Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2010


Taksonomi Bloom merujuk model pengembangan peserta didik yang didik beratkan pada tujuan pembelajaran.  Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Bloom membagi sasaran pengembangan peserta dalam tiga sisi berdasarkat tujuannya.

Ketiga sasaran dan tujuan pengembangan cara berpikir peserta didik yang dimaksudkan Bloom adalah:

1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.

1. Domain Kognitif

1.1. Pengetahuan (Knowledge)

1.2. Pemahaman (Comprehension)

1.3. Aplikasi (Application)

1.4. Analisis (Analysis)

1.5. Evaluasi (Evaluation)

1.6. Sintetis (Synthesis)

2. Domain Afektif

2.1. Penerimaan (Receiving/Attending)

2.2. Tanggapan (Responding)

2.3. Penghargaan (Valuing)

2.4. Pengorganisasian (Organization)

2.5. Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

3. Domain Psikomotor

3.1. Persepsi (Perception)

3.2. Kesiapan (Set)

3.3. Guided Response (Respon Terpimpin)

3.4. Mekanisme (Mechanism)

3.5. Repon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)

3.6. Penyesuaian (Adaptation)

3.7. Penciptaan (Origination) (more…)

Advertisements

Read Full Post »


Materi Cerama Pendidikan Lingkungan Hidup di SMP YPJ KKApakah pendidikan tentang Lingkungan hidup, penting untuk dimasukan dalam kurikulum muatan lokal maupun kurikulum muatan nasional agar dapat dibelajarankan dalam setiap jenjang mendidikan dasar dan menengah yang ada?

Pada dua bulan pertama pertemuan dengan siswa dalam kelas Pendidikan Lingkungan Hidup yang saya tangan, ketika materinya saya catat di papan tulis, terdengar suara siswa yang mengatakan PLH “Epenkah”. maksudnya Pentingkah? lalu saya selalu menjawab Penting ‘Nak. Disambung dengan penjelasan yang sederhana tentang peran lingkungan terhadap keberlangsungan kehidupan di bumi serta ancaman-ancaman tentang kehidupan yang sedang dirasakan oleh segala mahluk di bumi dan yang akan dialami jika semua pihak secara kolektif tidak mengambil tanggung jawabnya dalam menyelamatkan bumi.

Hal serupa juga datang dari orang tua murid yang mengatakan “PLH emang penting ya“. Sampai-sampai pernyataan: “Wah Sekolah udah mempekerjakan anak di bawah umur” karena harus olah sampah, tanam tanaman di pekarangan sekolah, bersihkan parit dan seterusnya.

Untuk menjawab ini maka sekolah dalam hal ini kami sebagai guru PLH bekerjasama dengan Kepala Sekolah dan Parnert kami dari Dept.Environment PT Freeport Indonesia melakukan konsientisasi kepada orang tua murid, pertemuan antara pihak sekolah dan pihak orang tua lalu memaparkan Penerapan Pendidikan Lingkungan Hidup sekolah.

Salah satu Materi ceramahnya adalah PLH Pentingkah?

Kesaksian: Rudolf Pigai, STh. Guru Pendidikan Lingkungan Hidup, Kuala Kencana – Mimika – Papua

Read Full Post »


Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup yang kini telah dan semakin semarak di terapkan di sekolah adalah bukan mempekerjakan siswa sebagai pekerja di lingkungan sekolah, tetapi membangun jiwa cinta lingkungan, dengan harapan bahwa generasi berikut menjadi generasi yang berbudaya lingkungan dan menjadi sebuah habit bagi semua civitas sekolah.

Untuk maksud tersebut, maka hendaknya pihak sekolah dan semua stake-holder serta pemerhati Lingkungan Hidup  melakukan konsitentisasi yang holistik kepada konsumen pendidikan tentang peran lingkungan terhadap keberlangsungan kehidupan di bumi, ancaman terhadap kehidupan dan solusi penyelamatan kehidupan di bumi, serta menjelaskan tentang porsi perhatian sekolah dalam hal ini siswa terhadap ekosistim lingkungan hidup sekitarnya.

Berikut adalah beberapa hal yang hendaknya diperhatikan oleh semua pihak

Pendidikan Lingkungan Hidup: dalam buku catatan

Pada tahun 1986, pendidikan lingkungan hidup dan kependudukan dimasukkan ke dalam pendidikan formal dengan dibentuknya mata pelajaran ?Pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup (PKLH)?. Depdikbud merasa perlu untuk mulai mengintegrasikan PKLH ke dalam semua mata pelajaran (more…)

Read Full Post »


JAKARTA – PT Freeport Indonesia (Freeport) akan menyerap semen produksi pabrik lokal di Papua. Hal itu menyusul rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua membangun basis produksi semen di daerah tersebut Presiden Direktur dan CEO Freeport Armando Mahler mengatakan, saat ini rencana Pemprov tersebut dalam tahap kajian studi dan ditargetkan segera rampung.

“Kebutuhan semen Freeport mencapai 180 ribu ton per tahun. Selama ini kami dipasok dari Semen Gresik dan Semen Cibonong. Kalau proyek itu direalisasikan, kami akan menyerap produksi semen industri lokal tersebut,” kata Armando di sela-sela pelepasan secara simbolik 2.200 artefak Indonesia ke Shanghai oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta, Rabu (24/2).

Dia menambahkan, rencana tersebut membantu pasokan semen ke Papua dari aspek harga. Pasalnya, kata dia, selama ini Papua bergantung pada pasokan semen dari industri di kawasan Indonesia Barat. “Mudah-mudahan dalam waktu singkat kajian studinya selesai. Kalau bisa langsung dibangun tahun depan, kira-kira 1,5 tahun kemudian bisa menikmati pasokan dari industri semen lokal. Yang pasti, kalau proyek itu bisa direalisasikan, harga semen di Papua bisa bersaing.

Sebab, kalau dipasok dari Indonesia Barat, ongkos logistiknya mahal,” tutur dia. Proyek tersebut, lanjut dia, diperkirakan membutuhkan dana investasi awal sekitar US$ 170-200 juta. Proyek yang direncanakan dibangun di Timika itu, ujar Armando, diprediksi berkapasitas sekitar 500 ribu ton per tahun.

Tidak Berminat

Sementara itu, Armando menegaskan, pihaknya tidak berencana membangun pabrik semen sendiri, termasuk di Papua. “Kalau untuk membangun pabrik semen sendiri, Freeport tidak berencana karena core (inti) bisnis kami adalah pertambangan. Tapi, Freeport mendukung proyek itu dengan mengerahkan tenaga ahli dan memberikan program pelatihan,” ujar Armando.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat berencana mengajak industri-industri di Papua, termasuk Freeport, membangun pabrik semen di daerah tersebut. Menurut Hidayat, jika industri di Papua membangun pabrik semen lokal, har- ga yang selama ini masih tinggi dapat ditekan. Selain itu, kata Hidayat, investasi baru tersebut dapat mempercepat pembangunan infrastruktur di Papua

Dihubungi terpisah, CEO Bosowa Group Erwin Aksa mengatakan hal senada. Menurut Erwin, membangun industri semen di Papua tergolong sulit Pasalnya, Papua masih jauh dari ketersediaan sumber energi terutama listrik. Selain itu, infrastruktur Papua belum mendukung rencana tersebut.

Erwin menjelaskan, meski Papua memiliki pasokan sumber bahan baku utama semen yakni limestone (batu gamping), rencana tersebut sulit direalisasikan. Dia menambahkan, pasar semen yang kecil juga tidak mendukung rencana tersebut

“Sebaiknya, masalah infrastruktur khususnya listrik dan pelabuhan harus dibereskan lebih dahulu. Selain itu, pasar semen di Papua kecil dan tersebar di beberapa kota. Contohnya, pabrik Semen Kupang. Karena pasarnya kecil, produksi menjadi tidak ekonomis.

Bosowa belum berminat membangun pabrik semen di Papua,” tutur Erwin saat dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu. Menurut dia, syarat menjadi pabrik yang ekonomis harus dengan kapasitas produksi sebesar 1,5 juta ton per tahun. Selain itu, kata dia, harus terletak di dekat pasar dan sumber energi batubara yang besar.

Erwin menambahkan. Bosowa melalui pabriknya di Sulawesi Selatan memasok sekitar 40% kebutuhan semen di kawasan Indonesia Timur. Menurut Erwin, kebutuhan semen di Papua mencapai 600 ribu ton per tahun, sedangkan Kupang membutuhkan 400 ribu ton semen per tahun.(eme)

Sumber: Media Indonesia, 25 Pebruari 2010

Read Full Post »


PT Freeport Indonesia akan tetap mengekspor sebanyak 70% dari konsentrat tembaga untuk proses peleburan (smelter). Saat ini, perusahaan tersebut tengah menunggu realisasi pembangunan dua pabrik peleburan tembaga yang berkapasitas 200-300 juta ton per tahun.

Dua pabrik peleburan tembaga itu, yakni PT Nusantara Smelting di Bontang dan PT Indosmelt di Makassar. “Untuk saat ini. Freeport sudah pasok (konsentrat tembaga) ke Gresik (PT Gresik Smelter) sebanyak 30% atau sekitar 300 ribu hingga 500 ribu ton per tahun,” kata Presiden Direktur CEO PT Freeport Indonesia Armando Mahler di Jakarta kemarin.

Armando menyebutkan, produksi konsentrat tembaga PT Freeport per tahun mencapai 5 ribu ton per hari. Untuk saat ini, ia belum ada rencana guna menambah lagi pasokan domestik dengan alasan kapasitas produksi Gresik Smelter sudah maksima].

Armando juga mengungkapkan, pihaknya tengah menunggu perundingan bisnis antara dua calon perusahaan peleburan tembaga baru, yaitu PT Indosmelt dan PT Nusantara Smelting. Jika dua pabrik smelter tembaga tersebut jadi dibangun, lanjutnya, Freeport akan mengkaji studi kelayakan kemungkinan kontrak pasokan konsentrat tembaga. Dengan pembangunan kedua peleburan tersebut, Armando berharap pasokan konsentrat ke dalam negeri lebih banyak.

Di sisi lain. Freeport juga akan menyerap semen lokal jika pemerintah Provinsi Papua merealisasikan proyek pembangunan pabrik semen di Timika. ” Selama ini kan dipasok dari Gresik dan Cibinong sehingga jika proyek ini terealisasi, kami akan beralih ke semen lokal,” jelas Armando.

Saat ini Pemerintah Provinsi Papua tengah menyelesaikan kajian studi pembangunan pabrik semen di Timika. Proyek itu menelan dana sebesar US$170 juta hingga US$200 juta untuk produksi tahap pertama sebanyak 500 ribu ton per tahun. Armando menambahkan, pihak Freeport turut membantu proyek tersebut dengan menyuplai tenaga ahli dan terlatih dalam pembangunan pabrik.

Sumber: Media Indonesia, 25 Pebruari 2010

Read Full Post »