Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2008


The history Of Papuan Mummies(West New Guinea-Mummies)

Kebanyakan orang di dunia mengidentikkan Mumi dengan Mesir karena sejarah Mumi para Firaun di Mesir. Namun demikian, sejarah panjang mumi ternyata ada juga dalam hidup orang Papua.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada akhir tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an, telah ditemukan tujuh mumi di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yahukimo. Ketujuh Mumi tersebut berada di:

(a) Kecamatan Kurulu, utara Kota Wamena sebanyak sebanyak 3 mumi;

(b) Kecamatan Assologaima, barat Kota Wamena sebanyak 3 mumi,

(c) serta satu mumi di Kecamatan Kurima Kab. Yahokimo adalah satu-satunya mumi perempuan.

Dari ketujuh mumi tersebut, hanya mumi Werupak Elosak di Desa Aikima dan mumi Wimontok Mabel di Desa Yiwika – Kecamatan Kurulu – Kabupaten Jayawijaya yang sudah dikenal para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi kabupaten Jayawijaya karena masyarakat pribumi membuka peluang kepada masyarakat di luar untuk menyaksikannya. Namun untuk melihat mumi-mumi tersebut, para wisatawan harus membayar.

Mumi Werupak Elosak(nama ketika masih hidup) berumur sekitar 230 tahun. Pakaian tradisional yang dikenakan, seperti koteka, masih utuh. Ia adalah panglima perang dan meninggal akibat luka tusukan sege (tombak). Lukanya pun masih terlihat jelas hingga kini.
Jasad Werupak dijadikan mumi, selain untuk menghormati jasa semasa hidupnya, juga karena Werupak sendiri yang meminta. Ia ingin supaya mayatnya diawetkan.

Hal ini berbeda dengan mumi Wimontok Mabel. Ia adalah seorang kepala suku. Wimontok mempunyai arti perang terus. Karena semasa hidupnya ia kepala suku perang yang ahli strategi. Wimontok meninggal akibat usia tua dan memberi wasiat kepada keluarganya agar jasadnya diawetkan. Dari segi ukuran, mumi ini lebih kecil ketimbang Weropak. Namun, kondisinya masih lebih bagus.

Setiap lima tahun sekali diadakan upacara adat untuk melingkarkan semacam kalung di leher Wimontok. Upacara tersebut disertai pemotongan babi. Lalu lemak dari babi itu dioleskan ke seluruh tubuh mumi. Dari kalung tersebutlah perkiraan umur mumi didapat, yaitu sekitar 382 tahun.

Para mumi ini dibuat dengan menggelar upacara sakral. Dilanjutkan dengan pengasapan jenazah selama tiga bulan terus-menerus. Setelah menjadi mumi, perawatan selanjutnya ditangani kaum laki-laki saja. Karena menurut adat setempat, sentuhan wanita akan membuat mumi menjadi rusak serta mendatangkan malapetaka bagi wanita tersebut dan lingkungan sekitar. Mumi-mumi ini hanya diletakkan di dalam sebuah kotak kayu dan disimpan dalam pilamo, rumah adat khusus laki-laki.

Tidak semua mayat/jasad yang diperbolehkan menjadi atau dijadikan mumi. Hanya yang mempunyai jasa besar terhadap suku seperti kepala suku atau panglima perang yang secara adat diizinkan menjadi mumi.

Nilai ekonomi

Setiap wisatawan yang hendak melihat dikenai biaya 30.000 per orang dan yang hendak berfoto dengan mumi ini dikenai biaya Rp 20.000 sekali foto. Di pojok halaman, dekat dengan honai yang menjadi tempat mumi bersemayam ada kios kecil yang menjual suvenir.
Mumi Wamena-Papua

Mumi Wamena-Papua

Most people in the world interpret’s Egypt with the mummies, because the history of the mummies of Pharaoh in Egypt. However, Papua mummy also has a long history in the life of indigenous people of Papua.

In a research conducted in the late 1980s until the early 1990s, have been found seven mummies ini Jayawijaya Regency and Regency Yahukimo. Seventh mummy is located at:

(a) Kurulu sub-district, north of City of Wamena 3 mummies;

(b) Assologaima sub-district, west of Wamena 3 mummies;

© sub-district Kurima-District Yahokimo, a mummy. This is the only female mummy.

From the seventh mummies, the mummies Werupak Elosak only in the Village and Aikima mummy Wimontok Mabel in the Yiwika Village – Kurulu sub-district – Jayawijaya District has been known that the tourists, both domestic and overseas who visit the Jayawijaya district, because the indigenous communities to open opportunities to the people outside to eyes. But to see the mummies, mummies, and the tourists have to pay.

In addition to honor service during his life, Werupak corpses’s had made mummy , Werupak own request that his preserved corpse.

This is different from the Wimontok Mabel’s mummy. He was a chieftain. Wimontok war continue to have meaning. Because during his life he was head of the tribe of the war strategy experts. Wimontok died due to old age and give testament to his family that his Jasad preserved. In terms of size, the mummy is rather smaller Weropak. However, conditions are still better.

Every five years the ceremony was held for the customary roll neck in a kind of necklace Wimontok. Ceremony, along with cutting pork. And the fat of pigs to be smeared all over the mummy’s body. From necklaces have obtained the approximate age of mummy, which is about 382 years.

The mummy is made with the sacred ritual. Followed by evaporation corpse for three days continuously. After a mummy, further treatment by the men only. Because according to local custom, women touch will make mummify become damaged and cause havoc for the woman and the surrounding environment. Mummies are only placed in a wooden box and stored in pilamo, custom house special men.

Not all the dead bodies or corpses are allowed to be or become mummy. Only that gave any services to the tribes, such as the tribe or commander in the war that allowed indigenous mummify.

Economic value

Every tourist who want to see the mummy, have to pay the cost of 30,000 per person and if want to create an image with this mummy, have to pay Rp 20,000, for an image. In a corner of the page, near to the place that honai mummy sit there small kiosks selling souvenirs.

Advertisements

Read Full Post »

HIV AIDS DAN PEMBANGUNAN PAPUA


HIV AIDS  DAN PEMBANGUNAN PAPUA

 

 

Apa itu HIV?

Menurut, Wikipedia bahasa Indonesia- ensiklopedia bebas, HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus yang menyerang, melemahkan dan merusahkan  sistem kekebalan tubuh manusia.

 

Dimanakah virus HIV ini berada ?

HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain.

 

Mengapa dan kapan Virus ini merusak kekebalan tubuh seseorang?

(pertama) : Virus HIV menggunakan sel-sel kekebalan tubuh manusia sebagai tempat berkembang biak.

                   Di dalam setiap sel kekebalan tubuh manusia, Virus HIV berkembang dalam jumlah kurang

                   lebih 1 juta virus per hari.  

(kedua)     : Setelah berkembang, virus-virus HIV ini merusak sel kekebalan tubuh manusia termasuk sel 

                   tempat virus itu berkembang. Hal ini ibarat kertas yang di foto kopi dalam mesin foto kopi,

                   bahwa setelah mendapat kopian banyak, copian itu kemudian bangkit merusak mesin foto

                   kopinya. Sehingga lama-kelamaan sel kekebalan kita habis dan jumlah virus menjadi sangat

                   banyak.

 

Penularan HIV

HIV menular dengan cara, kurang lebih sebagai berikut ini:

  1. Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
  2. Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
  3. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV
  4. Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)

 

Upaya penanganan HIV/AIDS

International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) yang meneliti tentang HIV/AIDS, telah melaporkan bahwa HIV/AIDS telah menjadi bencana dunia pada tahun 2008. Hal ini disebabkan karena beberapa hal di bawah ini:   

  1. Upaya penanganan HIV tidak ditujukan pada kelompok yang benar. Laporan tersebut menyoroti berapa banyak negara dengan epidemi HIV yang terdapat pada kelompok berisiko tinggi[1]  tidak berhasil memanfaatkan sumber dayanya untuk pencegahan penularan HIV pada kelompok tersebut. Mereka lebih memilih menyampaikan pesan pencegahan secara umum, sering disampaikan melalui sekolah.
  2. Dana yang disediakan oleh lembaga donor tidak disampaikan pada yang paling membutuhkan. Birokrasi, ketiadaan koordinasi dan menutup telinga berarti bahwa dana tidak menjangkau komunitas yang paling membutuhkannya.
  3. Kelompok berisiko tinggi HIV (1)sangat distigmatisasi dan mengalami diskriminasi, (2)pencegahan HIV dilumpuhkan dengan mengkriminalisasi kelompok ini, kelompok ini juga  memiliki akses pencegahan dan layanan kesehatan yang kecil

 

Karen itu, IFRC melaporkan bahwa  HIV adalah bencana jangka panjang dan rumit bagi umat manusia.

 

Contoh Epidemik HIV/AIDS Afrika Selatan

Sebagai contoh di Afrika Selatan, The Lancet menyebutkan bahwa HIV memberi “dampak bencana luar biasa terhadap populasi, sistem kesehatan, ekonomi dan stabilitas sosial.” Hal ini bukan saja di Afrika Selatan tetapi  sedang terjadi  di berbagai belahan dunia, terutama di Negara-negara dunia ke tiga.

Lebih lanjut, The Lancet menyebutkan bahwa di negara-negara yang sedang terjadi konflik geososiopolitik, HIV telah menjadi epidemik penghancuran kelompok yang terpinggirkan dalam sebuah negara(1, HIV/AIDS: a global disaster. The Lancet 372 -online edition, July 5th, 2008; 2,International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. World Disasters Report 2008 – Focus on HIV and AIDS; 3,bnd.Kompas, 17 November 2004).

 

HIV Di Papua

Koran local, Papua Pos menyatakan: sungguh memprihatinkan memang, perkembangan penyakit yang tidak ada obatnya ini, di Papua. Data kasus HIV/AIDS per September 2006, sebanyak 2.770 kasus, 1651 kasus HIV dan 1119 kasus AIDS. Diperkirakan, sebesar 1 persen angka kejadian penularan HIV pada penduduk dewasa usia 15-45 tahun, di wilayah Papua. Sekitar 11 ribu orang yang tertular HIV (ODHA).

”Enam puluh lima persen ODHA yang ada di wilayah Papua adalah penduduk asli Papua. Sejak tahun 2001 telah terjadi perubahan jalannya epidemi HIV/AIDS di Papua yaitu dari populasi risiko tinggi ke Masyarakat Umum (MU) termasuk Ibu Rumah-tangga dan bayinya. Pencegahan perlu dilakukan pada masyarakat umum dengan melibatkan semua pihak, baik masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan adat, selain pemerintah,” demikian dijelaskan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Tigor Silaban, mewakili Gubernur Papua, pada acara pencanangan layanan VCT di Puskesmas Kloofkamp, Selasa (28/11)-(Papua Pos, Rabu 29 November 2006).

 

Data Terakhir ODHA Kabupaten Mimika

Data terakhir ODHA Kabupaten Mimika telah mencapai 4000 orang. Jika di hitung dengan menggunakan teori “gunung es”, maka  ODHA Kabupaten Mimika telah mencapai kurang lebih 40000 orang. Artinya 7 dari antara 20 orang di Kabupaten Mimika telah terinfeksi HIV dan menderita AIDS. Masyarakat 7 suku adalah penderita terbanyak jenis penyakit ini.

 

Cara Mengatasi Penularan HIV

  1. Secara Sekuler, telah lakukan usaha mengatasi penularan dan menyebaran firus HIV, yakni dengan cara:

          membagikan kondong gratis

          penyuluhan-penyuluhan tentang bahaya HIV

          membuat komitmen bersama untuk memerangi HIV/AIDS

(Hasil sementara di Papua, nol)

  1. Secara kelompok dan golongan adalah kurang lebih sebagai berikut:

          Gereja membuat komitmen memerangi HIV/AIDS

          Umat membuat komitmen untuk takut akan Tuhan dan setia dalam jalan Tuhan

  1. Secara Pribadi

          memilih dan menentukan mati atau hidup, kehancuran atau kebahagiaan

          bangkitkan iman kepada Tuhan Yesus Kristus

          Fokuskan perhatian hidup kepada Tuhan Yesus Kristus

          hidup takut akan Tuhan

          menempatkan diri dan melakukan sesuatu tepat pada waktu Tuhan.

 

__________________________________________________

Daftar Kepustakaan

1.       Wikipedia bahasa Indonesia- ensiklopedia bebas

2.       HIV/AIDS: a global disaster. The Lancet 372 -online edition, July 5th, 2008;

3.       International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. World Disasters Report 2008 – Focus on HIV and AIDS;

4.       Kompas, 17 November 2004

5.       Papua Pos, Rabu 29 November 2006

 


[1] misalnya laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, pekerja seks dan pengguna narkoba suntikan

Read Full Post »

PAPUA SELATAN MUSNAH


“PAPUA SELATAN MUSNAH”

Potret Masalah & Penyebaran HIV/AIDS Di Kota Merauke dan Distrik Assue (Kab. Mappi)(Sebuah Jawaban Pastoral terhadap Penanggulangan HIV/AIDS)   

Oleh

Wensislaus Fatubun &

 Martin Oni Boloawa   

Sekolah Tinggi Filsafat-Seminari Pineleng2007  

KATA PENGANTAR    

Epidemi HIV/AIDS di Papua Selatan sudah berlangsung selama 15 tahun (dari tahun 1992-2006). Diduga kuat masih akan berkepanjangan karena masih terdapatnya faktor-faktor yang memudahkan penularan penyakit ini. Dua modus penularan infeksi HIV/AIDS saat ini adalah melalui hubungan seks yang tidak aman dan pelayanan kesehatan yang minim. Dalam sepuluh tahun mendatang, penyakit ini mungkin belum akan dapat ditanggulangi, sehingga masih mengancam kesehatan masyarakat dan mempunyai implikasi sosial-ekonomi yang luas. Penderitaan bukan saja dialami oleh orang yang tertular HIV/AIDS tetapi juga akan dirasakan oleh keluarga dan masyarakat. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin pencegah dan obat yang dapat menyembuhkan.     Akhirnya dengan diresmikannya 3 (tiga) wilayah kabupaten baru tahun 2003 (Kabupaten Asmat, Kab.Mappi, dan Kab.Boven Digoel), menempat kan persoalan HIV/AIDS di wilayah selatan Papua  ini semakin memprihatinkan. Hal ini mengigat  hingga akhir 2002 belum semua distrik /kecamatan  yang memiliki komisi penaggulangan AIDS wilayah Distrik (KOMPAD) . Beberapa distrik yang telah dibentuk KOMPAD juga masih dibatasi dengan kemapuan Sumber Daya Mamanusia, finansial  dan operasional. Pemekaran wilayah Kabupaten Merauke akan menempatkan KPA dan LSM-LSM peduli HIV/AIDS harus semakin memberikan pelayanan pencegahan/ penaggulangan HIV/AIDS kepada masyarakat hingga ke daerah terpencil/pedalaman, mengigat hingga akhir 2003 , telah tercatat temuan kasus HIV/AIDS telah menjalar kebeberapa distrik di wilayah kabupaten baru.Penyebaran HIV/AIDS bukan hanya semata- mata masalah kesehatan tetapi juga mempunyai implikasi politik, ekonomi, sosial, etis, agama dan hukum bahkan dampak secara nyata, cepat atau lambat menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia. Hal ini mengancam upaya bangsa untuk meningkat kan kualitas sumber daya manusia.     Pengalaman membuktikan bahwa kemauan politik dan kesungguhan pemimpim adalah hal terpenting dalam mengatasi masalah ini. Pemerintah, LSM, Swasta dan Masyarakat harus bermitra.Semuanya ini harus dalam suatu mekanisme kerja yang baik.    Karya tulis ini adalah hasil dari sebuah investi gasi partisipatif untuk mengetahui potret dan masalah HIV/AIDS di Papua Selatan dan tulisan ini diharapkan dapat menjadi sumba ngan atau jawaban pastoral bagi Gereja Kato – lik Keuskupan Agung Merauke di Papua Selatan.      Terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya karya tulis ini.  Penulis       BAB I

P  E  N  D  A  H  U  L  U  A  N 

a.  Latar Belakang

Masalah human immunodeficiency virus (HIV) atau acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan suatu masalah yang serius dibicarakan saat ini. Sehingga muncul pelbagai pesan yang bermotif himbauan pemberantasan HIV/AIDS ditayangkan di beberapa televisi nasional maupun lokal, atau dimuat di beberapa surat kabar nasional maupun lokal,  ataupun juga yang tertulis pada papan iklan  di pelbagai tempat. Misalnya, tulisan ”Berpelukan tidak menularkan HIV. Mari torang saling mendukung” yang ada pada papan iklan di beberapa tempat di Kota Merauke. Karena HIV/AIDS merupakan sindrom yang menyebabkan kehilangan kekebalan tubuh,atau suatu penyakit yang gampang menular dan belum ada obat penawarnya. Di Indonesia, penderita HIV/AIDS terasa semakin dikucilkan. Mereka dikutuk dan dijauhi. Salah satu alasannya, jangan sampai virus yang mematikan menulari orang lain. Pada hal hampir dipastikan hanya lewat hubungan seks, transfusi darah, jarum suntik, ciuman, atau kelahiran. Tapi, masyarakat tampaknya tidak mau berpusing-pusing. Mereka lebih gampang menempuh jalan pintas, menyingkiri dan mengucilkan para penderita HIV/AIDS (ODHA). Perkembagan penyakit HIV/AIDS di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Tidak ada satu pun dari 33 propinsi yang ada di Indonesia yang terbebas dari penyakit HIV/AIDS. Perkembaganya satu tahun terakhir ini meningkat cukup tajam. Dari 33 propinsi di Indonesia jumlah penderita paling banyak propinsi DKI Jakarta berada di urutan paling atas selanjutnya propinsi Papua, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan,Kalimanatan Barat, Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Pada 31 Maret 2006 tercatat 10.156 kasus orang dengan HIV/ AIDS (ODHA), yang terdiri dari 4.333 Kasus HIV dan 5.823 Kasus AIDS. Dari kasus tersebut 50,1 % diantaranya ditularkan melalui jarum suntik. Para pende rita berusaia berkisar antara 20 – 29 tahun Di Propinsi Papua, sejak ditemukan kasus pertama kali di Merauke tahun 1992 pada 4 orang warga Negara Thailand dan 2 orang Indonesia, tampaknya kasus HIV/AIDS meningkat terus sampai tahun 2006.  Secara georafis penyebaran HIV/AIDS telah terjadi di hampir seluruh wilayah Papua mulai dari pantai, gunung dan pedalaman terpencil, sehingga semua penduduk Papua rawan tertular HIV/AIDS.  Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Papua, jumlah penderita HIV/ AIDS di Papua hingga Maret 2006 mencapai 2.199 orang. Jumlah itu terdiri dari 1.226 orang terinfeksi HIV dan 973 mengidap AIDS. Dari jumlah tersebut, penderita HIV/AIDS yang telah meninggal sebanyak 289 orang. Penyebaran HIV/AIDS di Papua tidak ditemukan hanya pada penderita kelompok usia produktif tetapi ditemukan juga pada pelbagai tingkatan umur, yakni mulai dari bayi – umur 60 tahun lebih juga ada. Dan juga virus mematikan ini tidak hanya menyerang kelompok masyarakat tertentu saja, tetapi segala lapisan kelompok masyarakat yang ada. Penyebaran penularan virus HIV/AIDS 89 % melalui hubugan seks, dan 48,5% diantaranya penderita perempuan. Di Papua jumlah kasus HIV/AIDS terbanyak di Kabupaten Merauke dengan jumlah kasus  884 orang (per November 2006), terdiri dari 450 laki-laki dan 388 perempuan, sedangkan 46 lainya tidak jelas. Penyebaran paling tinggi adalah dengan melakukan hubungan seks sebesar 94%. Kepala  Pusat kesehatan reproduksi Merauke, dr. Inge mengatakan, ”Telah ditemukan 15 Pekerja Seks Komersial yang terinveksi HIV/AIDS berasal dari PSK yang ada di Kabupaten Merauke dan 3 Kabupaten pemekaran.” Hingga akhir tahun 2006, menurut Kepala Dinas Kesehatan Kab. Merauke, dr. Yosep Rinta, data yang terinveksi HIV/AIDS di Kabupaten Merauke  telah mencapai 888 orang.[1]Dari pelbagai permasalahan di atas ini, apalagi dengan angka perkembangan penyebaran HIV/AIDS yang begitu cepat, kemudian menimbulkan pelbagai isue yang berkembang di masyarakat Papua asli bahwa virus HIV/AIDS ini sengaja dipakai oleh orang-orang tertentu untuk melakukan pembunuhan masal (genosida) terhadap masyarakat Papua asli. Bertitik tolak pada pokok pikiran di atas ini, maka investigasi ini dibuat sebagai upaya untuk mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang masalah HIV/AIDS dan demi kebutuan pastoral Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke. 

b. Permasalahan: Bagaimana Penyebaran HIV/AIDS di Kota Merauke dan daerah pedalaman? Apa jawaban pastoral dari Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke terhadap masalah HIV/AIDS ini?    

Bertitik tolak pada latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah bagaimana HIV/AIDS itu menyebar di daerah Merauke? Dan apakah penyebaran HIV/AIDS memiliki hubungan  dengan isu genosida? Apa jawaban pastoral dari Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke terhadap masalah HIV/AIDS ini? Dari rumusan masalah ini dipersempit dalam beberapa pertanyaan di bawa ini:1.     Mengapa HIV/AIDS berkembang begitu cepat di Merauke?

2.     Apakah hubungan seks menjadi modus utama penyebaran HIV/AIDS?3.     Apakah ada hubungan antara penyebaran HIV/AIDS dengan pemahaman masyarakat tentang HIV/AIDS?4.     Apakah ada hubungan antara kebijakan Pemerintah Daerah Merauke dengan penyebaran HIV/AIDS?5.     Apakah ada proses pembiaran dalam penanganan masalah HIV/AIDS?6.     Bagaiman respon stackholder terhadap masalah HIV/AIDS?7.     Apa jawaban pastoral dari Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke sebagai sumbangan bagi penanggulangan masalah HIV/AIDS ini? 

c. Tujuan Investigasi

Adapun tujuan dari investigasi ini adalah

·        Mendapatkan data dan fakta penyebaran HIV/AIDS

·        Mendapatkan gambaran tentang modus atau faktor-faktor penyebaran HIV/AIDS.

·        Mengetahui hubungan pemahaman masyarakat Merauke dengan penyebaran HIV/AIDS.

·        Mendapatkan gambaran tentang komitment pemerintah, gereja dan LSM terhadap pemberantasan masalah HIV/AIDS.

·        Menentukan langkah-langkah startegis sebagai jawaban pastoral dari Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke untuk penanggulangan masalah HIV/AIDS. e.

Pendekatan dan Metodelogi Investigasi

1. Jenis Investigasi   

Metode yang akan dipakai dalam investigasi ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan/ objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. 

2. Teknik Pengumpulan Data   

Dalam usaha mengumpulkan data penulis menggunakan dua teknik mengumpulkan data yang saling interpendensi, yakni studi dokumenter dan riset lapangan.    Studi dokumenter, dalam melaksanakan penelitian akan menggunakan hal-hal tertulis yang berkaitan dengan objek penelitian. Bahan-bahan tertulis tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti buku-buku, majalah, surat kabar, laporan, peraturan-peraturan dan lain-lain.Riset lapangan, riset ini akan diperoleh dengan cara:

·    Observasi, yaitu mengadakan pengamatan secara langsung pada objek yang sedang diteliti untuk memperoleh data-data yang diperlukan serta melihat gambaran dari aktivitas kegiatan.

·   Interview, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan wawancara atau tanya-jawab secara langsung atau lisan tentang masalah HIV/AIDS. Wawancara akan dilakukan melalui dua cara, yakni dengan menyusun daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya dan dengan pertanyaan yang dikembangkan saat wawancara. 

3. Lokasi dan Waktu   

Adapun lokasi penelitian ini dilaksanakan adalah di Kota Merauke dan Distrik Assue, Kab. Mappi. Waktu penelitian adalah 1 Desem ber 2006 – 28 April 2007. 

4. Kelompok sasaran·       

Masyarakat dari pelbagai suku, kaum muda, dewasa, orang-tua, kaum perempuan dan laki-laki

·        Para penderita HIV/AIDS

·        Keluarga para penderita HIV/AIDS

·       Lembaga  terkait dalam penanggulangan        HIV/AIDS: KPAD kab. Merauke, Dinas Kesehatan, Yasanto, MSF, WVI,PKR,Pokja HIV/AIDS,Yapepa,Aesculap,Yamikari dsb.·        PSK di Yobar, Belakang Rumah Sakit Umum Kabupaten Merauke, Bar dan Diskotik yang tersebar di Kota Merauke dan Bar di Kampung Eci (Kab. Mappi), PSK yang tersebar di dusun-dusun dari Distrik Eci dan Distrik Haju, Kabupaten Mappi. 

f. Penutup    

Masalah HIV/AIDS adalah masalah yang serius. Karena HIV/AIDS mengancam kehidupan manusia. Sehingga harus disikapi dengan baik dan berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu para pemangku kepentingan untuk menyelesaikan masalah HIV/AIDS, khususnya untuk Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke.  

BAB II 

POTRET MASALAH DAN PENYEBARAN HIV/AIDS DI PAPUA SELATAN 

A.Definisi HIV/AIDS dan Penularanya

 

HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit Infeksi Menular Seksual(IMS) yang sangat berbahaya, hingga saat ini penyakit tersebut belum dapat disebuhkan. Walaupun telah ditemukanya obat ARV(Anti Retro Virus) yang fungsinya melemahkan virus dalam tubuh atau hanya untuk memperpajang usia hidup bagi ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), namun  bukan untuk memyembuhkan penderita secara total. Lalu apa itu HIV/AIDS?. HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis virus yang dapat menurunya sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan AIDS. AIDS merupakan singkatan dari Acqired Immune Deficiency Syndrome yaitu suatu kumpulan tanda/gejala yang terjadi akibat adanya penurunan daya kekebalan tubuh  yang didapati atau tertular /terinfeksi virus HIV. Bagaimana cara penularan HIV? Virus HIV ditularkan melalui cairan darah, cairan mani dan cairan vagina dari orang yang terinveksi HIV. Sehingga penularan HIV dapat terjadi melalui hubugan seks, jarum suntik, jarum tindih, jarum toto yang terdeteksi virus dan transfusi darah atau donor darah serta ibu hamil kepada bayinya yang dikandung atau melalui ASI. Virus HIV masuk ke dalam tubuh dan hidup di dalam cairan tubuh, yakni di Cairan sprema, Cairan Vagina dan Cairan darah. Gejala-gejala yang ditimbulkan virus HIV/IADS yakni; kehilangan berat badan atau berat badan turun secara drastis, Diare yang berkelanjutan, pembengkakan pada leher dan ketiak, batuk terus menerus, berkeringat pada malam hari tanpa sebab. 

B.Perkembagan HIV/AIDS di Papua Selatan     

Sejak tahun 1992 HIV/AIDS di Merauke menunjukkan perkembangan yang mengkhawatir kkan bila dilihat dari segi jumlah dan cara penularannya. Wakil Bupati Merauke Drs. Waryoto mengaku sangat prihatin dengan perkembangan kasus HIV/AIDS di Merauke yang cenderung terus meningkat.[2] Tingginya jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Merauke yang mencapai 884 kasus (per Novermber 2006) disinyalir akibat perilaku seks bebas masyarakat Merauke. Hal ini dapat dilihat dari semakin maraknya praktek-praktek prostitusi di Kota Merauke dan Kampung-kampung di Pedalaman Papua Selatan. Ada 2 (dua) periode yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk mengerti pola perkembangan HIV/AIDS di Merauke. 

1. Tahun 1992-1998 Kasus HIV/AIDS pertama di Merauke didentifikasi september tahun 1992 pada 4 (empat) orang nelayan asal Thailand dan 2 (dua) orang pekerja seks komersial (PSK) Indonesia. 2 (Dua) orang PSK (Pekerja Seks Komersial) dalam pemeriksaan selanjutnya diketahui tertular dari para nelayan asal Negara Tahiland. Para nelayan itu dipekerjakan oleh perusahan China yang beroperasi di Dobo, Kabupaten Maluku Tenggara, yang juga memiliki ijin penangkapan ikan hingga ke wilayah perairan Selatan Papua. Setelah penyakit ini terdeteksi dan diketahui dibawah oleh para nelayan tersebut berbagai tuntutan dan protes telah diajukan  kepada pemerintah daerah, namun tuntutan itu tidak pernah diperhatikan pemerintah. Pada bulan April 1994 dilaporkan untuk pertama kali kasus kematian karena AIDS dari kelompok perilaku beresiko tinggi (PSK) di RSUD Merauke. Kemudian pada bulan Maret 1995, dilaporkan kasus pertama kali dari kelompok ibu rumah tangga di RSUD Merauke. Dan pada bulan Februari 1998 dilaporkan kasus kematian karena AIDS pertama kali dari kelompok anak-anak di RSUD Merauke. Dari data awal ini, mulai memperlihatkan penularan di kota-kota lain di luar Merauke yang merembak setelah tahun 1994.Dari tahun 1992 sampai dengan tahun 1998 telah ditemukan 160 orang yang positif terinveksi HIV/AIDS. Angka ini menunjukan perkembangan yang cukup tinggi.Sehingga periode ini adalah periode yang cukup tinggi angka perkembangannya. 

2. Tahun 1999-2006 Perkembangan penularan HIV/AIDS di Merauke mengalami peningkatan yang luar biasa tingginya pada periode ini. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.   

1.1. Tabel: Perkembangan HIV/AIDS Tahun 1992- Novermber 2006 

Tahun

HIV

AIDS

Jumlah

Meninggal

1992-1998

104

56

160

72

1999

10

15

25

8

2000

57

71

128

17

2001

31

56

87

13

2002

69

64

133

18

2003

20

54

74

11

2004

36

57

93

26

2005

57

46

103

32

2006

45

24

69

10

TOTAL

429

443

884

207

     (Sumber Data: Subdin P2PL Din Kesehatan Kab. Merauke) Tabel di atas ini memperlihatkan bahwa periode 1992-1998 atau setelah 7 (tujuh) tahun baru angka perkembangan penularan HIV/AIDS mencapai angka 160, kenyataan ini sangat berbeda dengan periode 1999-2006.Pada periode 1999-2006, perkembangan penularan HIV/AIDS mengalami peningkatan yang sunggu sangat luar biasa. Hal ini dapat dilihat pada tahun 2000 angka perkembangan penularan HIV/AIDS telah melewati angka 160 pada periode pertama. Ini berarti peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat secara tajam per tahun.Pada tahun 2002, ditemukan bahwa lokasi penyebaran HIV/AIDS tidak hanya terkonsentrasi di Kota Merauke, tetapi telah menyebar ke beberapa kampung di beberapa Kabupaten pemekaran dari Kabupaten Merauke, diantaranya Distrik Assue dan Distrik Eci, Kab. Mappi dan juga beberapa kampung di Kab. Asmat. Hal ini dapat dilihat dari data Puskesmas Eci, Distrik Assue, kabupaten Mappi, bahwa pada tahun 2002 ditemukan 8 orang pengidap HIV/AIDS dan satu setengah tahun kemudian pengidap HIV/AIDS telah bertambah. Pada Mei 2004 tercatat 35 orang pengidap HIV/AIDS di Distrik Assue. 35 orang yang terinveksi HIV/AIDS itu terdiri dari para pekerja seks komersial (PSK) dan warga masyarakat termasuk penduduk asli. Dari data yang dikumpulkan memperlihatkan bahwa penambahan lokasi penyebaran ini seiring dengan maraknya tempat-tempat pelacuran yang berdiri di kampung-kampung, para PSK yang terinveksi HIV/AIDS hidup di kampung-kampung dan juga pelayanan kesehatan yang tidak memadahi. Dari semua data yang telah dikumpulkan, maka secara umum dapat dikatakan bahwa laki-laki lebih banyak tertular HIV/AIDS dibandingkan wanita, yakni 443 orang. Pada periode 1992-2006 ditemukan prevalensi HIV yang tinggi pada wanita pekerja seks komersial (WPSK), yakni 16.06%, akan tetapi menurut Ibu Heny, petugas KPAD Kabupaten Merauke (Komisi Penanggulangan AIDS), ”Menurut grafik terjadi penurunan jumlah kasus PSK yang terinveksi HIV/AIDS per tahun”. Dan berdasarkan kelompok umur ditemukan bahwa usia 20-29 tahun adalah kelompok umur terbanyak yang terinveksi HIV/AIDS, yakni 314 orang. Jumlah yang tercatat tersebut sebenarnya jauh lebih kecil dari prevelensi yang sesunggunya, karena adanya fenomena gunung es. Pada tahun 2006 di Papua Selatan diperkirakan jumlah orang yang terinveksi HIV berkisar antara 40.000-60.700 orang. 

Tabel 1.2. Penderita HIV/AIDS menurut Pekerjaan di Kab. Merauke Tahun 1992-Nevermber 2006

No

Pekerjaan

Jumlah

%

1

Lain-lain

234

26.27

2

WPSK

140

16.06

3

Petani

131

14.56

4

Nelayan TKA

61

7.00

5

Buruh

68

7.68

6

Ibu Rumah Tangga

80

8.83

7

Siswa/Mahasiswa

33

3.67

8

Swasta

48

5.50

9

PNS

33

3.44

10

Sopir

12

1.38

11

Nelayan/ABK

18

2.06

12

TNI/POLRI

19

2.18

13

PSK Jalanan

7

0.80

14

Mucikari

1

0.11

 

TOTAL

884

100

(Sumber Data: Subdin P2PL Din Kesehatan Kab. Merauke) 

Tabel 1.3. Penderita HIV/AIDS menurut kelompok umur di Kab. Merauke tahun 1992-November 2006.

No

Umur

Jumlah

%

1

<1 thn>

12

1.38

2

1-4 thn

14

1.49

3

5-9 thn

6

0.69

4

10-19 thn

81

9.29

5

20-29 thn

321

36.01

6

30-39 thn

230

26.15

7

40-49 thn

84

9.40

8

50-60

33

3.78

9

>60 thn

4

0.46

10

Tidak diketahui

99

11.35

 

Total

884

100

(Sumber Data: Subdin P2PL Din. Kesehatan Kab. Merauke) 

Tabel 1.4. Penderita HIV/AIDS menurut Jenis Kelamin di Kab. Merauke thn 1992-Novermber 2006.

No

Jenis Kelamin

Jumlah

%

1

Laki-laki

450

50.8

2

Perempuan

388

43.9

3

Tidak diketahui

46

5.3

 

Total

884

100

(Sumber Data: Subdin P2PL Din. Kesehatan Kab. Merauke) 

Tabel 1.5. Penderita HIV/AIDS menurut suku di Kab. Merauke thn 1992-November 2006.

No

Suku Bangsa

Jumlah

%

1

Papua

386

43.3

2

Non Papua

334

37.8

3

WNA

67

7.7

4

Tidak diketahui

97

11.1

 

TOTAL

884

100

(Sember Data: Subdin P2PL Din. Kesehatan Kab. Merauke)

 

Gambaran di atas menunjukan status kab merauke sudah berada pada fase ”darurat” dan membutuhkan penanganan yang bersifat segera terutama dikaitkan dengan jumlah penduduk Papua yang berada di Merauke bila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Hal ini semakin menjadi masalah yang serius dan mendesak untuk disikapi, yakni dengan penyebaran HIV/AIDS ini bukan hanya terpusat di kota Merauke tetapi sudah masuk dan menjangkiti warga kampung-kampung di Kabupaten Merauke. Misalnya, untuk tahun 2006, telah ditemukan kasus penderita HIV/AIDS di Kampung Wanam (distrik Kimaam), Kampung Sota (distrik Sota), Kampung Muting, kurik, Salor, Okaba, dan beberapa kampung lainnya. Dalam investigasi Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke (SKP-KAM) memperlihatkan kampung-kampung yang kini menjadi lokasi baru penyebaran HIV/AIDS sangat memprihatinkan karena di kampung-kampung itu pelayanan kesehatan sangat minim bahkan tidak ada tenaga medis yang siap melayani warga yang sakit. Benarlah bahwa Pemerintah Kabupaten Merauke telah mengeluarkan Peraturan Daerah (PERDA) No. 5 Tahun 2003 tentang Pencegahan dan penaggulangan HIV/AIDS. Tetapi sampai dengan akhir tahun 2006, PERDA yang ditetapkan pada tanggal 27 September 2003 tidak terlalu banyak berpengaruh dalam pencegahan perkembangan virus HIV/AIDS. 3. Contoh Kasus: Penyebaran HIV/AIDS di Pedalaman Papua Selatana. Penyebaran HIV/AIDS di Distrik Assue, Kab. Mappi     ”Laki-laki usia 25 tahun tergolek lemah di tempat tidur PUSKESMAS. Dengan kondisi badan kurus (35 kg), mulut penuh sariawan dan diare sudah 4 bulan. Keluarga bingung sekali penyakit apakah itu…..? Lelaki itu dirawat sekitar 3 hari lalu menghembuskan nafas terakhir. Dari pihak PUSKESMAS curiga kalo lelaki tersebut mengidap HIV/AIDS. Tetapi belum sempat darah diambil untuk diperiksa sudah meninggal. Lalu petugas PUSKESMAS mengambil darah istri penderita (tetapi sebelumnya dikonseling dulu) yang saat itu kondisinya sehat. Beberapa minggu kemudian hasil tes darah HIV/AIDS ada dan ternyata POSITIF. Setelah dikonseling si ibu itu diberitahu tentang hasil pemeriksaan darahnya. Dari keterangan si ibu, suaminya selama hidupnya adalah seorang ”suami baik-baik”. Jadi dia tidak tahu dari mana penyakit itu datang….)[3] Ini adalah refleksi pengalaman dari seorang dokter yang bertugas di Distrik Eci, Kab. Mappi.     Penyakit HIV/AIDS adalah gejala yang paling menonjol di Distrik Assue dan Eci. Dari PUSKESMAS Eci, diperoleh data bahwa pada tahun 2002 ditemukan 8 orang pengidap HIV/AIDS. Satu setengah tahun kemudian pengidap penyakit itu telah bertambah. Pada bulan Mei 2004 tercatat 35 orang pengidap HIV/AIDS di Distrik Assue. 35 orang itu terdiri dari para pekerja seks komersial (PSK) dan warga masyarakat biasa termasuk penduduk asli Papua. Menurut seorang kepala kampung di Distrik Eci yang tidak mau disebut namanya, mengatakan bahwa penyakit HIV/AIDS itu diduga kuat telah tersebar ke hampir seluruh kampung di Distrik Assue. Hal itu dibuktikan dengan kehadiran sejumlah PSK di hutan-hutan lokasi pencarian kayu gaharu. Pemeriksaan kesehatan terhadap para PSK pun tidak sering. Bagi PSK yang berpraktek di Eci hampir selalu mendapat pemeriksaan rutin dari pihak PUSKESMAS Eci. Sedangkan yang berada di dusun-dusun pihak PUSKESMAS mengalami kesulitan, karena keterbatasan dana dan tenaga. Menurut Kepala Puskesmas Eci, dr. Praptono, bahwa ada indikasi penyebaran HIV/AIDS telah sampai ke kampung-kampung. ”sebenarnya ada penduduk asli yang meninggal di kampung-kampung dengan gejala HIV/AIDS.” Ungkap dr. Proptono. Kondisi itu semakin bertambah buruk dengan adanya oknum-oknum tertentu yang mendatangkan perempuan-perempuan yang dipekerjakan sebagai PSK untuk melayani para pencari kayu gaharu yang berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya berada di tengah hutan. Biasanya setelah PSK itu tiba di Eci mereka diantar oleh oknum-oknum tersebut langsung ke lokasi-lokasi tempat pencaharian kayu gaharu di tengah hutan. Dan di sanalah mereka dapat berpraktek sebagai PSK. Menurut P. Decky Ogi, MSC (Direktur SKP-KAM), ”Praktek PSK yang jauh dari pengawasan instansi kesehatan seperti ini sangat rawan dan berpotensi sekali bagi penularan penyakit kelamin dan HIV/AIDS yang semakin hari semakin bertambah pengidapnya di wilayah Kabupaten Mappi, khususnya di Distrik Assue.”     Lebih dari itu, pelayanan oleh petugas kesehatan belum merata di kampung-kampung dikarenakan biaya operasional dan tenaga serta fasilitas yang terbatas pula. Sehingga memungkinkan oknum tertentu memanfaatkan situasi tersebut untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di kampung-kampung dengan menarik bayaran yang cukup mahal. Untuk ongkos sekali suntik berkisar antara Rp. 50.000-Rp.100.000.     Untuk melayani warga masyarakat yang menderita sakit di kampung-kampung, maka mereka dapat ke PUSKESMAS di Eci. Pemerintah Daerah Kab. Mappi telah menugaskan seorang dokter umum di PUSKESMAS Eci. Selain dokter umum, telah ditetapkan pula 22 orang tenaga para medis untuk memberikan pelayanan kesehatan masyarakat dari 15 kampung di Distrik Assue. Masyarakat di Kampung-kampung yang menderita penyakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan dapat pergi ke PUSKESMAS Pembantu (PUSTU). Di PUSTU selain dilakukan penyuluan-penyuluan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan juga dilakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat penyembuhan, terutama penyembuhan penyakit-penyakit ringan. Bila ada masyarakat menderita penyakit yang berat, maka biasanya diberikan rujukan kepada mereka untuk melanjutkan pengobatan di PUSKESMAS Eci. PUSKESMAS dibuka setiap hari kerja dari pukul 08.00 WIT hingga pukul 15.00 WIT. Di Kampung Eci, Aboge, Khanemi, Homang, Khabu, Sigare dan Kaitok telah dibangun PUSTU dan di situ telah ditempatkan seorang tenaga medis. Disamping itu, telah ditempatkan Bidan Desa (Bides) di kampung-kampung. Namun, karena kesulitan biaya transportasi untuk pulang ke tempat tugas di kampung. Kesulitan lain yang dihadapi adalah kurang adanya dukungan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan seorang Bidan Desa.    

Untuk mengobati penyakit pada umumnya penduduk asli yang tinggal di kampung-kampung lebih suka pergi ke Pustu yang terdekat dengan kampung mereka. Ada juga yang lebih suka langsung ke PUSKESMAS di Eci. Akan tetapi untuk pergi ke PUSKESMAS Eci, masyarakat harus mengeluarkan uang untuk membayar ongkos long boat yang cukup mahal. Namun demikian, ada penduduk asli yang masih tetap saja percaya kepada kemampuan para dukun kampung untuk mengobati penyakit mereka.

b. Pengalaman Seorang Ibu Rumah Tangga ODAH di Kota Merauke    

Berikut ini adalah hasil wawancara Tim SKP-KAM dengan seorang ibu rumah tangga, korban HIV/AIDS di Kota Merauke pada bulan Desember 2006. Ibu…bolehkah ibu berceritah tentang pengalaman ibu dengan suami ibu yang adalah ODHA?     Pada tahun 2004, saya mengetahui bahwa suami saya mengidap penyakit HIV/AIDS. Gejalan HIV/AIDS ini bermula dari suami saya mengalami sakit mencret-mencret di kampung Erom dan berobat di RSUD Merauke.

Foto 3: Seorang ibu dan anaknya di Dusun Haju, Distrik Haju, Kab. Mappi

     Penyakit HIV/AIDS ini didapat dari para perempuan yang dikenalnya waktu masih bujang. Karena sering suami saya sering jalan-jalan dan kenal perempuan. Dua perempuan yang pernah dikenalnya, yakni seorang perempuan asal Jawa dan seorang lagi asal Manado. Perempuan asal Manado mempunyai penyakit HIV. Sehingga suami saya tertular HIV dari perempuan Manado itu tetapi kami pihak keluarga tidak tahu. Awalnya, suami saya keberatan untuk memberitahu kepada keluarga bahwa ia menderita penyakit ini, tetapi karena didesak oleh saya akhirnya ia memberi tahu apa yang dideritanya.     Pengakuan suami saya bahwa ia telah menderita HIV/AIDS, keluarga tetap menerimanya. ”Mama ini yang melahirkan engkau, tidak mungkin mama tinggalkan engkau. Mama rawat dengan baik, mama beri makan dan mama akan rawat engkau di rumah ini”. Kata Ibu dari suami saya ketika suami saya mengakui keadaan sakit yang dideritanya. Sementara itu, saudara-saudara suami saya mengatakan bahwa ”masukan saja di tempat karantina penderita di Yasanto”. Tetapi Ibu dari suami saya tidak mau. ”Mama akan menjaga dan merawatmu nak”. Ungkap mama.     Kami keluarga merasa kecewa terhadap Pokja AIDS yang menangani suami saya. Suami saya adalah seorang ODHA yang aktif dalam pelbagai kegiatan ODHA. Ia menjadi ketua Forum CBS (Cendrawasi Bersatu). CBS adalah kelompok pembinaan para ODHA. Ketika suami saya akan kami antar ke RSUD, kami melaporkan ke Pokja AIDS dan dari Pokja AIDS tidak ada tanggapan serius. Bpk. Lamera, yang adalah konselor bagi suami saya, juga tidak pernah mau datang atau melihat, bahkan keadaan suami saya dijadikan bahan lelucon saja. Jujur saja, keluarga, terutama saya istrinya sangat kecewa dengan Pokja AIDS dan pelbagai pihak yang menangani masalah HIV/AIDS. Karena waktu masih kuat, suami saya selalu dipakai untuk berbicara di forum-forum dan banyak dana yang mengalir untuk ODHA, tetapi dana itu kemana? Saya tidak tahu. Waktu Ibu Ani Yudoyono (Ibu Negara) berkunjung ke Merauke dan suami saya menjadi wakil ODHA untuk berbicara kepada Ibu Negara dan Ibu Negara memberi bantuan kepada Yayasan Yasanto sekitar 100 jutah tetapi kami ODHA dapat apa? Uang dari Ibu Negara itu diambil semua oleh pihak Yayasan Yasanto. Sampai dengan meninggal suami saya tidak diperhatikan dengan baik. Waktu meninggal kami menghubungi Pokja AIDS, tidak ada tanggapan yang baik, bahkan untuk datang lihat mayat saja tidak.     Kapan ibu mengetahui bahwa ibu terinveksi HIV/AIDS?     Saya mengetahui bahwa saya terinveksi HIV/AIDS, setelah suami saya mengatakan bahwa dirinya telah mengidap viris HIV/AIDS, lalu saya langsung tes darah dan hasilnya positif saya terkena virus HIV/AIDS. Suami saya tertular HIV/AIDS karena hubungan sek. Kapan ibu menikah dengan suami ibu?     Kami menikah pada tahun 2004. Awalnya, saya adalah seorang janda yang memiliki dua anak. Setelah ibu mengetahui bahwa ibu telah mengidap virus tersebut, apa perasaan ibu saat itu?     Saya kecewa berat. Saya tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya terinveksi HIV/AIDS. Dalam pikiran saya mengatakan bagaimana anak-anak saya kemudian. Saya menyesal bersuamikan orang yang tidak setia. Akan tetapi setelah lama kelamaan, saya coba untuk menerima kenyataan. Saya coba untuk terbuka sama keluarga. Awalnya, keluarga saya kaget dan tidak menerima saya. Saya ditolak dalam keluarga. Akhirnya saya pasrah kepada Tuhan, akhirnya Tuhan membuka jalan lewat keluarga yang mau menerima saya kembali walaupun itu tidak dengan sepenuh hati. Kapan ibu mulai melakukan pengobatan?     Pada saat saya tes darah dan hasilnya positif, lalu saya melakukan pengobatan. Apa gejalah pertama kali?      Gejala pertama kali yang saya rasakan, yaitu gatal-gatal dan keputian yang berlebihan. Bagaimana cara pelayanan dari petugas medis terhadap ibu?     Awalnya pelayanannya bagus tetapi ada beberapa dokter yang pelayanannya kurang bagus.Yang bagus seperti apa saja? Yang kurang bagus seperti apa saja?     Yang bagus itu dr. Mala dan dr. Inge. Pelayanan mereka sangat baik dan teratur dalam cara memberikan obat, tes darah setiap enam bulan dan memberikan semangat, dukungan serta perhatian. dr. Paul dan dr. Merlin, pelayananya kurang bagus, dimana cara memberikan pengobatan tidak teratur, asal-asalan dan pengambilan ter darah juga tidak teratur.c. Kisah seorang ODHA yang ingin bertahan hidup untuk anak-anaknya.     Berikut ini adalah hasil wawancara Tim SKP-KAM dengan seorang ibu rumah tangga korban HIV/AIDS pada bulan Februari 2007. Kapan ibu mengetahui bahwa ibu sudah tertular dan apa yang menyebabkan ibu tertular?     Saya mengetahui dari suami saya, setelah dia meninggal 25 januari 2004 dan saya putuskan untuk tes darah dan hasilnya positif, saya pun tertular dari hubungan seks. Semuanya ini karena suamu saya hidung belang dan tidak pernah ada keterbukaan, kejujuran dari suami saya. Setelah saya mengetahui bahwa saya sudah terinveksi saya merasa putus asa, merasa minder, kurang percayah diri, saya menangis terus menerus. Saya belum bisa menerima semuanya ini, tetapi saya coba untuk kuat dengan cara pendekatan diri kepada Tuhan.Bagaimana dengan keluarga ibu setelah mengetahui hal ini?     Saya terbuka kepada mereka dan mereka mau menerima saya, memberikan saya dukungan, semangat untuk hidup, sehingga saya tidak merasa sendirian dan tetanggapun masih memberikan saya semangat dan dukungan untuk tetap kuat.Apa gejala pertama kalinya?     Pertama kali, keringat yang berlebihan dan bisul pada paha tetapi itupun sudah sembuh.Bagaimana cara pelayanan dari petugas medis atau dokter?     Saya mau diberi HRV tetapi saya Belum Siap dan saya melihat kenyataan bahwa banyak yang gagal minum HRV, pelayanannya bagus, tetapi saya kesal pada waktu pengambilan darah (tes darah) tidak sesuai dengan aturan, seharusnya 6 bulan saya Belem sampai 6 bulan sudah mau diperiksa darah lagi, saya melakukan tes darah lagi. Saya melakukan tes darah juga mengeluarkan biaya yang cukup besar, serta ambil obat semuanya serba bayar dan dalam hati saya bertanya apakah kami perlu mengeluarkan uang atau tidak? Karena setahu saya dana untuk penyakit ini ada dan cukup besar. Saya punya seorang pendamping, yaitu seorang pendeta. Dia memberikan saya surat untuk setiap bulan mendapat bantuan berupa susu, beras, kacang hijau, pokoknya bahan makanan yang bergizi. Setelah saya tandatangan bantuan yang dijanjikan itu tidak pernah datang kepada saya, entah berupa kacang hijau atau susu tidak pernah dan saya merasa ditipuh dan diperalat untuk kepentingan pribadi mereka, saya kecewa sekali dan saya melaporkan pendeta itu kepada klasis dan diberikan beberapa pilihan dan pendeta memilih untuk pindah. Saya mau buat statu tulisan dan pendeta mau membantu saya, tetapi awalnya sudah tidak Jujur saya tidak mau. Saya percayah Tuhan pasti memberikan saya jalan dan pasti ada yang mau memberikan bantuan dalam penulisan ini.Bagaimana tanggapan dari kedua anak ibu?     Saya belum bisa memberitahu kepada mereka tentang penyakit saya. Saya takut mereka menjadikan hal ini sebagai beban pikiran dan pasti mereka tidak bisa menerima hal ini. Saya takut mereka mereka akan sedih dan saya akan mencari waktu yang tepat kalau itu sudah waktunya, maka saya akan kasi duduk mereka berdua dan saya akan memberitahukan kepada mereka tentang penyakit ini. Jujur saja saya sedih sekali tetapi saya selalu berdoa dan terus berdoa minta kekuatan dari Tuhan. Pokja meminta saya untuk berangkat ke Jayapura tetapi tidak memberikan uang saku kepada saya. Saya putuskan untuk tidak berangkat lagi kalau ada permintaan. Hidup saya bukan untuk Pokja tetapi untuk anak-anak saya dan saya punya satu motivasi ”saya hidup untuk kedua anak saya”. Karena saya ingin membagikan suka maupun duka bersama kedua anak saya. Susah maupun senang, melihat tawa dan tangis mereka walaupun itu Cuma sekedar.   4. Kecenderungan di Masa Depan     Infeksi HIV melalu hubungan seks di Papua Selatan cenderung tetap meningkat pada masa empat tahun mendatang berkaitan dengan bertambahnya angkah jumlah penduduk yang masuk ke kota-kota di Papua Selatan tak terkontrol, penularan HIV melalui penyebaran tempat-tempat pelacuran yang tak terkontrol,kesadaran untuk memakai kondom yang minim serta para PSK yang terinveksi HIV yang berpindah-pindah tempat. Selanjutnya, pemekaran wilayah administratif di Papua Selatan menjadi faktor pendukung tidak langsung dalam penyebaran HIV/AIDS. Jumlah penduduk papua Asli yang terinfeksi HIV/AIDS akan terus meningkat dalam empat tahun ke depan. Sehingga sangat dikhawatirkan penyebaran epindemi baru serta kasus AIDS yang dirawat akan bertambah banyak. Kematian akibat AIDS di antara kelompok penduduk usia produktif akan terus meningkat dan terjadi kematian masal terhadap penduduk papua asli yang kini 30 % (184.172 orang: Sumber dari BPS Papua 2006) dari penduduk yang ada di Papua Selatan.     Stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) masih ada. Hal ini disebabkan karena pemahaman masyarakat mengenai HIV/AIDS belum memadahi. Menurut Mantri Adi (Staf Pokja Kab. Merauke), ”Kami yang sudah empat tahun menangani masalah HIV/AIDS ini menemukan bahwa diskriminasi terhadap ODHA masih ada. Contoh, anak perempuan yang terbukti terinveksi HIV/AIDS ditolak oleh keluarganya di Kampung Buti. Jujur saja LSM-LSM di Merauke tidak berhasil mengkampayekan masalah HIV/AIDS.” Dalam investigasi Tim SKP-KAM pada tanggal 11 Maret 2007 ditemukan bahwa stigmatisasi dan diskriminasi masih berlaku dalam masyarakat di kota Merauke, misalnya pada peristiwa kematian dari ODHA (Antonia) asal suku Muyu di RSUD Kab. Merauke. Pihak keluarga tidak hadir di pemakaman dan para pengantar jenaza takut naik mobil jenaza. Ketika hal ini ditanyakan kepada petugas Pokja AIDS Kab. Merauke, hal ini memang sering terjadi dan sungguh sangat menyedikan. C.Faktor- Faktor (Modus) Penularan HIV/AIDS Saya mendapat HIV/AIDS dari suami saya yang sekarang sudah meninggal. Saya kaget sekali. Saya sangat stres. Saya tidak tahu suami saya tertular darimana karena sejak dia bertugas di Asmat tidak ada kejujuran. Saya ketahuan positif HIV/AIDS tahun 1999 disaat suami saya meninggal karena HIV/AIDS. Anak saya ada tiga, yang bungsu sudah meninggal pada umur 6 bulan karena tertular HIV/AIDS. Mungkin karena saya telah terkena HIV/AIDS dan sedang mengandung dia. Saya merasa sangat berdosa terhadap anak saya yang ketiga itu.”Sepenggal kisah di atas ini adalah hasil wawancara Tim SKP-KAM dengan korban HIV/AIDS, seorang ibu berumur kurang dari 30 tahun pada bulan Januari 2007. Keluarga dan masyarakat sudah tahu kondisinya sebagai ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dan hingga saat ini ibu ini menutup diri terhadap keluarga dan warga masyarakat di tempat dia tinggal.Awal mula virus HIV/AIDS ini ditemukanya di Merauke disinyalir dari nelayan Tahiland yang bekerja di kapal-kapal ikan yang beroperasi di perairan arafuru hingga pantai selatan Merauke. Namun pada perkembagan dewasa ini penyebaran HIV/AIDS bukan saja konsentrasi  pada ibu kota Kabupaten Merauke, tetapi telah menyebar dibeberapa distrik di daerah pedalaman. Arus urbanisasi penduduk lokal pedalamam ke kota Merauke cukup tinggi maupun sebaliknya menambah cepatnya penularan HIV/AIDS pada penduduk lokal setempat khusus pada kelompok ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak. Perdaganag minuman keras ,vcd Porno yang didukung oleh masuknya perdagang-pedagan sampai ke pelosok-pelosok pedalaman Papua Selatan turut memberikan ”bahan bakar” penularan HIV/AIDS melalui bisnis prostitus dan miras.  1. Menjamurnya Praktek prostitusi Tempat prostitus di Marauke cukup banyak dan kasat mata sudah tersebar sampai hingga ke pedalaman dan kampung-kampumg yang terpencil. Di desa yang terisolir di tengah hutan belantara seperti di distrik Assue (Eci) terdapat pula perdaganagn seks seperti lokalisai, perempuan pekerja seks komersial, bar, diskotik,panti pijat dan warung remang-remang yang didepan menjual makanan tetapi didalamnya menyimpan perempuan molek dan minuman keras yang siap di jajakan kepada para pengunjung. Hasil invetigasi SKP-KAM di Kabupaten Merauke terdapat 15 tempat postitus yang resmi yakni 13 bar dan diskotik, 2 diantaranya merupakan tempat lokalisasi yang menyediakan para pekerja seks dari berbagai daerah seperti dari Jawa, Manado, Makassar. lokalisasi yang dikenal di Merauke yakni di yobar (dengan nama SMA lima) dan di Belakang Rumah Sakil (belrusak). Para pekerja seks ini didatangkan dari luar Papua yakni dari jawa, sulawesi, Ambon dengan mengunakan kapal PT.PELNI  yang menyingahi pelabuhan Merauke 2 kali dalam sebulan. Para PSK ini ditampung di tempat bar antara 6-25 orang, tergantung dari banyakanya tempat yang disediakan dalam bar. Sedangkan yang ditempatkan di lokalisai antara 5 sampai 15 orang. Lokalisasi Yobar menyediakan 14 rumah dengan satu rumah ditempati oleh PSK sebanyak 10-15 orang.  Rata-rata mereka yang menjadi PSK berusia antara 15-40 tahun  ada pula PSK yang melakukan hubungan seks dini yakni berusia antara  10-12 tahun. Melakukan pekerjaan seks dini sangat renta terhadap penularan penyakit HIV/AIDS. Baik pekerja seks di bar maupun pekerja seks jalan sering berganti tempat beroperasi, ada yang setiap enam bulan dikirim oleh mucikari untuk berlayar  mencari di luar kota Merauke seperti di Assue, Asmat, Asgon bahkan ada yang diberangkatkan ke Timika dan Jayapura. Hal ini dilakukan untuk memberi semangat kepada para PSK untuk tidak jenu melayani tamu di satu tempat saja. Singkatnya bukan hanya ada mutasi dalam sistem pemerintahan tetapi juga pada bisnis prosetitusi.Kenyataan lain yang diketahui bahwa untuk pusat-pusat jajan seks lainnya seperti bar, diskotik panti pijat dan warung remang-remang ada indikasi terjadinya perdagangan perempuan  muda dan remaja umumnya dari Manado, Makasar dan Jawa yang datangnya dengan janji dipekerjakan di Kafe maupun di perusahaaan. Namun setibanya di merauke mereka dikurung di suatu tempat dan perlahan-lahan dipaksa untuk bekerja sebagai pelayan seks. Apalagi ketika mereka didatangkan telah dikenakan biaya perjalanan dan pembelian sepatu atau baju yang dijadikan sebagai utang untuk menjerat para perempuan ini untuk bekerja melunasi utang mereka. Fakta terjadi pada November 2005 dimana 3 orang melarikan diri dari bar tempat mereka bekerja padahal baru 3 hari mereka ditampung di tempat tersebut. Mereka meminta bantuan kepada masyarakat dan dibantu oleh SKP-KAM memulangkan mereka ke tempat asal mereka di Makassar. 3 orang perempuan ini merasa ditipu dan dipaksa untuk bekerja sebagai perempuan panggilan padahal menurut mereka didatangkan untuk bekerja sebagai pelayan kafe. Salah seorang diantara mereka yang didatang mempunyai suami dan dalam keadaan hamil 2 bulan. Disamping prostitusi yang resmi terdapat pula prostitus tidak resmi yakni pekerja seks jalanan (PSJ)yang berada ditempat-tempat yang rawan tertular HIV/AIDS. Para PSJ ini mulai bermunculan akibat krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997. Kelompok ini mayoritas asli Papua. Hal ini sangat menyedihkan. Dibanding dengan kelompok PSK yang sering mendapat kontrol pelayanan kesehatan dari Dinas Sosial maupun pihak kesehatan para PSJ justru sulit mendapat pelayanan yang sama. Hal yang sama menyulitkan juga dalam hal pengawasan terhadap kasus-kasus medis infeksi menular seksual semisal HIV/AIDS ini. Termasuk kontrol terhadap jalannya program pengunaan kondom sebagai salah satu alternatif pencegahan yang sedang ramai dikampanyekan di Papua termasuk di Merauke. Oleh karena para PSJ selalu bertransaksi di jalan, maka harga yang ditawarkan untuk pelayanan seks sangat murah sehingga mudah menjadi kelompok sasaran kaum lelaki berlatar ekonomi rendah.  Jelas bahwa praktek prostitusi yang merajalela menjadi salah satu pemicu utama merebaknyanya HIV/AIDS di Papua. Dengan adanya praktek prostitusi yang cukup banyak ini mempermudah  orang melakukan seks bebas dengan berganti-ganti pasangan apalagi tanpa mengunakan kondom. Dengan banyaknya tempat-tempat prostitusi dan seks bebas ini di Kabupaten Merauke semakin banyak pula orang akan terinfeksi virus HIV/AIDS. Melihat bahaya ini berbagai kalangan  yang mewakili gereja,adat,dan kelompok  perempuan telah menuntut agar tempat-tempat perdagangan seks tidak mendapat tanggapan serius dari pemerintah daerah yang selalu mendahulukan Pendapat Asli Daerah (PAD)bahkan cenderung mempertahankan tempat-tempat hiburan dimaksud menjadi sumber Pendapat asli Daerah(PAD). Kenyataanya hampir semua pusat bisnis seperti ini mendapat perlindungan dari aparat keamanan baik polisi dan TNI, kendati pimpinan kedua lembaga seringkali menolak sinyaleman tersebut. Belum juga terdapat langka serius dari pemerintah pusat maupun daerah untuk menghentikan praktek illegal dalam mendatangkan perempuan dari luar Papua dan dijadikan PSK yang menjamur sejak tahun 1990-an di Papua. Begitu pula belum adanya usaha pemerintah untuk menyelesaikan persoalaan PSJ yang berakar pada tekanan ekonomi dan tingkat kesejahterakan keluarga-keluarga di Papua yang rendah. Para PSJ bukan saja ibu rumah tangga, para pelajar SMP dan SMU serta mahasiswa, mereka terpaksa melakukan hal tersebut karena himpitan ekonomi dan kurangnya perhatian orang tua terhadap pergaulan mereka. Para pekerja seks ini sangat rawan tertula penyakit HIV/AIDS. 2. Kemudahan Mengakses Minuman Keras, Lem Aibon dan Narkoba Sama halnya dengan dunia gelap prostitusi, minuman keras menjadi pembunuh dan merusak mental masyarakat. Miras menjadi media yang turut mempermudah penyebaran virus HIV/AIDS yang sehari –hari dapat disaksikan adalah mereka yang sudah mabuk karena mengkonsumsi miras berkeliaran dijalan-jalan kemudian memuaskan diri dengan mengunjungi tempat-tempat lokalisasi  dan para PSJ di wilayah beresiko tinggi dalam menularkan penyakit infeksi seksual. Kaum laki-laki yang beristri yang mabuk akhirnya tertular membawa pulang ’kado’ yang sama untuk istrinya di rumah  dan selanjutnya sang istri menjadi renta untuk menularkan kepada bayinya virus HIV/AIDS. Maka tidak heran bila kurun waktu yang sangat singkat ibu rumah tangga menjadi kelompok penderita kedua terbesar HIV/AIDS setelah para PSK. Sebagaimana halnya prostitusi berbagai keberatan atas meluasnya peredaran miras telah mendapat protes dan penolakan dari berbagai elemen masyarakat, namun nampaknya bisnis ini seperti sulit untuk ditutup mengingat kompleksitas kepentingan berbagai pihak yang terlibat didalamnya terutama pihak keamanan yang memang melindungi jalur-jalur distribusi hingga ke pedalaman-pedalaman maupun para kontributor besar yang begitu kuat serta begitu dekat dengan kalangan pemerintah lokal menjadikan minuman keras sebagai salah satu sumber Pedapatan Asli daerah. Miras tidak hanya mempermudah penularan HIV/AIDS tetapi juga menjadi pemicu tingginya angka kekerasa terhadap perempuan dan anak-anak. Hal ini seperti dapat kita baca pada harian lokal yang memberitakan perempuan  dan anak menderita kekerasan fisik, juga seksual seperti pemerkosaan yang dilakukan oleh laki-laki yang mabuk karena miras.Selain miras, lem Aibon dan narkoba juga menjadi faktor yag mendukung terjadinya hubungan seks di luar nikah. Khususnya untuk lem aibon, ini biasanya digunakan oleh anak-anak Papua asli yang sulit mendapat akses untuk membeli minuman keras. Lem aibon biasanya digunakan dengan cara menghirup baunya, yang kemudian akan membuat si pengguna mengalami ekstasi, dan libidonya naik. Hal ini kemudian mendorong si pengguna untuk melakukan hubungan seks.  Anak-anak Papua asli ini biasanya mengisap lem aibon di beberapa tempat, antara lain pasar lama Ampera Merauke, dan beberapa gedung kosong di kota Merauke. Realitas ini kurang mendapat tanggapan serius dari pemerintah daerah.Hal yang sama juga dengan narkoba. Narkoba biasanya di datangkan dari kota-kota besar di luar Papua, maupun didatangkan dari negara tetangga PNG.        3. Kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan Nona Yully .M. Saya berusia 25 Tahun. Saya tidak tamat SD, karena saya putus sekolah di kelas dua SD. Saya menjadi pekerja seks komersial (PSK) karena ketika kedua orang tua saya meninggal, saya diangkat oleh sebagai anak pertama dari 7 bersaudara oleh keluarga Mahuze, tetapi saya sering dipukuli, diusir dari rumah karena dianggap bukan anak akndung dan menyusahjan keluarga Bapak Mahuze. Saya menjadi PSK untuk menghidupi diri sendiri, oleh karena itu setiap malam saya berpindah dari pelukan satu laki-laki ke laki-laki lain. Uang yang saya peroleh sebagai PSK rata-rata Rp. 20.000-Rp. 50.000 per tamu. Dari penghasilan saya itu, saya harus membayar  germo/mami perkamar Rp. 5.000 satu kali perorang. Kalau menginap di bayar ke germo  Rp. 50.000 perorang. Kadang melayani tamu tanpa membayar. Tantangannya sering melayani tamu pada saat mabuk dan sering dipukul dengan paksan dan dilayani tanpa membayar. Saya berkeinginan untuk keluar dari masalah ini,tapi tidak punya modal. Dan Melihat beberapa teman terinveksi HIV/AIDS. Ada perasan takut,jangan sampai terinveksi juga. Setiap tiga bulan sekali, pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh Yasanto,POKJA dan Rumah Sakit.” Kisah ini adalah hasil wawancara dengan Nona Yully M, seorang PSK lokal yang beroperasi di belakang Rumah Sakit Umum Daerah Merauke.Tingkat kemiskinan yang tinggi dan rendahnya tingkat pendidikan  di kalangan masyarakat  turut menimbulkan kerentahan terhadap  hidup bagi keluarga mereka. Banyak orang tua yang tidak sanggup lagi memberikan kesejahteraan lahir maupun batin kepada anak-anaknya menyebabkan remaja perempuan banyak yang terlibat dalam seks bebas, seks usia dini kemudian menarik diri mereka lebih jauh menjadi PSK dan PSJ. Rendahnya tingkat pendidikan dikalangan masyarakat menimbulkan penggangguran dimana-mana,sulitnya memperoleh lapangan pekerjaan bagi kaum perempuan ditambah lagi meningkatnya kebutuhan hidup yang semakin mendesak dan harus dipenuhi membuat mereka terpaksa masuk dalam pekerjaan demikian PSK dan PSJ. Bila dilihat dengan angka persentase yang disebabkan karena dikecewakan oleh pacar atau suami hingga mereka terjun kepekerjaan ini (10%). Namun ada pula yang melakkan pekerjaan ini dengan kesenangan(17%) yang memperoleh kesenangan atau kepuasan seks setiap saat(3%), tetapi ada pula yang dipaksa oleh suami mereka baik itu suami sah maupun suami kontrak dan pacar (65%). 

4. Tidak memadahaniya fasilitas Pelayanan KesehatanKami tidak pernah mendapatkan dana dari pemerintah atau dari luar negeri untuk menangani masalah HIV/AIDS. Setiap penderita HIV yang ditemukan di rumah sakit ini, kami selalu memberikan rujukan ke Pokja.Tetapi kami di sini punya 3 (tiga) orang tenaga yang dilatih untuk masalah HIV/AIDS.” Ini adalah ungkapan dari pihak rumah sakit Bundah Pengharapan Merauke.Minimnya fasilitas dan tenaga kesehatan pada umumnya di Papua, khususnya di daerah Papua Selatan sudah menjadi hal yang biasa. Merauke yang merupakan daerah beresiko tinggi belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Fasilitas tes darah yang baru disediakan oleh pemerintah kabupaten Merauke saat berlakunya Otonomi Khusus. Hal ini didukung juga oleh perhatian kepala daerah yang nyatanya dijabat oleh orang asli Papua.Yang juga sensitif terhadap masalah sosial ini.selain itu pula terbantu oleh dorongan dan tuntutan dari pihak gereja, kelompok masyarakat adat dan tentu LSM peduli HIV/AIDS.Dari segi pentingnya upaya prefensi, fasilitas tes darah dan konseling amat membantu dalam menekan fenomena ’gunung es’ diantara anggota masyarakat yang telah terinfeksi HIV/AIDS yang belum dapat diketahui. Ketersediaan fasilitas medis di distrik-distrik di pedalaman sangat memungkinkan bagi penyebaran penyakit ini. Oleh karena para perawat dituntut untuk melayani masyarakat dengan fasilitas seadahnya termasuk jarum suntik yang terpaksa dipakai bergantian dengan pasien lain. Tuntutan ini sudah dapat diatasi di daerah perkotaan yang relatif memadai dengan pusat-pusat kesehatan rumah sakit, poliklinik-poliklinik, puskesmas dan sebagainya.  Pada tingkat kesehatan ODHA, ketersediaan obat-obat antiretro virus maupun obat-obat penyakit auportunistik dalam kenyataanya tidak sesuai sesuai dengan jumlah kebutuhan penderita mengingat harga obat ARV yang sangat mahal. Maka tak mengherankan bila usia terlama para ODHA usianya tidak lebih dari tiga tahun kemudian meninggal akibat gizi buruk dan minimya ketersediaan obat-obatan yang dapat membantu ODHA dapat bertahan hidup.    

D.  Respon dan Dampak HIV/AIDS

 

Pemahaman masyarakat tentang HIV/AIDS sangat beragam dalam arti bahwa ada masyarakat yang mengetahui betul tentang HIV/AIDS ada pula yang sama sekali tidak mengetahui apa itu penyakit HIV/AIDS. Hal ini tergantung juga dari tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat. Selain itu apakah masyarakat yang bersangkut pernah mengikuti ceramah-ceramah tentang HIV/AIDS. Berbagai masyarakat dengan pemahamanya memberikan saran dan usulan kepada pemerintah daerah maupun LSM untuk mengimbagi.    

a.  Para Pemuda dan mahasisiwa/i Beberapa pemuda yang ditemui yang tinggal di kota Merauke pada umumnya mereka sudah pernah mendengar menganai penyakit HIV/AIDS. Ada diantara mereka yang pernah mengikuti ceramah-ceramah dan pelatihan-pelatihan tentang HIV/AIDS yang diberikan oleh LSM yang peduli AIDS di Merauke. LSM yang memberikan pelatihan ceramah, diskusi  diantaranya dari Yasanto (Yayasan Santo Antonius), Eskulap dan WVI (Wahana Visi Indonesia). Eskulap bekerjasama dengan para tokoh-tokoh agama yang berada di Merauke. Salah satunya adalah tokoh agama katolik di tiap paroki untuk memberikan materi mengenai HIV/AIDS disaat para muda-mudi katholik akan menerimakan sakramen krisma. Dari ceramah dan diskusi inilah membuat para pemuda dan pemudi mengetahui dan memahami tenang virus  HIV/AIDS yang merupakan penyakit berbahaya.Pada dasarnya para pemuda dan pemudi baik pemuda putus sekolah maupun mahasiswa dan mahasiswi mengetahui tentanya penyakit HIV/AIDS. Ketika Tim SKP-KAM mengadakan investigasi mereka sanga bersemangat untuk menjawabnya. Dengan demikian jawaban mereka membuat Tim SKP-KAM berpikir spontan kalau mereka dapat melindungi diri dari penyakit tersebut, tetapi kalau dilihat dalam tabel 1.3 di atas, ada sebuah masalah dengan jumlah penderita HIV/AIDS pada kaum mudah sangat tinggi. Pertanyaanya, sebenarnya ada apa dengan kaum mudah? Dari data yang dikumpulkan memperlihatkan bahwa pada tingkat pemahaman tentang bahaya HIV/AIDS telah dimiliki oleh kaum muda, tetapi tidak terlalu berpengaruh banyak pada prilaku hubungan seks di luar nikah.  

b.        Masyarakat Demikian halnya para pemuda dan pemudi, masyarakat pun pada umumnya telah mengetahui mengenai penyakit HIV/AIDS. Pengetahuan diperoleh dari pelbagai spanduk tentang HIV/AIDS yang dipasang di pelbagai tempat, iklan di TV maupun Radioa RRI, broser, Tabloit Katane, Tabloit Tribum Maleo, dan Koran Cendrawasi Pos serta penyuluan-penyuluan dari petugas kesehatan dan LSM-LSM peduli HIV/AIDS. Pada kelompok ini ada keluarga mereka yang mengetahui tentang penyakit ini saling mengingatkan satu sama lain untuk menjaga perilakunya agar tidak  menularkan maupun tidak ditularkan penyakit yang berbahaya ini. Ketika ada warga mereka  yang terserang atau mendapat penyakit HIV/AIDS mereka melapor dan memberitahukan kepada  yayasan peduli AIDS yang sering datang berkunjung untuk memberikan memperhatikan dan pelayanan kesehatan bagi penderita. Pada umumnya kelompok masyarakat ini adalah warga masyarakat yang tinggal di pusat kota dengan tingkat pendidikan dan pelayanan kesehatan yang memadai.  Tetapi tidak dapat disangkal bahwa ada masyarakat yang sampai saat ini tidak mengetahui tentang bahaya HIV/AIDS. Kelompok masyarakat yang tidak tahu HIV/AIDS adalah mereka yang pada umumnya berada di kampung-kampung dan memiliki tingkat pendidikan yang rendah serta kurang mendapat pelayanan kesehatan yang baik. Kelompok masyarakat ini, pada umumnya mereka hanya melakukan pekerjaan sehari-hari sebagai petani yang bekerja di kebun, menjual hasil kebun mereka di pasar. Tanpa mereka mengikuti perkembagan masyarakat sekarang ini. Kelompok masyarakat ini tidak pernah mendengar dan mengetahui tentang apa itu penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS. Pada umumnya mereka  tidak mengetahui penyakit ini, karena tidak ada koran,brosur, famflet tentang HIV/AIDS, maupun melalui media elektornik (radio dan TV). Kebanyakan mereka mengetahui hanya melalui khotbah para pemimpin agama di Gereja tempat mereka tinggal. Menurut salah satu warga Kampung Khanemi, para relawan yang bekerja di LSM peduli HIV/AIDS hampir tidak pernah berkunjung ke kampung untuk memberikan ceramah atau penyuluhan terhadap penyakit HIV/AIDS ditemat dimana mereka tinggal. ”Jujur saja kalau mau dilihat LSM-LSM yang ada di kota Merauke itu kerjanya apa. LSM hanya tahu kampanye tentang masalah HIV/AIDS ini adalah masalah yang serius. LSM hanya sibuk mengatakan kepada lembaga donor bahwa kami di Merauke mengadapi masalah HIV/AIDS yang sangat serius, tetapi kami tidak punya dana. Anda lembaga donor yang punya dana tolong bantu kami. Setelah dananya ada itu kemana. Kami para ODHA yang selama ini dimintai keterangan untuk buat proposal dana tidak pernah merasakan dana itu. Penderitaan kami dijual demi kenikmatan pribadi.” Ungkap salah satu ODHA saat ditemui Tim Investigasi SKP-KAM di Pintu Air, Kota Merauke.  

c.  Tokoh Perempuan dan Tokoh Masyarakat c.1. Tokoh perempuan Masalah HIV/AIDS yang sangat mengkawatirkan kehidupan masyarakat di Papua Selatan mendapat perhatian serius dari para tokoh perempuan di Papua Selatan. Hal ini dapat dilihat dari keterlibatan para tokoh perempuan dalam mengkampanyekan bahaya HIV/AIDS. Dari hasil wawancara dengan beberapa tokoh perempuan, ditemukan bahwa pada umumnya sepakat bahwa masalah HIV/AIDS selalu membawa korban bagi kaum perempuan dan anak. ”Kalau kita lihat dari jumlah penderita, ibu-ibu rumah tangga menempati urutan kelompok 4 terbesar yang terinveksi HIV/AIDS. Ini adalah cermin dari kaum perempuan yang selalu menjadi korban. Perempuan Papua Selatan sering  dijadikan objek pelampiasan nafsu,dan kekecewaan kaum lelaki.” Ungkap Ibu Cristina Ambai (Tokoh Perempuan). Dari data yang diperoleh, menunjukan bahwa pada umumnya kaum perempuan yang hidup di pusat kota, telah mengerti dengan baik soal masalah dan bahaya HIV/AIDS. Hal ini ditunjang dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan punya akses terhadap informasi terhadap masalah HIV/AIDS.Akan tetapi data lain menunjukan bahwa ada kelompok perempuan yang hidup di kota dan mengetahui bahaya HIV/AIDS tetapi tidak berdaya menghadapi masalah dan bahaya HIV/AIDS. ”Sejak menikah sampai sekarang saya sering dipukul oleh suami saya. Suami saya punya kebiasaan mabuk dan suka berkunjung ke Yobar serta selalu pulang tengah-tengah malam. Suami saya selalu memukul saya, jika saya tidak bisa melayani dia untuk berhubungan badan. Saya sekarang positif terinfeksi HIV.” Ungkap ibu Anna, 27 tahun, seorang PSK. Hal ini juga dialami oleh kaum perempuan di kampung-kampung. Menurut Ibu Cristina Ambai, ”keadaan ini bisa terjadi karena dominasi laki-laki yang begitu besar dalam kehidupan keluarga.” Hal lain yang ditemukan dalah tempat pelacuran terlalu banyak di Kab. Merauke membuat perempuan tidak aman untuk bekerja. Banyaknya tempat pelacuran, bar dan diskotik  membuat penyebaran virus HIV/AIDS sangat cepat berkembang. ”Lebih baik tempat-tempat pelacuran tersebut ditutup dan para perempuan PSK dikirim kembali ke daerah asal mereka. Apabila ada PSK yang telah  tertular penyakit HIV sebaiknya mereka dikarantinakan sehingga tidak menularkan penyakit HIV/AIDS kepada orang lain. Mereka dipemeriksa dan diberi pengobatan secara baik.” Ungkap salah satu ibu di Losmen Asmat, Pintu Air, saat Tim SKP-KAM melakukan wawancara.  c.2. Tokoh Masyarakat Sejak ditemukan penyakit HIV/AIDS yang mematikan itu, perkembanganya terus meningkat dari tahun ke tahun. Perubahannya sangat drastis sekali. Tiap hari, tiap bulan bahkan tiap tahun kita mendengar ada saja orang yang terjangkit penyakit ini. Penyakit HIV/AIDS ini sendiri bukan berasal dari Papua namun penyebaran sampai ke papua dan ditemukan di Merauke pada tahun 1992. Menurut Yul Bole Gebze, tokoh masyarakat Malind, ”Dengan adanya penyakit HI/AIDS ini kami merasa bahwa akan terjadi pembunuhan terhadap generasi kami orang papua. Karena para penderitanya walaupun telah menyebar ke segala suku yang ada, namun terlihat lebih banyak yang terinveksi adalah orang papua asli. Jagan sampai terjadi kepunahan terhadap suku bangsa di daerah ini, akibat penyakit AIDS yang berkepanjagan. Untuk itu pemerintah daerah jagan hanya berpangku tangan saja. Harus ada penaganan serius dari pemerintah daerah. Pemerintah daerah pun diharapkan untuk harus terus mencari tahu menyebabkan penyakit ini terus bertambah. Disatu sisi masyarakat pun harus terus diberitahu oleh pemerintah daerah bekerjasama dengan LSM peduli HIV/AIDS tentang penyakit berbahaya ini terutama mengenai cara penularannya dan bagaimana penyebaranya. Masyarakat pun diharapakan terus mencari informasi sebayak mungkin mengeani penyakit berbahaya ini”.Pandangan ini diungkapkan saat Tim SKP-KAM mengadakan dialog dengan beliaw di rumahnya. 

d.        Tokoh Agama      Kabupaten Merauke adalah kabupaten yang tingkat epidemi penyebaran virus HIV/AIDS  cukup tinggi. Penyebaran virus ini telah menyebar ke segala lapisan masyarakat, strata sosial dan golongan agama. Jadi tidak hanya ada pada satu golongan agama tertentu. Sebagai tokoh agama berpendapat bahwa ada keinginan agar umat atau jemaat kami hidup sejahtera lahir batin dan juga sehat jasmani serta rohaninya. Untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS ini, kami bekerjasama dengan lsm-lsm yang peduli terhadap HIV mengadakan penyuluhan di lingkungan gereja atau tempat-tempat ibadah lainnya. Apabila ada umat yang terjangkit secepatnya memerikasakan diri ke rumah sakit serta mengikuti anjuran dokter untuk berobat.      Diharapkan kepada pemerintah untuk membuat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat sehingga tidak memikirkan hal-hal yang negatif dengan melakukan perilaku menyimpang. Satu hal yang penting yakni pemerintah daerah harus jeli terhadap orang asing yang datang ke Merauke dalam hal ini para nelayan Tahiland yang sering ke darat untuk mencari hiburan di tempat-tempat pelacuran baik di lokalisasi maupun diskotik atau bar.      Menurut Uskup Emeritus Keuskupan Agung Merauke, Mgr. J. Duivenvoorde, MSC,  bahwa ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan seputar masalah HIV/AIDS, yakni1.     Tentang kebijakan Pemerintah soal penggunaan kondom. Tidak mungkin pemerintah mewajibkan penggunaan kondom untuk orang tertentu atau tempat tertentu sebab bahan ini di luar wewenang pemerintah. Peraturan yang tidak bisa diawasi atau diselidiki, percuma dan nutteloos (tanpa guna). Hanya tergantung dari moral manusia. Yang bisa dibuat demi kesehatan masyarakat ialah pembinaan masyarakat dan penyuluan.

2.      Tentang pemberantasan pelacuranPemberantasan pelacuran tidak mungkin, jadi baiklah kalau istilah itu diganti dengan penertiban. Dan materi penertiban adalah menentukan tempat dimana hal itu diizinkan atau diniarkan demi kesehatan masyarakat dan syarat-syarat yang harus dipenuhi di tempat itu.

3.     Tentang pengendalian minuman kerasDi banyak negara dan tempat ada peraturan dalam hal ini sampai larangan total baik penjualan maupun penggunaannya. Sebaiknya juga untuk daerah Merauke dibuat peraturan tentang tempat penjualan maupun tentang umur si pembeli. Bisa dibedakan minuman ringan dan keras seperti juga pada soft dan hard drugs. Tetapi kalau sudah ada peraturan umum untuk negara, tidak perlu peraturan daerah dengan isinya yang sama. Yang perlu ialah penyuluan atau sosialisasi peraturan itu, misalnya di kurikulum sekolah dalam mata pelajaran kesehatan masyarakat.            

e.              Penanggulangan HIV/AIDS Pada umumnya ODHA hanya dijadikan sebagai objek untuk mendapatkan bantuan dana dari luar dan dalam negeri. Sedangkan si ODHA hanya boleh pasrah kepada yang Maha Kuasa. Inilah yang terjadi dengan kami para ODHA. Saya kira suatu saat, kami orang papua akan punah di tanah leluhur kami ini.” Ungkapan ini disampaikan oleh salah satu keluarga ODHA, saat berkunjung ke kantor SKP-KAM.Kabupaten Merauke sepuluh tahun terakhir ini menjadi perhatian berbagai pihak yang bergerak di bidang penaggulangan HIV/AIDS karena memiliki jumlah kasus dengan prefalensi yang cukup tinggi, kejadiannya lebih memprihatinkan, dimana penularan HIV telah dilaporkan melalui hubungan seksual mencapai 94 %. Jumlah penduduk Merauke menurut data BPS tahun 2001  sebanyak 324.776 jiwa. Maka, jika dihitung berdasarkan etminasi perhitungan WHO/ fenomene gunung es (1: 100), maka penduduk di kabupaten ujung timur nusantara ini telah terinveksi HIV/AIDS diperkirakan sebanyak 60.700 jiwa (18,7%) dari jumlah penduduk. Dilihat pada kondisi sekarang maka bukan tidak mungkin 3 atau 5 tahun mendatang akan ditemukan penduduk Merauke akan cepat PUNAH! Maka secepatnya penyakit ini perlu ditangani dengan baik dan bertanggung jawab oleh semua komponen masyarakat baik Pemerintah daerah maupun LSM Peduli HIV/AIDS.  

a.  Peranan LSM-LSM Peduli HIV/AIDS

a.1. YASANTO Yasanto adalah salah satu LSM yang menaruh perhatian serius dalam menangani masalah HIV/AIDS. Oleh karena itu, visi dan misi dari Yasanto adalah untuk masyarakat  di Merauke punya persepsi dan pegertian yang sama  tentang cara penularan HIV/AIDS  sampai cara pengobatan sehingga masyarakat Merauke dapat terbebaskan dari HIV/AIDS.Bidang pengembagan Yasanto memiliki tiga program yakni pencegahan, dukungan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dan pelayanan kesehatan. Lembaga ini sudah bekerja dan menanggani masalah HIV/AIDS sejak ditemukan pada tahun 1992 di Merauke dari para Nelayan Tahiland. Pelbagai kegiatan telah dilaksanakan dengan bantuan kerjasama dengan lembaga-lembaga mitra dan donatur luar negeri antara lain Program Appropriate Thechnology Health (PATH) –USAID dan Ford Fundation. Menurut pengakuan pimpinan BPKM Yasanto, Leo Mahuze, Yayasan Yasanto akan  bekerjasama dengan CORDAID dan caritas Australia untuk megembangkan program pencegahan AIDS di 11 Distrik dari Kabupaten Merauke. BPKM Yasanto memiliki 17 tenaga tetap (tidak termasuk part time). 6 orang yang bertugas melakukan kegiatan pencegahan, 5 orang menagani dukugan ODHA dan pelayanan kesehatan  masyarakat di kampung ditangani oleh 2 orang.  1.  Program kerja Yasanto di bidang pencegahan Dalam kaitannya dengan kegiatan pencegahan HIV yang  ditangani oleh 6 (enam) orang termasuk koordinaor lapangan pelbagai kegiatan telah dilakukan. Kegiatan tersebut meliputi penyuluhan-penyuluhan, pemutaran film dan pelatihan mengenai HIV/AIDS ke kelompok-kelompok masyarakat. Pelatihan khusus relawan dengan menerapkan strategi perberdayaan pendidikan sebaya (peer educator) yang berperan sebagai pemberi informansi  kepada teman sebaya lainnya. Untuk mengoptimalkan keadaan ini dituntut peran aktif dan kerjasama petugas lapangan dan pendidik sebaya. Pada tatanan ini, Yasanto telah mempu mengembangkan pola kerja yang mengedepankan pendidikan sebaya sebagai agen pembaharu dalam komunikasi perubahan perilaku. Namun demikian, pada tahap selanjutnya pola kerja komunikasi perubahan perilaku tidak berjalan lama, karena sebagian besar tenaga pendidik sebaya tidak dapat menjalankan fungsinya secara baik seperti diharapkan oleh petugas lapangan. Kegiatan pendampingan dilakukan kepada kelompok binaan yakni kelompok beresiko tinggi seperti tukang ojek terhadapat 210 orang, 105 Pekerja Seks komersial (58 pekerja seks lokalisasi), 114 pramuria bar dan 1.200 nelayan asing. Untuk remaja putus sekolah tidak ada data pasti karena tidak menjadi prioritas kegiatan.Petugas lapangan yang sering datang atau mengunjugi ke tempat-tempat tersebut untuk memberikan penyuluhan maupun konseling terhadap binaan yang ingin melakukan konseling. Para petugas relawan ini diberi pelatihan mengenai case manager dan konseling yang tugas nanti meberikan konseling kepada binaan atau masyarakat yang datang untuk meminta bantuan konseling dalam rangka pemeriksaan kesehatan. Selain itu, dalam angka pencegahan ini digunakan sarana media komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang dipakai dalam mendukung  menyampaikan informasi meliputi; poster, stiker, dan brosur/famlet. Namun demikian jenis dan pesan media yang dipakai masih bersifat umum dan tidak berfokus pada sekmentasi sasaran tertentu.  

2.Program pendampingan ODHA

Untuk program pendampingan ODHA ditangani oleh 5 orang pendamping. Saat ini Yasanto memdampingi 32 ODHA yang tinggal di rumah mereka maupun di sanggar kerja. Karena perkembagan kasus pada kelompok ini didasarkan pada kasus stigma dan diskriminasi pada masyarakat sehingga didirikan shalter atau sanggar kerja. Sanggar kerja didapat digunakan ODHA untuk tempat persinggahan, pertemuan rutin bimbingan rohani (sesuai kepercayaan yang dianut), saling membantu antar ODHA walau tidak didukung dengan ketrampilan perawatan yang memadahai, mendapatkan jatah untuk setiap harinya bahan makanan (kacang hijau, beras, dan makanan kaleng) ditambah uang lauk per hari Rp. 10.000 dan pemeriksaan kesehatan jika mengalami ganggunan kesehatan. Sebagian besar ODHA yang tinggal disanggar kerja dalam staium 3-4 dan tidak mendapat tempat tinggal karena adanya diskriminasi dari keluarga. Sebagain besar ODHA yang memiliki stadium HIV positif lebih memilih tinggal di sanggar karena terdesak mencari kebutuhan hidup. Kunjugan dilakukan di rumah-rumah apabila penderita mengalami masalah kebutuhan makan dan kesehatan. Dari 32 ODHA, 7 diantaranya memdapatkan pengobatan anti retro virus (ARV), 4 ODHA melanjutkan pengobatan ARV, 2 diantaranya meninggal dunia dan 1 orang diberhentikan karena tidak patuh minum obat.   

3.  Program pelayanan kesehatan

Pada program ini ,Yasanto menyediakan layanan konseling dan tes sukarela kepada masyarakat umum  (termasuk binaan) dengan jumlah klien rata-rata 1-2 per minggu. Yasanto bekerjasama dengan Pusat Kesehatan Reproduksi (milik pemerintah) untuk rujukan sampel darah yang akan dites HIV karena tidak sedia regent untuk test HIV. Di Pusat kesehatan reproduksi sampel darah mendapatkan 2 test (NTB, Intertiminate) dengan tingkat sensifitas yang sangat tinggi. Selanjutnya PKR mengkonfirmasi sampel darah untuk test Elisa dilakukan di Pokja AIDS-RSUD dan western blood di Jakarta. Yasanto juga ikut serta dan terlibat dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh komisi Penanggulangan AIDS Daserah (KPAD), seperti pertemuan koordinasi, dan kegiatan seperti Malam Renunggan AIDS Nusantara dan Hari AIDS Sedunia. Hal ini didukung dengan keterlibatan pimpinan BPKM Yasanto, Leo Mahuze, dalam kepengurusan  (Sekretaris)KPAD. Selain itu Yasanto merupakan salah satu anggota forum LSM peduli AIDS yang beranggotakan 12 LSM Peduli AIDS di Merauke. 12 LSM ini bekerja sama untuk pembuatan PERDA Penanggulangan penyakit Infeksi menular seksual dan HIV/AIDS.   a.2. Yapepa      Yayasan ini mulai bekerja dari tahun 1998 dengan salah satu bidang program AIDS. Lembaga ini bekerjasama dengan PARTH-USAID dalam menagani AIDS. Visi dan misi lembaga ini adalah menyelamatakan ibu dan anak sebagai generasi penerus bangsa sesuai dengan hukum dan Undang-Undang. Yapepa dipimpin oleh Ibu Albertina Mekiuw yang bergerak di tiga program yakni bidang ekonomi, kesehatan ibu dan anak dan pelayanan kesehatan. Di bidang pelayanan kesehatan ini memiliki bidang AIDS. Lembaga ini memiliki sumber daya manusia sebanyak 10 tenaga  diantaranya 1 direktur, 1 manager program, 1 bendahara, 1 administrasi, 1 koordinator lapangan  dan 5 petugas lapangan.      Bidang pelayanan kesehatan yang dilaksanakan selama ini adalah mengadakan pelatihan-pelatihan kepada relawan sebanyak 35 pendidik sebaya dan 56 guru. Pendidik sebaya khusus remaja sekolah sebanyak 35 pendidik sebaya dan 56 guru yang dilatih untuk menerangkan informasih tentang HIV/AIDS kepada teman sebaya lainnya. Para guru yang telah dilatih, diharapkan juga berperan secara optimal dalam menerangkan penyakit HIV/AIDS kepada murid-murid di sekolah. Para pendidik sebaya ini telah banyak yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tingg. Strategi yang dikebangkan adalah membentuk sekompok sebaya dan memperluas jangkauan petugas lapangan ke sekolah-sekolah. Lembaga ini telah membuat satu modul kesehatan reproduksi, IMS khususnya HIV/AIDS  yang khusus dipakai dalam program pendidikan di sekolah-sekolah di Merauke yang nantinya akan dijadikan kurikulum muatan lokal. Namun penerapan modul di sekolah belum bisa diterapkan atau dilaksanakan karena tidak didukung perangkat peraturan daerah yang mewajibkan sekolah memasukan pelajaran kesehatan reproduksi  pada kurikulum muatan lokal. Lembaga ini tergabung dalam forum LSM Peduli AIDS. Pimpinan Yapepa bertindak sebagai ketua forum ini. Forum ini berfungsi untuk melakukan koordinasi  terhadap program yang dilakukan LSM , Advokasi kebijakan dan sharing pengalaman. Selain itu pula lembaga ini ikut menyukseskan program  penentuan mengenai 100 % pengunaan kondom yang akan diperdakan.

a.3. Yayasan Mitra Karya Mandiri (Yamikari)      Yayan Mitra Karya Mandiri (Yamikari) berdiri sejak 2001 yang dipimpin oleh Pdt. J.A. Termas. Yamikari aktif melakukan pencegahan HIV tahun 2002 dengan susunan kelompok tokoh-tokoh agama kristen (Pendeta) pada 9 gereja denominasi di Papua  termasuk GKI Papua di 3 jemaat di 7 distrik (Merauke, Sota, Kurik, Kuprik, Jagebob, Tanah Miring dan Semangga). Lembaga ini memiliki sumber daya sebanyak 13 orang dan untuk mendukung kegiatan ini Yamikari mendapatkan bantuan dari ASA. Program kegiatan yang dilakukan yakni sosialisasi program  melalui kelompok relawan, penjangkawan dan pendampingan  terhadap kelompok-kelompok jemaat (kelompok Ibu, kelompok Bapak, kelompok remaja/ pemuda dan kelompok keluarga).  Pada program pendampingan ODHA, lembaga ini bekerjasama dengan LSM lain seperti Yasanto, (rujukan pendampingan ODHA), WVI (perawatan ODHA) dan MSF Belgium untuk pengobatan ARV. Melalui pengembagan pemberdayaan kelompok rohaniwan protestan sekarang sudah muncul pendeta-pendeta yang peduli terhadap AIDS. Target yang akan dicapai yakni kegiatan difokuskan pada penguatan kapasitas relawan yang berada di jemaat-jemaat dan diharapkan gereja-gereja dapat mengembangkan program sendiri sehingga kegiatan pencegahan lewat gereja-gereja dapat dilanjutkan oleh jemaat tersebut. Lembaga ini termasuk dalam anggota forum LSM Peduli AIDS.    

a.4. Alamamater  Yayasan Amamater bergerak dibidang pertanian, ekonomi dan kesehatan. Lembaga ini memiliki 15 tenaga dan sebanyak 8 orang bertugas di lapangan. Alamamater dipimpin oleh Beni Perangin-Angin  yang melihat penyebaran AIDS di masyarakat sudah mulai menyebar ke pedesaan  yang secara “sporadis” menyerang masyarakat umum. Penyebaran HIV/AIDS sudah sampai ke daerah pedesaan dimana terdapat daerah penghasil gaharu di Asmat yang banyak mendatangkan  para pekerja seks komersial. Dari para pekerja seks ini dapat menularkan penyakit AIDS.  Pada tahun 2001 lembaga ini memulai bekerjasama dengan Delsos Keuskupan Agats. Kegiatan yang dilakukan adalah mensosialisasi program kepada masyarakat, pelatihan relawan AIDS, membentuk relawan dan pemberdayaan masyaraka. Lembaga ini merupakan salah satu  anggota Forum Peduli AIDS. Pada 1 tahun pertama kegiatan ini berjalan ,namun kegiatan ini tidak dapat dilanjutkan karena ASA meminta untuk lembaga ini mengalihkan kegiatan di kota Merauke. Dengan demikian lembaga ini tidak lagi menerima tawaran ASA dan sekaligus memutuskan untuk tidak melaksanakan program ASA di Agats.  

a.5. Yayasan Aesculap Yayasna Aesculap merupakan salah satu LSM yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan masyarakat dan kesejahteraan sosial. Lembaga ini memiliki sumberdaya 11 tenaga terdiri dari 1 manager, 1 direktur, 3 petugas lapangan, 1 koordinator lapangan dan 6 pendidikan sebaya. Progran kesehatan masyarakat menagani AIDS di distrik Kimaam dengan dukungan dari ASA. Program promosi pengunaan kondom dilakukan di Kimaam yang difokuskan di perusahaan Djarma Aru (wanam). Karena disana tetap masih ada PSK yang melakukan pekerjaannya. Diberikan juga kepada karyawan PT. DJarma Aru, nelayaan lokal, nelayan asing, TNI/Polri. Selain itu lembaga ini juga mempromosikan pengunaan kondom 100%. Selain itu melakukan pelatihan sebaya kepada karyawan perusahaan dan penyuluhan tentang bahaya penyakit ini bagi masyarakat , pemuda gereja, remaja mesjid. Selama setahun pendampingan kelompok masyarakat di kecamatan kimaam lalu program ini dialihkan oleh ASA ke kota Merauke dengan program pencegahan di kota. Pelatihan kepada tokoh agama katolik, Islam, Budha, Hindu dan tokoh adat (marind, Muyu, Auwyu, dan Mandobo.) Khusus untuk tokoh agama katolik dilakukan berjenjang mulai dari dewan stasi, dewan paroki dan kelompok-kelompok katekese. Pada bidang Informasih dan Komunikasi (KIE) dibuatlah media line dalam bahasa lokal yang dapat dimengerti oleh masyrakat lokal. Selain itu ada pula progran pendampingan bagi ODHA di rumah (Home care).   

b.                 Peranan Pemerintah Kami memiliki 6 (enam) tenaga untuk menangani masalah HIV/AIDS. Dan yang kami lakukan untuk masalah HIV/AIDS adalah demo. Sebelum kami melakukan konseling kami memberikan penyuluhan perorangan, yang biasa kami lakukan itu adalah kepada ibu hamil. Kalau untuk umum, kami biasanya lakukan kalau ada permintahan dari dokter, itupun kalau ada pasien yang ada gejala HIV. Kami merasa sangat didukung dalam hal  dana, buku-buku dan brosur-brosur. Setiap penderita HIV/AIDS yang ditangani, tidak dipungut biaya. Tetapi kami punya hambatan dalam hal penyuluan yang tidak efektif karena pada umumnya masyarakat tidak mengerti bahasa Indonesia.”Ini adalah kisah dari PUSKESMAS Kurik yang diwawancarai oleh Tim SKP-KAM pada tanggal 12 Januari 2007.b.1. Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Sejak ditemukaannya kasus HIV/AIDS pertama kali tahun 1992, Pemerintah Kabupaten Meruake mulai berupaya melakukan kegiatan pencegahan dan penaggulangan HIV/AIDS. Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Merauke dibentuk pada tahun 1996, secara organisatoris kepengurusannya diduduki oleh kalangan pemerintah daerah. Sebanyak 90 orang yang duduk di kepengurusan KPAD Kabupaten Merauke yang terdiri dari berbagai sektor pemerintah. Perkembangan selanjutnya pada tahun 2000, atas desakan LSM dan komponen peduli HIV/AIDS di masyarakat kepengurusan KPAD dibenahi dan menempatkan sebanyak 50 orang  yang terdiri dari unsur pemerintah daerah, LSM dan masyarakat kabupaten Merauke. KPAD sebagai lembaga koordinatif penaggulanagan HIV/AIDS di daerah sejauh ini masih jauh dari yang diharapkan  dalam penggulanagan HIV/AIDS  di Kabupaten Merauke.  Beberapa hal yang sejauh ini dirasakan masih menjadi permasalahan  dalam penaggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Merauke antara lain di bidang KIE, Bidang Penata Laksana ODHA, Bidang koordinasi multi Pihak, dan bidang sumber saya manusia dan kapasitas lembaga. Bidang tersebut yakni sbb:

1.              Dibidang KIE ·              Masih  kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap virus dan penyakit HIV/AIDS·              Kurangnya Sumber Daya Manusia  yang memahami/ mengelola KIE·              Kurangnya dukungan dana penaggulangan HIV/AIDS ·              Kurangnya komitmen politis penentu kebijakan 

2.              Bidang penata laksanaan ODHA

  • Tingginya stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODHA
  • Kurangnya dukungan obat-obatan dan penataan Universal Precautions
  • Kurangnya dukungan ketahanan gizi ODHA
  • Kurangnya kemampuan Sumber Daya Manusia pendampingan ODHA

 3.              Bidang kordinasi multi Pihak

  • Masih terdapanya egoistis masing-masing lembaga
  • Belum terlaksananya strategis penanggulangan AIDS Kabupaten secara maksimal
  • Masih terhambatnya kelancaran arus informasi dan komunikasi lintas institusi
  • Kepengurusan KPAD belum berjalan secara optimal

 4.              Bidang sumber daya manusia dan Kapasitas Lembaga

  • Kemampuan capacity building lembaga maupun persoalan belum optimal
  • Kemampuan SDM yang ada belum dapat diakomodir  guna kemanfaatan dan kesinambungan program
  • Rendahnya posisi tawar lembaga lokal terhadap lembaga donor yang akan mendukung program penggulangan HIV/AIDS di Merauke.

 Dengan ada permasalahan yang dihadapi oleh KPA membuat KPA memberikan keleluasa kepada LSM peduli HIV/AIDS untuk melakukan kegiatan di lapangan. Dengan adanya keleluasan ini, maka bermunculan LSM Peduli AIDS. Yang membantu pemerintah menyebarkan informasih kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS.  KPA memiliki salah satu program yakni Pusat Kesehatan Reproduksi  yang berfungsi menjebantani pelayanan kesehatan IMS dan konseling sukarela HIV terhadap kelompok perilaku resiko tinggi, seprti pekerja seks komersial (PSK). Menurut salah seorang staf KPAD Merauke, “KPAD Merauke telah membantu menekan penyebaran HIV/AIDS di daerah  dan dapat dibayangkan jika tidak ada KPAD epidemi HIV di daerah akan jauh melebihi HIV di kecepatan prevelensi seperti yang terjadi di Afrika. Hal ini membuktikan bahwa KPA Merauke merupakan salah satu KPAD di Papua yang memiliki kegiatan lebih maju dibandingkan dengan KPA lain di Papua”.  b.2. Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke Menurut kepala dinas kesehatan dr. Joseph Rinta, peran pemerintah dalam menanggulanggi AIDS secara operasional terkait langsung dengan pelayanan di rumah sakit lewat pokja, pelayanan pusat kesehatan reproduksi dan layanan konseling dan test sukarela HIV di Puskesmas. Pelayanan pokja AIDS di fokuskan pada kegiatan universal precataution, konseling, penyediaan obat ARV, infection opportunistic, dan bantuan bahan makanan bagi ODHA. Pelayanan pusat kesehatan reproduksi difokuskan pada konseling, pemeriksaan VTC dan juga  test NTB dan test Elisa.  Dinas kesehatan mendapatkan bantuan obat ARV dari MSF Belgium untuk persediaan 5 tahun, sehingga tidak menjadi masalah bagi ODHA. Pelayanan koneseling sukarela dan test HIV tersedia di 5 Puskesmas yakni di Puskesmas Mopah, Rimba Jaya, Kuprik, Kurik dan Jagebob. Di Puskesmas ini  tersedia sejumlah konselor terlatih dan test intertiminate. Hasil test dari puskesmas kemudian di rujuk ke Pokja RSUD untuk tes selanjutnya dan  termasuk NTB dan test Elisa. Pada puskesmas ini juga tersedia sejumlah obat-obatan  untuk penyakit infeksi sehingga bila ODHA mengalami gangguan klinis infeksi segera diberikan pengobatan dan dianggap serius dirujuk ke RSUD. Walaupun demikian, jumlah obat-obatan  untuk penyakit infeksi ini (dan juga penyakit-penyakit umum) persediaannya sangat terbatas apalagi di daerah ini kasus TBC dan Malaria sangat tinggi. Hal ini disebabkan managemen pengadaan persediaan obat tidak baik, seperti  yang ditururkan Miss Ance dari MSF bahwa pihak dinas kesehatan dan rumah sakit selalu terlambat membuat perencanaan obat termasuk untuk penyakit (OTA) dan penyakit umum karena koordinasi antar instansi selalu mengalami kesulitan. Kepala Dinas menilai bahwa kegiatan penanggulangan AIDS di Merauke masih jauh lebih baik dibandingkan dengan daerah lain di Papua. Penilaian ini berdasarkan indikasi penurunan prevelensi terjadi karena program kondomnisasi 100% pada tempat-tempat beresiko, seperti lokalisasi dan bar-bar. Hasil survey dari dinas kesehatan menunjukan peningkatan pemakaian kondom pada pekerja seks di lokalisasi Yobar dari 44,2% meningkat menjadi 89,30%. Para pekerja seks di bar/restoran juga meningkat dari 14,7% menjadi 78,22% (Laporan Program Pemakaian Kondom 100% di kabupatem Merauke, Dinan kesehatan Merauke,2003). Program Kondomnisasi ternyata sudah cukup berhasil pada kelompok beresiko tinggi, namun belum menyentuh kelakuan masyarakat umum.

BAB IV

P  E  N  U  T  U  P 

1.       Analisa & Kesimpulan

a.Penyebaran HIV/AIDS: Dampak Kesehatan     Pada tahun 1992, dengan ditemukan untuk pertama kali kasus HIV/AIDS hingga tahun 2006 (per Desember 2006) telah ditemukan 888 kasus HIV/AIDS. Penemuan ini disertakan dengan ditemukannya lokasi baru penyebaran HIV/AIDS. Viris HIV/AIDS telah menyerang masyarakat yang hidup di kampung-kampung. Dalam investigasi kami, modus penyebaran HIV/AIDS di kampung-kampung adalah melalui hubungan seksual. Artinya, ada ODHA yang datang dan tinggal di kampung dan berhubungan seksual dengan warga di kampung, misalnya kasus di Kampung Wanam, seorang wanita yang telah terinfeksi HIV/AIDS ”menjajankan” dirinya kepada laki-laki di kampung Wanam. Menurut ODHA yang kami temui di kampung tersebut, ”Kami bisa berhubungan seksual dengan Vega (nama semarang untuk wanita itu), asalkan kami punya bir atau minuman keras lainnya. Terus terang dia sangat cantik dan saya tergoda untuk berhubungan seksual dengan dia. Saya sekarang menyesal.” Bagaimana dengan peran pemerintah dan aparat kepolisian? Kami melihat seperti adanya proses pembiaran terhadap penyebaran HIV/AIDS ini. Hal ini sangat jelas dengan keseriusan pemerintah dan aparat keamanan menyikapi masalah ini. ODHA yang masih berkeliharan dan masih melakukan praktek-praktek prostitusi yang telah diketahui oleh pemerintah dan kepolisian dibiarkan saja. Lebih lanjut, pemerintah dan LSM terkesan lebih sibuk mengkampanyekan bagaimana menggunakan kondom sebagai strategi untuk penanggulangan HIV/AIDS dan hal ini terlihat tidak memperlambat penyebaran HIV/AIDS. Kampanye penggunaan kondom sangat tidak efektif dalam menanggualangi masalah HIV/AIDS. Sehingga yang terpenting kini pemerintah dan LSM harus buat komitmen tentang apa pola pendekatan yang tepat untuk merubah prilaku masyarakat soal seks? Karena dalam investigasi SKP-KAM ditemukan bahwa banyak kondom yang tidak digunakan oleh PSK dan pelanggannya. Salah satu PSK saat ditemui di lokalisasi Yobar mengatakan bahwa banyak tamu tidak suka menggunakan kondom, karena tidak enak rasanya. ”Kami selalu anjurkan para tamu untuk kalau berhubungan seksual harus gunakan kondom, tetapi mereka bilang tidak enak. Kami mau menolak berhubungan tanpa kondom tetapi mereka (para tamu) telah bayar kami, jadi kami terpaksa harus melayani mereka tanpa kondom.” Ungkap salah seorang PSK yang ditemui oleh Tim Investigasi SKP-KAM di Lokaliasi Yobar, Kota Merauke.

b. Dampak Sosial-Ekonomi     Pengalaman empirik di banyak negara yang terlanda HIV/AIDS secara luas memperlihatkan dampak sosial-ekonomi yang memprihatinkan. Kerugian ekonomi timbul akibat beban ekonomi langsung yang harus ditanggung oleh keluarga dan masyarakat untuk pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan HIV/AIDS yang amat mahal. Sedangkan kerugian ekonomi tidak langsung timbul akibat menurunya produktifitas kerja dan meningkatnya angka kematian usia produktif akibat AIDS. Keluarga dan masyarakat miskin menjadi lebih miskin akibat penderitaan karena HIV/AIDS. Anak-anak menjadi yatim-piatu akibat ibu-bapaknya meninggal dunia karena AIDS. Mereka kemudian mengalami penderitaan sosial yang berkepanjangan karena kehilangan dukungan dari keluarga dan masyarakat.     Akibat lain adalah timbulnya stigmatisasi, diskriminasi dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM)terhadap pengidap dan keluarganya yang terkena HIV/AIDS. Diskriminasi masih ditemukan pada tempat-tempat pelayanan kesehatan, sekolah-sekolah, tempat kerja dan bahkan pada kehidupan sehari-hari masyarakat. 

c. Penanganan HIV/AIDS     Program-program penanggulangan HIV/AIDS di Papua kelihatannya lebih terkonsentrasi di perkotaan. Padahal 74% penduduk Papua berada di daerah pedesaan, dengan kondisi yang miskin, pendidikan yang rendah dan juga akses mereka yang terbatas karena kondisi geografis yang sulit. Keluhasan lagi-laki untuk berhubungan seks bukan dengan pasangan juga mengakibatkan semakin cepatnya penyebaran virus ini. Hal itu juga dipicu dengan kebiasaan laki-laki Papua yang banyak menenggak minuman keras. Dalam keadaan mabuk itu pulalah biasanya mereka melakukan hubungan seks bukan dengan pasangannya.     Lebih daripada itu, Pemerintah Kab. Merauke, dan Aparat Kepolisian serta beberapa LSM lokal tidak menaruh perhatian serius terhadap masalah HIV/AIDS ini. Hal ini bisa terlihat dari gema kampanye penanggulangan HIV/AIDS lebih pada sebuah selebrasi saja, bahkan HIV/AIDS dijadikan tempat untuk mendatangkan uang yang banyak demi kepentingan pribadi. 

2. Rekomendasi      Berdasarkan analisa dan kesimpulan tersebut di atas, kami menyampaikan rekomendasi-rekomendasi sebagai berikut:

  1. Meminta kepada Pemerintah Daerah untuk membatasi dan menertibkan tempat-tempat prostitusi di Kota Merauke dan di beberapa kampung.
  2. Meminta kepada Pemerintah untuk menyediakan fasilitas kesehatan yang memadahi di kampung-kampung dengan disertakan tenaga medis.
  3. Meminta kepada Gereja, LSM dan Pemerintah untuk merubah paradigma strategi penanggulangan masalah HIV/AIDS dari paradigma sakit kepada paradigma sehat, dimana warga masyarakat yang belum terinveksi HIV/AIDS harus dilindungi.
  4. Meminta kepada Gereja Keuskupan Agung Merauke untuk membuat sebuah reksa pastoral untuk penaggulangan masalah HIV/AIDS dan membentuk suatu komisi penanggulangan HIV/AIDS yang menggurus kelompok masyarakat yang telah terkena HIV/AIDS dan yang berpotensi terkena HIV/AIDS.

  3. Solusi yang ditawarkan: Sebuah Jawaban PastoralPenyakit infeksi menular seksual antara lain HIV/AIDS ini merupakan penyakit sosial yang bisa bersama-sama kita lakukan pencegahan-pencegahan sebelum terlanjur meyebar dalam kehidupan masyarakat. Solusi yang ditawarkan sebagai jawaban pastoral antara lain :

  1. Gereja Keuskupan Agung Merauke bekerjsama dengan Pemerintah Daerah dan LSM peduli HIV/AIDS untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi secara terus-menerus kepada masyarakat tentang apa itu HIV/AIDS, cara penularanya, bagaimana mencegahnya supaya masyarakat mengerti dan bisa menghindari diri dari penyakit HIV/AIDS.
  2. Gereja Keuskupan Agung Merauke harus segera mendirikan panti asuan untuk anak-anak korban HIV/AIDS.
  3. Gereja Keuskupan Agung Merauke segera merancang stategi pengembangan ekonomi yang berbasis kemasyarakatan demi memberdayakan masyarakat di bidang ekonomi.
  4. Peran Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke dalam pendidikan moralitas keluarga. Kepala marga atau keluarga dalam satu kelompok suku bangsa hendaknya saling mengingatkan tentang perilaku seks. Saling memberitahukan kepada yang belum mengetahui penyakit HIV/AIDS baik lewat perkumpulan2 maupun lewat ibadah bersama.
  5. Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke mempertegas suara kenabiannya. Sikap kritis dari Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke diharapkan dapat mengontrol cara kerja dari pemerintah dan LSM dalam menanggulangi masalah HIV/AIDS.
  6. Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke harus membentuk tim khusus yang terdiri dari para petugas medis, biarawan-biarawati dan beberapa umat awam untuk memdampingi para penderita HIV/AIDS.

Read Full Post »

Wacana Pendidikan Baku


Pendidikan adalah akar pembangunan kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, suku dan bangsa. Jika pendidikannya baik, maka kehidupan pribadi seseorang yang sedang belajar dan telah belajar tersebut akan baik pula.

Tentu sudah banyak wacana yang telah berkembang dan sampai kepada berbagai macam kalangan dan lapisan masyarakat baik melalui media masa(elektronik dan surat kabar), buku, diskusi dan ceramah tentang strategi pendidikan yang baik dan inovatif.

Namun demikian, dalam tulisan ini saya ingan mengajak kita mengamati beberapa titik pendidikan secara folosifi suku Mee(Papua), yakni Pertama, tujuan pendidikan; kedua, hubungan pendidikan dengan perkembangan fisik dan spikis seorang anak; ketika, anak sebagai pribadi; serta keempat peran orang tua dalam pendidikan. Kajiannya dari sisi pemahaman tradisional masyarakat Mee tentang Pendidik bagi seorang anak.

Read Full Post »


Selayang Pandang Seputar Pengembangan Kepribadian Dan Leadership Melalui ESQ Bendasarkan 1 Ihksan ,  6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam Menurut Ari Ginanjar

 

ESQ adalah sebuah teori pengembangan kepribadian dan pelatihan leadership yang telah dikembangkan oleh Ari Ginanjar. Teori pengembangan kepribadian dan pelatihan leadership yang merujuk kepada 1 ihksan, 6 rukun Iman dan 5 rukun Islam ini, banyak diterima oleh berbagai kalangan di Indonesia, baik dari kalangan swasta maupun pemerintah.

Sebagian kalangan pembesar yang telah menerima teori ini, kemudian menjadikan  program  ini menjadi ESQ ini sebagai program pengembangan kepribadian dan traning leadership bagi karyawan atau bawahannya masing-masing. Bahkan ada yang mewajibkan semua bawahannya untuk mengikuti traning pengembangan kepribadian dan leadership ini.   

Lalu pertanyaannya adalah apa dan bagaimana Pengembangan Kepribadian Dan Leadership Melalui ESQ yang dikembangkan oleh Ari Ginanjar ini?  ESQ ini menggunakan materi (a) Zohar, D. & Marshall, I. 2000. SQ: Spiritual Intelligence-The Ultimate Intelligence, yakni: suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna: (b)Paduan Ide Zohar di atas dengan Al-Quran, di mana Ari Ginanjar(pengagas ESQ) memadukan kemampuan manusia untuk memberikan pemaknaan hidup yang lebih baik itu dengan Ajaran Al –Quran.

Alur Penyampaian ESQ ini adalah (a)meyakinkan peserta bahwa Muhammad sebagai nabi Sang Pencipta; (b)meyakinkan peserta bahwa Al-Quran sebagai wahyu Sang Pencipta; (c)meminta peserta membuat yel-yel 1,6, 5 rukun islam sebagai sarana terbaik pengembangan karakter dan ledership.

 

Perbandingan Proses Zero Mind

 

No

 

Topik

 

Rukun Islam

 

Iman Kristen

 

 

1

 

Konsientisasi Kemaha-Besaran Allah

 

Melalui Penciptaan Alam

 

Melalui Kekudusan, kebenaran, keadilan dan kasih.

 

2

 

Konsientisasi Kehinaan Manusia

 

Kecil(tidak ada apa-apanya)

 

Berdosa dan tidak berguna sama sekali

 

3

 

Usaha Kontak dengan sang Ilahi

 

Melalui usaha pencarian manusia akan Sang Pencipta

Melalui usaha Sang Pencipta Mencari dan menemukan manusia dengan cara Yesus Kristus(Isa Almasih) datang ke dunia 2000 tahun yang lalu melalui Mariam binti Yusuf lalu disalibkan, mati dan dikuburkan, lalu pada hati yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati.

 

 

4

 

Usaha perbaikan hubungan dengan Sang Pencipta

 

Meminta ampun dari sang pencipta maka hubungan dengan Sang Pencipta menjadi baik karena Sang Pencipta Maha Pengasih dan Penyayang.

 

(a)Sang Pencipta menghukum segala kesalahan, kejahatan dan dosa dalam  tubuh Tuhan Yesus Kristus di Kayu Salib karena keadilan-Sang Pencipta.

(b)Melalui percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dosa pemercaya diampuni, disucikan, dikuduskan dan dijadikan anak-anak Allah karena Kasih Sang Pencipta.

Artinya: Dosa dan kejahatan dihukum karena Keadilan Sang Pencipta tetapi pemercaya diampuni bahkan dijadikan anak-anak Sang Pencipta karena Kasih Sang Pencipta itu sendiri.

 

5

 

Kegagalan Aplikasi hidup keagamaan dalam kehidupan sosial budaya.

 

Akibat memisahkan dan meninggalkan nilai agama hanya di tempat ibadah serta terlepas dari kehidupan sosial budaya.

 

Akibat Injil hanya menyentuh pikiran dan perasaan, dan bukannya hati

 

6

 

Usaha untuk hidup lebih baik

 

Membawa nilai keagamaan dalam kehidupan sosial budaya

 

Injil menyentuh hati dan  mentransformasi seluruh bidang kehidupan manusia dari dalam. Ekpresinya nyata dalam kehidupan sosial budaya

 

7

 

Kesimpulan

 

Usaha manusia menggapai standart Sang Pencipta

 

Usaha Sang Pencipta memaksimumkan manusia menggapai standar-Nya.

 

Perbandingan Pengembangan Manusia

 

 

 

No

 

Topik

 

Rukun Islam

 

Iman Kristen

 

 

1

 

Mental Building

 

Membangun hati nurani yang baik dengan merujuk pada Rukun Iman

 

Orang yang beriman sepenuhnya kepada Tuhan Yesus Kristus, telah diciptakan menjadi manusia baru di dalam Kristus, dengan hati nurani yang baru pula.

 

2

 

Mission Statement, Character Building, dan Self Controlling

 

usaha  pribadi untuk menghasilkan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan merujuk pada Rukun Islam

 

Di dalam hati nurani yang baru itu, Orang yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus telah memiliki buah-buah roh (memiliki ketangguhan pribadi). Selanjutnya,  hendaknya orang percaya  mengaplikasikan buah roh itu dalam kehidupan sehari-harinya  

 

3

 

Strategic Collaboration

 

Usaha untuk melakukan aliansi atau sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya untuk mewujudkan tanggung jawab sosial individu

 

Semua orang percaya menjadi satu di dalam Kristus dan menjadi berkat bagi semua orang, sama seperti Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu. Orang percaya tinggal menghidupinya

 

4

 

Total Action

 

suatu usaha untuk membangun ketangguhan sosial

 

Memandang sesama-sama seperti Kristus memandang dirinya. Memperlakukan sesama sama seperti Kristus terhadap semua orang.

 

 

Manfaat ESQ:

(a)    bagi umat Islam, ESQ ini dapat memberikan strategi baru bagi umat Islam untuk menundukkan diri pada kekuasaan Sang Pencipta, karena:

         ESQ memberi kesadaran tentang rendah dan tidak ada apa-apanya manusia dibanding Sang Pencipta

         Memberi keyakinan tentang Muhammad sebagai Nabi Sang Pencipta dan Al-Quran satu-satunya wahyu Sang Pencipta

         ESQ memberi motivasi untuk mencari Sang Pencipta

         ESQ memberi langkah-langkah mencapai Sang Pencipta

 

(b)   Namun bagi Umat Kristiani, ESQ ini memberikan dampak yang mengarah kepada goncang dan gugurnya iman kepada Tuhan Yesus Kristus serta penolakan dan peninggalan kemenangan yang gemilang yang telah dan sedang  diperoleh di dalam Tuhan Yesus Kristus, karena ESQ:

         Mendorong peserta menolak Ketritunggalan Allah

         Mendorong peserta menyangkal keberadaan Tuhan(Barangkali Tuhan Yesus Kristus).

         Mengajak peserta menolak pengampunan dari Allah yang telah diperoleh di dalam nama dan darah Tuhan Yesus Kristus

         Mengajak peserta menyembah Sang Pencipta ke arah Kabah di Mekah

         Mendorong peserta menolak untuk tidak mau dijadikan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus

         Mendorong peserta untuk meninggalkan kemenangan atas kuasa dosa dan iblis yang telah diperoleh dengan cuma-cuma dalam Tuhan Yesus Kristus.

 

Kajian di atas telah menunjukan bahwa ESQ Identik dengan Penyebaran Agama Islam dan penguatan iman umat Islam itu sendiri, seperti pernyataan seorang tua murid mahasiswa ITS Surabaya dalam suatu blog pribadi dengan judul ESQ MAHASISWA BARU ITS 2007, bahwa ”Buku ESQ sangat pantas dibaca oleh umat Islam dari golongan mana pun, bahkan bisa dinikmati oleh umat lainnya sebagai bahan studi banding? Inti pembahasan yang ingin disampaikan diawali dengan tema ’suara hati’ fitrah manusia yang hanya menyeru kepada kebaikan dan kebenaran asasi. Sangat enak saat membaca buku tersebut, tidak perlu terburu-buru, bisa diulang berkali-kali, dan tetap tidak membosankan bagi pembacanya.Setelah lengkap menjelaskan fitrah manusia, kemudian dikenalkan konsep membangun motivasi dan mental emosional sekaligus spiritual yang diangkat dari ajaran Islam. Saat melihat ada orang miskin yang kelaparan, maka tumbuhkan suara hati ’berbagi sesama manusia’. Saat melihat ada bencana, maka tumbuhkan suara hati ’rela dan ikhlas membantu saudara’, demikian seterusnya. Praktek dan ajaran Islam menjadi suatu wahana yang komprehensif untuk membangun motivasi spiritual yang penuh dengan nilai kemusiaan yang luhur, baik dalam konsep maupun prakteknya”.

Oleh karena itu traning ini sebaiknya diwajibkan hanya untuk pemeluk agama Islam saja. Sebab menurut hemat penulis, ketika seorang bawahan yang bukan agama Islam dipaksa untuk mengikuti traning ini dengan ancaman perfomance kerja, tanpa disadari atasan tersebut telah melawan kebebasan beragama yang dijamin oleh UUD 1945 dan Mukadimah HAM PBB yang menjamin kebebasan setiap insan untuk beribadah menurut apa yang diyakininya.

Terlebih lagi untuk menghindari tudingan masyarakat seperti ”Pengembangan Karakter dan Pelatihan Leadership melalui ESQ ini sebenarnya merupakan penyebaran dan penguatan iman Agama Islam yang berkedok pengembangan kepribadian dan pelatihan leadership”.

Lalu pertanyaannya adalah apakah traning pengembangan kepribadian dan leadership  ini baik ataukah tidak baik? Jawabannya adalah traning ini sangat baik tetapi khusus bagi  pemeluk agama Islam. Kemudian bagaimana dengan pemeluk agama lain? Pemeluk agama lain dapat mengikuti pengembangan kepribadian dan traning leadership yang dikembangkan dalam agamanya masing-masing.

Seperti contoh bagi Protestan, selain   melakukan Retreat bagi anak-anak, pemuda pemudi dan kaum ibu, untuk mengembangkan kepribadian dan leadership pemeluknya dalam hidup sehari-hari sebagai warga negara yang Pancasilais, gereja juga menyiapkan dan melakukan traning khusus bagi para pria dewasa  seperti  traning ”Pria Sejati” dan untuk sebuah keluarga, gereja juga selalu mengadakan KKR, seperti KKR yang dibuat di lingkungan KINGMI Klasis Mimika dengan Judul : ”Menghancurkan Kutuk Isabel”.

Baik retreat, KKR maupun traning rohani di atas semuanya bermuara pada  terjadi transformasi rohani pada umat Tuhan yang yang sangar bermafaat dalam memberi pemaknaan hidup bagi diri sendiri juga dalam hidup bersama sebagai masyarakat madani.

 

Saran untuk para atasan.

Kerinduan dari semua atasan di departement dan instansi, baik pemerintah maupun swasta untuk mengembangkan kepribadian, karakter  yang baik dan leadership bawahannya, patut diacungkan jempol oleh semua pihak. Karena itu sejalan dengan usaha baik di atas, maka hendaknya para atasan melakukan kerja sama yang baik dengan organisasi-organisasi agama terdekat lalu memfasilitasi organisasi agama tersebut untuk melakukan pengembangan karakter dan leadership sesuai dengan iman dan agama bawahannya masing-masing.

 

Lalu bagaimana dengan penerapannya dalam kehidupan sosial masyarakat jika setiap agama melakukan penguatannya pada umatnya masing-masing? Tidak akan ada pertentangan ataupun distorsi sama sekali dalam kehidupan bersama di lingkungan masyarakat sebab kesemuanya ada titik temunya, yakni semua agama mengajarkan untuk hidup dalam damai dengan semua pihak, baik itu dengan diri sendiri, sesama manusia, dengan Sang Pencipta dan dengan lingkungan alamnya.

Terutama jika, yang dibawa dan  dipraktekkan oleh semua orang dari berbagai macam golongan dan agama dalam kehidupan sosial masyarakatnya adalah pesan moral dan norma hidupnya untuk kepentingan hidup bersama dan bukan membawa perdebatan tentang agama dan golongan sendiri yang benar sedangkan yang lainnya tidak bahkan kafir sehingga merusak kerukunan hidup warga masyarakat yang diamatkan oleh teks suci masing-masing agama dan golongan.

Selanjutnya supaya sesuai dengan norma hukum yang berlaku di Indonesia dengan kelompok masyarakat yang amat pluralis ini, maka hendaknya semua pihak menerima dan menjadikan, Pancasila sebagai nafas kehidupan berbangsa dan bernegara dan juga menghormati UU di masing-masing daerah  seperti di tanah Papua ialah UU 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua dan di aceh adalah perjanjian Helzinky, sebagai suatu acuan dan petunjuk arah hidup dalam damai bersama di negeri kita.  

Dengan memperhatikan hal-hal di atas, niscaya akan ada kerukunan di antara semua warga masyarakat sehingga tercipta suatu kehidupan yang madani di negeri kita tercinta ini sebagai wilayah atau zona Damai seperti yang dikumandangkan oleh Alm.Nurkholis Majid di akhir-akhir hidupnya. Semoga

 

 

 

 

Read Full Post »