliskan refleksinya tentang salah satu prasyarat setiap perubahan sosial, yaitu kebutuhan akan kelompok intelektual. Ia lalu membedakan kategori intelektual, antara “intelektual tradisional” dan “intelektual organik”.
“Intelektual tradisional” adalah mereka yang diikat oleh bahasa akademis universiter dan pendidikan tertentu, mengikuti mainstream dominan, serta terpisah dari rakyat. Sedangkan “intelektual organik” lebih khas karena kaitannya yang lebih erat dengan rakyat kebanyakan dan proyek perubahan sosial tertentu. Mereka terutama adalah anggota kelompok-kelompok progresif dalam masyarakat, yang menyusun dan menciptakan gagasan-gagasan untuk mendasari proyek perubahan.

Meminjam pemikiran Freire tentang kesadaran manusia terhadap perubahan sosial, ia membedakan antara kesadaran naif (naival consciousness) dan kesadaran kritis (critical consciousness). Kesadaran naif lebih melihat “aspek manusia” menjadi akar penyebab masalah masyarakat. (more…)

Read Full Post »


Peran intelektual dalam perancangan dan perubahan sosial telah lama menjadi bahan perdebatan, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Secara ringkas, bisa digambarkan bahwa sebagian berpendapat intelektual seharusnya “berumah di atas angin”.

Artinya tugas utamanya adalah bergelut dengan teori dalam bidang yang dipelajarinya di universitas atau lembaga-lembaga penelitian. Karena peran seperti itulah yang memang harus dimainkannya dalam proses perubahan sosial. (more…)

Read Full Post »


Oleh : Sufyant[1]

 Abstract:

 This study is a kind of discourse analyze which has “Intellectual Politic Discourse: Freedom Institute advertising study toward the increasing of BBM 2005”. The new history of Indonesia intellectual becomes the reason of the study. Intellectual who involves in advertising deals with reducing of BBM subsidize is a kind of phenomena which has social implication toward fairness and poverty. It becames a debate among them espechially domination discourse in Freedom Instituteas produsen, in the other hand as an apposition discourse.This study concerns on public political discourse. Hence social hermeneutic and historical descriptive is used to analyze the data which is brought from the textual content as this method gives a chance for writer to make interview. The next discovery is a failure of political cammunication indication among intellectual. This is based on intellectual theory by Antonio Gramsci, Harry J. Benda, Michel Foucault and Edward W. Said. the advertising had already lost its power and concern on market not only toward humanism. Furthermore, if it is read by using theory above can be concluded that intellectual can be an agent of neoliberalism.

Kata kunci: Politik intelektual, Freedom Institute, Hegemoni

Pendahuluan

Sebagaimana ditegaskan oleh Daoed Joesoef[2] bahwa kenaikan harga BBM menimbulkan reaksi pro-kontra. Baik yang setuju maupun yang menentang menggunakan cara dan jalan berbeda dalam menyatakan pendiriannya dengan beriklan, berdemo, adu argumentasi di media massa, dan sebagainya. Namun, semuanya mengklaim, cara dan jalan yang dipakai tetap demokratis.[3] Pemikiran inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan studi ini, tetapi hanya mengkhususkan dalam perspektif diskursus wacana yang dikembangkan oleh kaum intelektual dalam kasus kenaikan BBM awal 2005. (more…)

Read Full Post »


Membicarakan atau menulis tentang “kaum intelektual” hari ini, kita harus merujuk pada tataran posisi politik. Dari sayap kanan ekstrim (neoliberal-neokonservatif), melewati kanan-tengah (sosial-liberal), lalu menapak pada kiri-tengah (sosial demokrat), hingga berujung pada kiri-revolusioner (Marxis). Di dalam dan di luar kategori politik ini, kita juga memasuki ranah ekologi politik, feminis, gay, ras dan identitas etnik. (more…)

Read Full Post »