Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2010


Negara tidak memungkiri ada operasi militer tetapi semata-mata demi keamanan di wilayah perbatasan RI-PNG

JUBI – Konstalasi politik di Papua terus menghangat pada hampir tiga bulan terakhir pasca Publik Hearing Kongres Amerika. Berita mengejutkan kembali melanda Papua dengan menghangatnya berita kebocoran data intelijen Kopassus di Kotaraja, Jayapura.

Allan Nairn, jurnalis dari Amerika serikat dalam blog pribadinya (9/11) merealease data Laporan Operasi Intelijen Korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Kotaraja, Jayapura pada Tahun 2007. Dalam dua data laporan Pasukan Baret Merah Indonesia yang bocor ini, mereka mengidentifikasi aktivis gereja dan LSM sebagai musuh dan dianggap berpotensi menyebarkan semangat anti terhadap Pemerintah Indonesia. Laporan Allan Nairn mengungkapkan, Kopassus menggelar operasi intelijen untuk mengawasi belasan aktivis Papua yang dianggap mengkampanyekan gerakan Papua merdeka.

Dalam laporan Triwulan I Pos Kotaraja yang dibuat oleh Danpos, Lettu Inf Nur Wahyudi di Kotaraja, Agustus 2007 mengungkap beberapa hal penting yaitu keadaan daerah operasi, baik secara geografi, aspek demografi maupun aspek kondisi sosial. Pada aspek sosial inilah terdapat data Orang-orang Papua yang menjadi targer incaran. Terdapat 15 nama yang diberi kode tokoh-tokoh GSP/P yang berdomisili di Kotaraja dan sekitarnya.

Dari list nama-nama tersebut, Pdt. Socratez Sofyan Yoman (Ketua Gereja Baptis Papua)  berada pada urutan pertama. Saat dikonfirmasi mengenai kemunculan data ini, Yoman mengaku jika selama ini diincar oleh Kopassus Tahun 2007 lalu.

“Saya pernah diundang untuk hadiri acara mereka tapi saya tidak pergi, kita sudah mengenal cara begini jadi diundang juga kami tidak pernah hadir, jadi skenarionya seperti Theys Hiyo Eluays yang diundang lalu  dibunuh,” ujar Yoman saat di Konfirmasi JUBI di Jayapura, Rabu (10/11).

(more…)

Advertisements

Read Full Post »


JUBI — Dana 1 persen akan dihentikan apabila tidak ada produksi hasil tambang oleh PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua. Besar dana satu persen tahun 2010 belum diketahui. Dana tersebut disalurkan kepada 7 suku sekitar areal PTFI. Diantaranya suku Kamoro, Amungme, Moni, Ekari, Dani, Nduga dan Damal. ”Selama emas mengalir, dana 1 persen bagi 7 (tujuh) suku tetap mengalir,” kata Tokoh Masyarakat Timika, Yopi Kilangin, Jumat (8/10). Hal itu disampaikan Kilangin menjawab sejumlah isu seputar penggunaan dana 1 persen bagi 7 suku di sekitar areal PT Freeport. Kilangin mengatakan salah satu manfaat dana 1 persen adalah untuk membiayai operasional Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Karitas Timika. ”Kalau biaya operasional RSMM termasuk gaji petugas tidak jalan berarti kita harus tanyakan kepada PT Freeport,” imbuhnya. Perlu diketahui dana 1 persen juga menanggulangi biaya pengobatan pasien asal 7 suku yang ber-KTP Timika. Mekanisme pengelolahan dana 1 persen selama ini disalurkan melalui LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro) Timika. Dan selanjutnya diteruskan kepada Yayasan atau pihak pengelola masing-masing bidang. Selain bidang kesehatan, dana satu persen juga dipergunakan dalam mengembangkan pendidikan dan Pengembangan ekonomi masyarakat 7 suku di Timika. Berdasarkan pengakuan sejumlah pasien asal 7 suku di RSMM, penyaluran dana 1 persen telah meringankan biaya pengobatan pasien. (Willem Bobi)

Read Full Post »


Posted on April 3, 2008 by Tabloid Jubi

Perbandingan Populasi Penduduk di Papua

Perbandingan Populasi Penduduk di Papua

JUBI – Seiring pertumbuhan perekonomian Papua yang sangat cepat, arus pendatang ke Papua juga meningkat tajam. Papua bukan hanya surga bagi pengeksploitasi SDA tapi juga surga bagi pencari kerja, bahkan yang tak punya skill sekalipun. Akibatnya, populasi penduduk asli Papua semakin terancam.

Tak pelak, arus pendatang ke Papua menjadi salah satu faktor utama pertambahan jumlah penduduk di Papua. Dari mulai jaman transmigrasi, hingga jaman Otsus ini, Papua memang menjanjikan bagi setiap orang, terutama dalam mengubah perekonomian seseorang.
Albertus. K (27) seorang pemuda asal Sulawesi yang hanya mengenyam pendidikan hingga SMP saat ditemui Jubi mengungkapkan bahwa sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya untuk merantau ke Tanah Papua.
“Kebetulan ketika itu ada kerabat saya pulang ke kampung dan mengajak saya untuk ikut menjadi buruh harian pada suatu proyek bagunan.” katanya menjelaskan mengapa ia sampai merantau ke Papua, 5 tahun lalu. (more…)

Read Full Post »