Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2010


Richard Ledger, a former principal of the PT Freeport Indonesia (PTFI) Mount Zaagkam International School in Kuala Kencana, ran the 2009 New York City Marathon to raise awareness for Papua Education Program (PEP). Simon Lawton of PT Trakindo Utama and his wife, Corey, also ran the marathon.

Papua Education Program is a fundraising organization that provides financial support for secondary and post-secondary education for Yali tribe members in Jayapura and for two kindergarten campuses for Papuan children in Kwamki Lama and Jileale. “Richard and his family always demonstrated generosity and concern for the local people of Papua. His continued support of PEP after his return to his home country is a blessing and sets an example for all of us,” said Lori Schroeder, president of PEP.

Richard Ledger(blue shirt) upon crossing the finish line

Richard Ledger(blue shirt) upon crossing the finish line

“PEP is a group and a group of beneficiaries that are still very close to our hearts. The marathon was a brilliant experience: the training, the camaraderie with other runners, New York closing its streets down for you, the sense of satisfaction of overcoming pain and thoughts of not being able to make it, running through the five boroughs of New York, hobbling away from Central Park with thousands of others to hop on the subway to get home, and the realization that it was a major achievement and there is carry over into daily life: that persistence will eventually get you where you want or need to be,” Richard added.

Richard finished with a time of 5 hours and 59 seconds, while Simon and Corey finished with times of 3 hours and 53 minutes and 4 hours 43 minutes, respectively. For Richard and Corey, this was their first marathon.

The New York City marathon was started in 1970 and is one of the largest marathons in the world, with 43,659 finishers in 2009. The course of the race runs through all five boroughs of New York City, totaling 42.195 km or 26.219 miles. (ms)

Read Full Post »


Richard Ledger, mantan kepala sekolah Mount Zaagkam International School Kuala Kencana PT Freeport Indonesia (PTFI) berlari dalam New York City Marathon 2009 untuk meningkatkan kesadaran mengenai Papua Education Program (PEP). Simon Lawton dari PT Trakindo Utama dan istrinya, Corey juga berlari dalam lomba lari tersebut.

Richard Ledger setelah Marathon

Richard Ledger setelah Marathon

Papua Education Program adalah merupakan organisasi pengumpul dana yang menyediakan bantuan finansial untuk pendidikan menengah dan lanjutan bagi suku Yali di Jayapura dan dua gedung TK bagi anak-anak Papua di Kwamki Lama dan Jileale.

Richard Ledger(kaos biru) saat menyeberangi garis finish

Richard Ledger(kaos biru) saat menyeberangi garis finish

“Richard dan keluarganya selalu menunjukkan kemurahan hati dan kepedulian bagi masyarakat Papua. Dukungan beliau terhadap PEP yang terus berlanjut bahkan sesudah beliau kembali ke negara asalnya merupakan suatu berkah dan memberikan contoh bagi kami semua,” ujar Lori Schroeder, president PEP.

“PEP adalah suatu grup dan kelompok beneficiary yang kami kasihi. Maraton ini adalah suatu pengalaman yang sangat luar biasa: pelatihannya, setia kawan dengan pelari lainnya, kota New York yang menutup jalannya untuk Anda, rasa puas dari upaya melawan sakit dan pemikiran akan gagal, lari melewati lima sektor New York, kemudian tertatih-tatih dari Central Park bersama ribuan orang untuk naik Subway pulang dan menyadari bahwa itu adalah suatu prestasi yang sangat besar dan pelajaran yang bisa dibawa menjadi bagian dalam hidup sehari-hari: bahwa kegigihan akhirnya akan membawa kita tiba pada apa yang kita inginkan atau perlukan,” tambah Richard.

Waktu yang ditorehkan Richard adalah 5 jam dan 59 detik. Simon dan Corey Lawton selesai dengan waktu 3:53 jam dan 4:43 jam. Untuk Corrie dan Richard, perlombaan ini merupakan perlombaan maraton pertama mereka.

New York City Marathon dimulai pada tahun 1970 dan adalah salah satu marathon terbesar di dunia, dengan 43.659 peserta yang menyelesaikannya pada tahun 2009. Rute perlombaan ini mencakupi ke 5 wilayah atau burough kota New York, dengan total jarak tempuh 42,195 km atau 26,219 mil. (ms)

Read Full Post »


ההיסטוריה של מומיות Papuan (מערב גינאה החדשה-מומיות)

רוב האנשים בעולם עם אמא המצרי שזוהה בהיסטוריה של מומיה של פרעה במצרים. עם זאת, את ההיסטוריה הארוכה של אמא היתה שם גם בחיים של Papuans.

במחקר שנערך סוף שנות 1980 עד 1990 המוקדמות, מצא שבע מומיות במחוז והמחוז Yahukimo Jayawijaya. מומיה השביעי נמצא ב:

(א) Kurulu המחוזי, צפון של עיר Wamena 3 מומיות;

(ב) Assologaima המחוזי, מערבה של העיר Wamena 3 מומיות,

(ג) ו מומיה במחוז Kurima Kab. מומיות Yahokimo

מומיה פפואה

מומיה פפואה

היא רק נקבה.

של מומיות שבע, המומיות רק Werupak Elosak כפר Aikima ו מומיות בכפר Wimontok מייבל Yiwika – Sub Kurulu – כרייה המחוזי הידוע תיירים מקומיים וזרים כאחד תיירים שביקרו הכרייה מחוז עבור קהילות הילידים את ההזדמנות כדי להיזהר. אבל לראות את אלה מומיות, התיירים צריכים לשלם.

אמא Werupak Elosak (שם בעוד עדיין בחיים) היה כ 230 שנים. ללבוש בגדים מסורתיים, כמו koteka, עדיין שלם. הוא המפקד של המלחמה ומת מפצעיו זכוכית לדקור (חנית). הפצע עדיין נראים בבירור היום.
גופים Werupak להפוך מומיות, בנוסף הכבוד שירות במהלך חייו, כמו גם בקשה Werupak עצמו. הוא רוצה לשמר את גופו.

זה שונה מומיה Wimontok של מייבל. הוא הראשי. משמעויות Wimontok המלחמה המשיכה. כי במהלך חייו הוא היה האסטרטגים הראשיים של המלחמה. Wimontok מת מזקנה ולתת עדות המשפחה כי גופו שלו השתמר. במונחים של גודל, מומיות אלו קטן יותר Weropak. עם זאת, מצבו עדיין טוב יותר.

לאחר חמש שנים כל הטקסים נערכו מעין שרשרת Wimontok כרוך סביב צווארה. הטקס היה מלווה חיתוך בשר חזיר. אז שומן חזיר כי מוחל על הגוף כולו של אמא. הערכות Tersebutlah שרשרת של הגיל השיג את מומיה, כלומר כ 382 שנים.

המומיה נעשתה בטקס שנערך קדוש. ואחריו לרפא את הגוף במשך שלושה חודשים ברציפות. לאחר מומיה, ולאחר מכן התייחס הטיפול של גברים בלבד. כי על פי המנהג המקומי, מגע של אישה יעשה מומיה להיות פגום, כמו גם עבור נשים הרות אסון ואת הסביבה. אלה רק מומיות הניח בתיבת עץ ומאוחסנים pilamo, גברים בית מותאם אישית מיוחדת.

לא כל הגופים / גופים מותר להיות או להיות אמא. רק בעל ערך רב של שבט כזה או מצביא השבט למי מותר להיות אמא המנהגי.

ערך כלכלי

כל תייר רוצה לראות דמי 30,000 לאדם ו עומדים לצלם תמונות עם אמא זה מחויב כל Rp 20,000 תצלומים.

Read Full Post »


Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan dan keragaman alam serta budaya yang luar biasa. Indonesia merupakan negara mega biodiversity kedua setelah Brazil. Indonesia memiliki 42 ekosistem darat dan 5 ekosistem yang khas. Indonesia juga memiliki 81.000 km garis pantai yang indah dan kaya. Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 22 % dari seluruh luas mangrove di dunia.

Sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia merupakan negara dengan nomor urut keempat dalam besarnya jumlah penduduk setelah China, India, dan Amerika Serikat. Menurut data statistik dari BPS, jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 225 juta jiwa, dengan angka pertumbuhan bayi sebesar 1,39 % per tahun. Angka pertumbuhan ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan angka pertumbuhan bayi pada tahun 1970, yaitu sebesar 2,34%. Dengan jumlah penduduk sebesar 225 juta jiwa, maka pertambahan penduduk setiap tahunnya adalah 3,5 juta jiwa. Jumlah itu sama dengan jumlah seluruh penduduk di Singapura.

Lonjakan penduduk yang sangat tinggi atau baby booming di Indonesia akan berdampak sangat luas, termasuk juga dampak bagi ekologi atau lingkungan hidup. Hal itu dapat mengganggu keseimbangan, bahkan merusak ekosistem yang ada. Menurut Poo Tjian Sie, coordinator Komunitas Tionghoa Peduli Lingkungan Hidup, lingkungan hidup adalah kesatuan ekosistem atau system kehidupan yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, (tatanan alam),dan makhluk hidup, termasuk manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

Dengan jumlah penduduk sebesar 225 juta jiwa, membuat tekanan terhadap lingkungan hidup menjadi sangat besar. Paling tidak, 40 juta penduduk hidupnya tergantung pada keanekaragaman hayati di pantai dan perairan. Pada saat yang sama, bahwa sekitar 20% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Sekitar 43% pendudu Indonesia masih tergantung pada kayu bakar. Dan pada tahun 2003, hanya 33% penduduk Indonesia mempunyai akses pada air bersih melalui ledeng dan pompa. Tahun 2000, Jawa dan Bali telah mengalami defisit air mencapai 53.000 meter kubik dan 7.500 meter kubik, sementara di Sulawesi 42.500 meter kubik. Saat yang sama banjir telah melanda di berbagai tempat di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk Indonesia telah salah mengelola air di Bumi ini.

Dampak lonjakan penduduk di Indonesia terhadap lingkungan hayati, sudah dapat kita lihat sejak tahun 2001, laporan Bank Dunia menyebutkan, bahwa luas hutan mangrove di Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan, dari 4,25 juta hektar pada tahun 1982, menjadi 3,24 juta hektar pada tahun 1987 dan menjadi hanya 2,06 juta hektar pada tahun 1995. Di sektor kehutanan telah terjadi deforestasi yang meningkat dalam decade ini. Bank Dunia (2003) dan Departemen Kehutanan melaporkan tingkat deforestasi di Indonesia telah mencapai lebih dari dua juta hektar per tahun. Apabila tingkat kehilangan hutan ini tetap 2 juta hektar per tahun, maka 48 tahun ke depan, seluruh wilayah Indonesia akan menjadi gurun pasir yang gundul dan panas. Lautan di Indonesia juga mengalami kerusakan terumbu karang. Data dari Bank Dunia bahwa saat ini sekitar 41% terumbu karang dalam keadaan rusak parah, 29% rusak, 25% lumayan baik, dan hanya 5% yang masih dalamkeadaan alami. Sekitar 50% hutan bakau di Sulawesi telah hilang (sebagian besar menjadi tambak udang). Beberapa kawasan juga mengalami pencemaran. Ini terjadi di kawasan-kawasan yang sibuk dengan kegiatan pelayaran, atau perairan yang bersinggungan dengan kota-kota besar, seperti perairan teluk Jakarta dan Surabaya.

Menurut Ir. Boby Setiawan MA., PhD, Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, untuk mamalia terdapat sekitar 112 jenis yang terancam punah di Indonesia. Sementara untuk burung, terdapat sekitar 104 jenis yang mengalami ancaman serius.

Menurut Malthus, pertumbuhan jumlah penduduk, bila tidak dikendalikan, akan naik menurut deret ukur (1,2,4,8,dst). Produksi pangan meningkat hanya menurut deret hitung (1,2,3,4,dst). Di Indonesia dengan ledakan penduduk saat ini, mengakibatkan dampak sosial yaitu mengalami krisis pangan. Bahkan di dunia pun terjadi krisis pangan global.

Selain itu, semakin banyak terjadi urbanisasi karena orang-orang desa yang dulunya kecukupan pangan namun tidak menikmati pembangunan mulai berbondong-bondong pindah ke kota. Generasi muda tidak ada yang mau menjadi petani.

Tahun 2008 dicanangkan sebagai tahun sanitasi sedunia. Jumlah penduduk yang melonjak dipastikan menambah persoalan sanitasi. Sekitar 1 juta jamban di kawasan Jabotabek dibangun dengan jarak kurang dari 10 meter dari sumur. Jika penduduk kota terus melonjak, entah karena urbanisasi atau kelahiran alami, sementara jumlah WC nya tetap bisa dibayangkan sendiri akan menjadi apa jamban tersebut. Kualitas hidup di kota menjadi merosot. Beragam penyakit seperti diare akan menyebar.

Ujung dari semua ledakan penduduk itu adalah kerusakan lingkungan dengan segala dampka ikutannya seperti menurunnya kualitas pemukiman dan lahan yang ditelantarkan, serta hilangnya fungsi ruang terbuka. Dampak lonjakan populasi bagi lingkungan sebenarnya tidak sederhana. Persoalannya rumit mengingat persoalan terkait dengan manusia dan lingkungan hidup. Butuh kesadaran besar bagi tiap warga negara, khusunya pasangan yang baru menikah, untuk merencanakan jumlah anak.

Sumber: http://izzahluvgreen.wordpress.com

Read Full Post »


Wisdom is not measured by the length of age ….

B Josie Susilo Hardianto

Anton Sumer stunned in front of the television. Preaching about the death of former President Abdurrahman Wahid confiscated all his attention. “Ai, ouch. We, the people of Papua, proper sad. He is our father of the Papuans. He also is returning the name of Papua, “Anton said, holding his head.

Once, during the New Order, taboo if the Papuans identified themselves as Papuans. However, by Gus Dur walls were torn down fears. Formerly known as Papua New Guinea, as well as the population, people of Irian.

In the past, even though politically they were reluctant to call themselves by Papua for fear of identifying with the Free Papua Movement, deep in their hearts are Papuans. “Because Gus Dur, we are not afraid again call ourselves people of Papua, and we are proud of it,” said Ezekiel Belaw, a native youth Paniai.

Gus Dur also in 2000 as the President allow Congress held Papuans. In fact, give financial support to hold the Second Papuan People’s Congress’s. Permission is granted it is not only very valuable. For the people of Papua, the powerful impact of democracy, especially in relation to their identity.

In a meeting attended by more or less than 5000 participants from all parts of Papua, they openly speak of the need to complete the historical distortion of Papua. They also discussed the importance of completing the various cases of human rights abuses in Papua and the neglect of basic rights, especially in the economic, social, cultural and people of Papua.

They see that dialogue and negotiation is an important step to solve three problems. In a congress held in Jayapura were also established foundation Papua Presidium Council, chaired by Theys Hiyo Eluay.

Politically, Wahid’s desire before the New Year 2001, as expressed through the words, “I Want to Papua to see the sunrise from the east” had an incredible impact for the people of Papua.

Identity
Gus Dur also openly admitted that the Papuan people back as a nation. “He not only open and build democratic spaces, bringing a sense of security and comfort, but also recognizes the dignity of our people of Papua,” said Chairman of the Papua Customary Council Forkorus Yaboisembut.

Although the logic of constitutional recognition of the Morning Star flag and the song “O my land of Papua” as one of the symbols Forkorus Yaboisembut according kepapuaan very controversial, yet remains merestuinya Wahid.

Recognition of cultural expression, freedom of opinion, and political identity is not only important for the people of Papua, but also confirmed the presence of the Papuan people to be treated equally.

“With the courage of faith and intellect, he was freed from the restraints of society of Papua New Order period of authoritarian militaristic,” said Forkorus.

Unfortunately, according to researchers from the Institute of Community Study and Advocacy, Amiruddin Al Rahab, who had pioneered what Gus Dur is not forwarded. However, it does not reduce the significance of what has been initiated for Papua Wahid.

For the Chairman of School of Philosophy and Theology of the Eastern Dawn, Abepura, Neles Tebay, open and democratic attitude supported by the courage of faith and intellect is what puts Gus Dur as the peace. “Man of Peace,” said Neles Tebay.

Not surprisingly, the departure of Gus Dur becomes a big loss for the people of Papua. Moreover, they are currently preparing the establishment of a Papua commemoration and Wahid invited to attend.

According to Forkorus, Gus Dur has inspired them to fight in and for the sake of peace. Though his reign as president is very short, what he has done for the people of Papua is very important. “Although physically, Gus Dur is difficult to see, she had eyes that could see the heart far deeper than the physical eye,” said Anton Sumer.

In the silence greeted the New Year’s Mass at a small church in the border region in Keerom District, prayers for Gus Dur rising. “Thank you Gus,” muttered a race.

Source: Kompas,  January 4, 2010 —— Translated by Google Translator

Read Full Post »


Kebijaksanaan tidaklah diukur dari panjangnya usia….

B Josie Susilo Hardianto

Anton Sumer tercenung di depan televisi. Pemberitaan tentang wafatnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid menyita seluruh perhatiannya. ”Ai, aduh. Kami, orang Papua, layak bersedih. Beliau bapak kami orang Papua. Beliau pula yang mengembalikan lagi nama Papua,” kata Anton sambil memegang kepalanya.

Dulu, semasa Orde Baru, tabu jika orang Papua menyebut diri mereka sebagai orang Papua. Namun, oleh Gus Dur tembok-tembok ketakutan itu diruntuhkan. Dulu Papua disebut dengan Irian, demikian juga dengan penduduknya, orang Irian.

Dulu, meskipun secara politis mereka segan menyebut diri mereka dengan Papua karena takut diidentikkan dengan Organisasi Papua Merdeka, jauh di dalam hati mereka adalah orang Papua. ”Karena Gus Dur, kami tidak takut-takut lagi menyebut diri kami orang Papua, dan kami bangga dengan itu,” kata Yehezkiel Belaw, seorang pemuda asli Paniai.

Gus Dur pula yang pada 2000 sebagai Presiden mengizinkan masyarakat Papua menggelar kongres. Bahkan, memberi bantuan dana untuk menggelar Kongres Rakyat Papua II itu. Izin yang diberikan itu tidak saja amat berharga. Bagi masyarakat Papua, ruang demokrasi itu berdampak dahsyat, terutama terkait dengan identitas diri mereka.

Dalam pertemuan yang dihadiri lebih-kurang 5.000 peserta dari semua pelosok Papua, mereka dengan terbuka membicarakan lagi perlunya menuntaskan distorsi sejarah Papua. Mereka juga membahas pentingnya menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM di Papua serta pengabaian hak-hak dasar, terutama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya rakyat Papua.

Mereka melihat bahwa dialog dan negosiasi adalah langkah penting untuk menyelesaikan tiga masalah tadi. Dalam kongres yang digelar di Jayapura itu juga ditetapkan berdirinya Presidium Dewan Papua yang diketuai oleh Theys Hiyo Eluay.

Secara politis, keinginan Gus Dur menjelang Tahun Baru 2001 sebagaimana diungkapkannya melalui kata-kata, ”Saya Ingin ke Papua untuk melihat matahari terbit dari timur” berdampak luar biasa bagi rakyat Papua.

 

Jati diri

Gus Dur pula yang dengan terbuka mengakui kembali masyarakat Papua sebagai bangsa. ”Ia tidak hanya membuka dan membangun ruang-ruang demokrasi, menghadirkan rasa aman dan nyaman, tetapi juga mengakui harkat dan martabat kami rakyat Papua,” kata Ketua Umum Dewan Adat Papua Forkorus Yaboisembut.

Meskipun dalam logika ketatanegaraan pengakuan atas bendera Bintang Kejora dan lagu ”Hai Tanahku Papua” sebagai salah satu simbol kepapuaan menurut Forkorus Yaboisembut sangat kontroversial, toh Gus Dur tetap merestuinya.

Pengakuan atas ekspresi kultural, kebebasan berpendapat, dan identitas politik itu tidak hanya penting bagi masyarakat Papua, tetapi juga menegaskan keberadaan masyarakat Papua yang harus diperlakukan setara.

”Dengan keberanian iman dan intelektualitasnya, ia membebaskan masyarakat Papua dari kekangan masa Orba yang otoriter militeristik,” kata Forkorus.

Sayang, menurut peneliti dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, Amiruddin al Rahab, apa yang telah dirintis Gus Dur tidak diteruskan. Meskipun demikian, itu tidak mengurangi arti penting dari apa yang telah dirintis Gus Dur untuk Papua.

Bagi Ketua Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, Abepura, Neles Tebay, sikap terbuka dan demokratis yang didukung oleh keberanian iman dan intelektualitas itulah yang menempatkan Gus Dur sebagai sang damai. ”Man of Peace,” kata Neles Tebay.

Tidak mengherankan jika kepergian Gus Dur menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Papua. Apalagi, mereka sebenarnya tengah mempersiapkan peringatan penetapan nama Papua dan hendak mengundang Gus Dur hadir.

Menurut Forkorus, Gus Dur telah mengilhami mereka untuk berjuang dalam dan demi perdamaian. Meski masa pemerintahannya sebagai presiden amat pendek, apa yang telah dilakukannya bagi masyarakat Papua sangat penting. ”Meski secara fisik, Gus Dur sulit melihat, ia memiliki mata hati yang mampu melihat jauh lebih dalam daripada mata fisik,” kata Anton Sumer.

Dalam keheningan misa sambut Tahun Baru di sebuah gereja kecil di wilayah perbatasan di Kabupaten Keerom, doa untuk Gus Dur membubung. ”Terima kasih Gus,” gumam seorang umat.

Sumber: Kompas 4 Januari 2010

Read Full Post »


Walau banyak kasus korupsi dan persoalan lainnya, ekonomi negara kita bisa tetap berjalan. Ini tentu saja berkat ada penggerak-penggerak di masyarakat yang tidak tergantung pada peraturan dan pemerintah. Mereka yang jarang diketahui orang ini disebut entrepreneur. Ini beberapa dari mereka dan upaya yang telah dilakukan untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita.

Wimar’s World Rabu malam (28/3) menghadirkan tiga orang entrepreneur yaitu Bob Sadino (pemilik supermarket Kem Chicks), Hadrijanto Satyanegara (PR Manager Patrakom), dan Fred Hehuwat (salah satu pendiri Yayasan ASHOKA Indonesia). Mereka adalah orang-orang yang tidak putus asa bahkan bersemangat dan memberi contoh kepada kita. Berikut potongan percakapan mereka dengan Wimar Witoelar.

Empat Modal Entrepreneur

Wimar : Katanya, Anda dulu pelaut, lalu bagaimana Anda bisa sampai menjadi

entrepreneur dengan membuka supermarket? (more…)

Read Full Post »

Older Posts »