Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Woman Dress’


Seperti lasimnya, sudah dikenal secara umum bahwa pakaian tradisional wanita masyarakat pribumi Pegunungan Tengah tanah Papua adalah Moge/Sali dan telanjang dada serta punggung bertutup beberapa lembar doken(agiya dalam bahasa daerah suku Mee), seperti pada tampilan gambar wanita dalam web saya.

Busana Pongi

Busana Pongi

Namun setelah saya telusuri ternyata, wanita suku Damal -Papua baik orang Amungme maupun orang Beoga memiliki penutup dada secara tradisional dan turun-tumurun, yang mereka(orang Amungme dan orang Beoga) menyebutnya dengan istilah “PONGI”.

1. Bahan Dasar Pongi

Pongi dibuat dari beberapa jenis bahan dasar, yakni: (a)Pewal Nei, (b)Taring babi, (c)Tulang kasuari, (d)Buah pandang, (e)Tali ilam.

1.1. Pewal Nei
Pewal Nei adalah kantong bekas sarang kepompong (pewal) sejenis kupu-kupu yang terbesar yang hanya hidup di daerah pegunungan Tengah Papua. Pewal Nei diambil setelah kepompongnya menjadi kupu-kupu dan meninggalkan sarangnya.
Pewal Nei biasa ditemukan di ranting-ranting pohon. Cara pengambilannya tergantung jangkauan. Jika berada pada suatu pohon yang tinggi, maka Pewal Nei diambil dengan cara menebang cabang atau pohonnya. Namun jika berada di tempat terjangkau, maka si pengambil dapat memetiknya saja.
Setelah diambil dari ranting pohon, dimasukan ke dalam noken kemudian dibawah pulang ke rumah untuk diolah sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Pewal Nei yang telah diolah tersebut kemudian disebut dengan nama Pongi. Funsi dari Pongi ini kurang lebih ada dua macam, yakni: pertama untuk tempat mege atau ki-eral yang berasal dari sejenis kulit kerang/biya (Uang tradisional orang pegunungan Papua); kedua, digunakan untuk memeleh bagian dada wanita atau penutup dada wanita Suku Damal baik orang Beoga maupun orang Amungme.

1.2. Tulang Kasiari.

Tulang kasuari(kigiwao), pada sebuah pongi atau yang biasanya digunakan pada sebuah Pongi adalah tulang paha seekor burung kasuari berumur 2-5 tahun yang diambil setelah dagingnya dimakan.
Tulang yang telah diambil dari bakar batu tadi kemudian didinginkan dan dibelah dengan ukuran sepertiga dari ukuran aslinya. Tulang itu kemudian dikeringkan sampai benar-benar kering, lalu biasanya dikikis sampai permukaannya halus dan agak tipis.

1.3. Taring Babi

Taring babi adalah taring yang diambil dari seekor babi yang telah berumur kurang lebih 5 tahun, setelah dibunuh dalam pesta bakar batu.
Setelah diambil, taring babi itu dikeringkan beberapa hari sampai benar-benar kering, kemudian taring itu dikikis menjadi halus dan tipis sampai mencapai ukurang kurang lebih setengah dari ukuran semulah.

1.4. Buah Pandang atau Buah Kokaa.

Buah Pandang atau Buah Kokaa adalah sejenis buah yang jika dilihat dari buahnya, secara kasat mata dapat disangka kelapa sawit. Buah ini memiliki kulit yang keras dan jika di makan isinya, ranya antara kelapa dan kacang tanah yang sudah tua.
Masyarakat pribumi pengunungan tengah tanah Papua sering menyebut buah ini dengan nama kelapa hutan dalam bahasa Indonesia tetapi dalam bahasa daerah, masing-masing suku mempunyai nama yang sendiri pula.
Pengolahan buah pandang menjadi pongi dilakukan dengan cara pertama adalah mencari buang pandang dan mengambilnya dari sekitar pohon buah pandang ketika buah pandang telah atas paska tuaian. Hal ini bisa diambil dengan mudah karena buah itu telah menjadi tua dan jatuh di sekitar pohon buah pandang.
Buah pandang yang dikumpulkan sebanyak kurang lebih 30 sampai 40 buah tadi kemudian di bawah ke rumah lalu dibersihkan dan dikeringkan di bumbungan bagian dalam Tongoi(Honai=rumah tradisional masyarakat pribumi pegunungan tengan Papua) tepat di atas tungku api, kurang lebih satu bulan lamanya.
Setelah buah pandang itu menjadi kering, bagian ujung atas dilubangi satu sisi terlebih dahulu, kemudian lubangi lagi sisi yang berlawanan dengan sisi yang pertama. Semua buah pandang yang telah dikeringkan tadi dilakukan satu persatu demikian.

1.5. Tali Ilam
Tali ilam dianyam seperti tali noken. Tali ilam diambil dari kulit kayu dan ada juga yang diambil yang sudah jadi yaitu dibeli seperti tali manilah.
Pengambilan tali ilam dilalukan dengan cara menguliti kulit kayu atau pohon yang biasanya digunakan dibuat benang untuk menyulam noken.
Setelah itu kulit kayu tadi dipukul-pukul diatas batu atau kayu sampai menjadi serbuk-serbuk benang lalu dikeringkan di atas lotong rumah sampai kering dan siap untuk dianyam.
Serpihan-serbihan panjang kulit kayu yang telah kering itu kemudian dianyam menjadi beberapa utas benang. Lalu beberapa utas benang tadi dianyam lagi menjadi seperti leher sebuah noken dengan ukuran lebarnya kurang lebih 3 sampai 5 cm dan panjangnya kurang lebih 1-1.5m sesuai ukurang bahu dan dada pengguna Pongi.

2. Pembuatan Pongi

Setelah semua bahan dasar itu dipersiapkan, seperti atau kurang lebih pada langkah-langkah di atas maka pembuatan Pongi inipun siap untuk dilakukan. Caranya adalah kurang lebih seperti berikut ini:

2.1. Pemasangan Tali Ilam

Langkah pertama yang biasanya dilakukan oleh suku Damal baik orang Amungme maupun orang Beoga adalah pemasangan Tali Ilam yang telah dipersiapkan pada dua buah kayu dengan sisi yang berlawanan antara satu sama lainnya sampai tali ilam terbentang lurus dari kiri kekanan atau sebaiknya.

2.2. Pemasangan Pongi
Langkah kedua yang dibuat oleh orang Amungme dan Beoga adalah pemasangan pongoi pada Tali Ilam. Pemasangan pongi(Pewal Nei yang telah menjadi Pongi) ini dibuat dengan cara mengikat ujung pongi pada tali ilam dengan jarak kurang lebih satu jengkal tangan masing-masing ujung tali ilam ke dalam sampai mencapai bahu kiri dan kanan bagian dalam. Setelah bagian tersebut tertutup rapi, dilanjutkan mengikat yang lainnya.

2.3. Pemasangan Tulang Kasuawi

Setelah itu yang ketiga adalah pemasangan tulang kasuari dibagian ujung dari kedua sisi tali ilam. Tulang kasuari ini dimasukan pada kedua sisi masing-masing satu buah tulang kasuari tepatnya diujung ikatan simpul pongoi bagian dalam dari kedua sisi. Tempatnya tepat disisi depan bagian dalam kedua bahu calon pemilik atau pengguna pongi tersebut. Ruang untuk tempat tulang kasuari ini biasanya disiapkan oleh pembuat Pongi ini. Orang Amungme dan Beoga selalu memakai hanya dua buah tulang kasuari saja pada sebuah Pongi dan tidak boleh lebih atau kurang dari dua.

2.4. Pemasangan Buah Pandang

Langkah keempat yang biasanya dilakukan oleh suku Damal baik orang Amungme maupun orang Beoga dalam membuat Pongi adalah memasang buah pandang yang telah diolah pada tali ilam.
Pemasangan buah pandang ini dilakukan dengan cara, memasukan benang lilitan dari kulit kayu ke dalam sisi-sisi buah pandang yang telah dilubangi lalu dikaitkan atau diikat satu persatu pada tali ilam yang terdapat ditengah-tengah tali ilam sampai ke pundak kiri dan kanan bahu pemakai ilam. Ketika pongi dipakai, buah pandang ini selalu berada pada pundak sampai tengah-tengah punggung.

Pongi sebelum digunakan

Pongi sebelum digunakan

2.5. Pemasangan Buah Pandang

Langkah terakhir yang biasanya dilakukan dalam pembuatan sebuah Pongi adalah pemasangan taring babi.
Pemasangan taring babi pada sebuah pongi biasanya dilakukan dengan cara, memasukan seutas benang anyaman yang terbuat dari kulit kayu ke dalam sisi pangkal taring babi yang telah dilubangi bagian ujungnya dan menembusi sisi yang berlawanan dengannya lalu digantungkan di tali ilam.

Bentuk Pongi setelah dikaitkan

Bentuk Pongi setelah dikaitkan

Biasanya, suku Damal menggantung taring babi sebanyak dua atau tiga buah saja pada sebuah pongi. Taring babi digantungkan bersama-sama dengan buah pandang di bagian tengah tali ilam. Taring babi diletakan bagian tengah.

3. Manfaat Masing-masing bahan Pongi

Walaupun bahan-bahan yang digunakan pada sebuah “Pongi“ mempunyai manfaat yang berbeda antara satu sama yang lainnya dalam kehidupan sehari-hari wanita suku Damal baik orang Amungme maupun orang Beoga, seperti alat yang digunakan untuk menutup dada seorang wanita adalah hanya Pawel Nei dan yang lainnya tidak namun demikian, jika tidak ada atau kekurangan satu benda dalam sebuah Pongi maka nilai dari pongi tersebut rendah dan bahkan akan dianggap benda tersebut bukan Pongi lagi.
Mengingat manfaat dari bahan-bahan Pongi ini amat beragam, maka saya akan menjelaskan lebih lanjut, yakni:

3.1. Ilam

Tali ilam digunakan untuk menyangga semua benda-benda lain pada sebuah Pongi. Tali ilam ini berfungsi seperti tulang punggung yang menyangga tubuh seorang manusia.

3.2. Pawel Nei

Telah dijelaskan terlebih dahulu bahwa setelah diolah, Pawel Nei ini berubah nama menjadi Pongi. Dalam Tulisan ini, pongi adalah alat yang digunakan oleh orang Amungme dan Beoga untuk menutup dada ataus sebagai penutup dada seorang wanita

3.3. Tulang Kasuari

Banyak sekali manfaat dari tulang kasoari. Selain berguna untuk membuat pongi, tulang kasoari juga berguna untuk membuat semacam pisau. Orang Amungme biasa menggunakan tulang kasoari untuk membelah buah merah(bitam adalah sebutan muah merah dalam bahasa Amungme) menjadi tiga bagian. Karena zaman dahulu tidak ada parang atau pisau, sehingga mereka menggunakan tulang kasoari sebagai pisau. Tulang kasoari juga biasa dipakai untuk membunuh musuh atau menyiksa orang lain . Selain panah, tulang kasoari juga digunakan untuk menjaga diri. Tulang kasuari dalam bahasa daerah disebut (kigiwao), kigiwao digunakan sebagai pelengkap hiasan pongi.

3.4. Buah Pandang

Dalam sebuah busana penutup dada wanita(Pongi), orang Amungme dan Beoga memakai kurang lebih 30-40 biji kulit kelapa hutan(buah pandang) yang sudah kering, hanya sebagai dan sebatas perhiasan punggung seorang wanita Amungme dan Beoga suku Damal.

3.5. Taring Babi

Taring babi yang dipasang pada sebuah pongi bertujuan untuk menjelaskan strata sosial keluarga si pemakai pongi dan juga sebagai perhiasan dan kalung untuk memperindah tampak punggung seorang wanita suku Damal baik orang Amungme maupun orang Beoga.

Tampak belakang pemakaian Pongi

Tampak belakang pemakaian Pongi

3.6. Tulang Kasuari.

Tampak depan pemakai Pongi

Tampak depan pemakai Pongi

Tulang kasuari bagian ujungnya dilubangi lalu digantungkan di bagian tali ilam yang sudah jadi. Tulang kasuari di gantungkan di antara pongi yang sudah digantungkan.Untuk menggantungkan tualng kasoari, tidak boleh bibih atau kurang dari dua buah. Untuk menggantungkan tulang kasoari harus ada dua karena satu buah tulang kasoari untuk digantungkan di sebelah kiri ujung tali ilam dan satu lagi untuk digantungkan di sebelah bagian kanan tali ilam.

Read Full Post »