Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Krisis Ekonomi Global’ Category


 

Indonesia Lambat Promosi


JAKARTA, KOMPAS – Indonesia menyerukan penghimpunan dana siaga yang berasal dari dan digunakan oleh negara-negara penganut ekonomi syariah atau Islamic World Expenditure Support Fund. Ini perlu untuk menangkal pengaruh buruk krisis perekonomian dan keuangan global.

 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan hal tersebut saat membuka Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) Kelima di Jakarta, Senin (2/3), yang dihadiri 1.557 peserta dari 36 negara.

Acara ini dihadiri juga Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Abdullah Ahmad Badawi, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Presiden Somalia Sheikh Sharief Sheikh Ahmed, Perdana Menteri Kerajaan Maroko Abbas El Fassi, dan Sekjen Organisasi Konferensi Islam Ekmeleddin Ihsanoglyu.

Menurut Presiden Yudhoyono, akibat krisis keuangan global, negara ekonomi maju dan berkembang menghadapi rintangan serius dalam mencapai tujuan pembangunannya.

Atas dasar itu, Indonesia mengusulkan pembentukan dana global (global expenditure support fund) di kelompok G-20, yang akan dimatangkan dalam pertemuan tingkat tinggi di London, April 2009.

”Dalam kaitan ini, saya percaya tidak ada ruginya jika kita mempertimbangkan Islamic Expenditure Support Fund. Dengan dana ini, negara Muslim yang tidak memiliki kemampuan maksimal untuk membangun negerinya akan mendapatkan manfaat dari cadangan dana yang kini dipegang oleh negara Muslim pengekspor minyak,” ujarnya.

Sebagai gambaran, negara-negara Teluk mencatatkan penghasilan bersih dari kenaikan harga minyak mentah sekitar 4 triliun dollar AS atau Rp 44.000 triliun. Itu setara delapan kali produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun 2009.

Menteri Negara BUMN yang juga Ketua Komite Penyelenggara WIEF Ke-5 Sofyan A Djalil mengatakan, investor Timur Tengah kini sedang mencari tempat investasi baru setelah investasi mereka di negara maju, seperti Eropa dan Amerika Serikat, rugi akibat krisis.

”Di negara maju, investor Timur Tengah umumnya berinvestasi di pasar keuangan. Di Indonesia, mereka lebih berminat berinvestasi di sektor riil,’ katanya.

Sofyan A Djalil mengakui, Indonesia terlambat mempromosikan diri sebagai tempat investasi yang berprospek. Berbeda dengan Malaysia yang telah berpromosi sejak belasan tahun silam. (OIN/FAJ)

 

Sumber, Kompas 3 Maret 2009

 

Read Full Post »


Jakarta (ANTARA News) – Pemerintah segera menyusun program aksi pengembangan ekonomi kreatif yang ditargetkan bisa memberi sumbangan sekitar 7-8 persen terhadap PDB pada 2015.

“Pada Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) yang kedua nanti kami akan fokus membahas program aksi untuk mencapai target itu,” kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, potensi industri kreatif di Indonesia sangat besar mengingat kekayaan budaya yang beragam. Selama ini, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB telah mencapai 6,4 persen.

“Kontribusi ekspor produk industri kreatif selama ini telah mencapai 10 persen. Tapi itu ditambah ekspor fesyen secara keseluruhan termasuk yang diproduksi secara massal,” jelasnya.

Mendag menjelaskan pada PPBI ke-2 yang digelar pada 4-8 Juni 2008 nanti akan diluncurkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif hingga 2025.

“Secara umum kami telah diidentifikasi lima permasalahan utama yang menjadi pokok perhatian dalam rencana pengembangan industri kreatif untuk pencapaian target tahap pertama pada 2015,” ungkap Mendag.

Lebih lanjut ia menjelaskan permasalahan dalam industri kreatif adalah kurangnya jumlah dan kualitas sumber daya manusia sehingga harus dikembangkan lembaga pendidikan dan pelatihan yang bisa melahirkan pelaku industri kreatif.

Masalah kedua adalah pengembangan iklim kondusif untuk memulai dan menjalankan usaha industri kreatif yang meliputi sistem administrasi negara, kebijakan dan peraturan serta infrastruktur yang diharapkan dapat dibuat kondusif bagi perkembangan industri kreatif.

Masalah ketiga, lanjut Mendag, mengenai penghargaan terhadap pelaku industri kreatif baik secara finansial maupun nonfinansial.

Masalah lain yang teridentifikasi adalah upaya percepatan tumbuhnya teknologi informasi dan komunikasi yang terkait erat dengan pengembangan akses pasar dan inovasi dalam industri kreatif.

Ekonomi kreatif bertumpu pada 14 subsektor industri kreatif yaitu periklanan, penerbitan dan percetakan, TV dan radio, film, video dan fotografi, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, fesyen, kerajinan, pasar barang seni, permainan interaktif, layanan komputer dan piranti lunak serta penelitian dan pengembangan.

Persentase kontribusi PDBB sub sektor industri kreatif pada 2006 didominasi oleh fesyen sebesar 43,71 persen atau senilai Rp45,8 triliun, kerajinan sebesar 25,51 persen atau senilai Rp26,7 triliun, periklanan sebesar 7,93 persen atau senilai Rp8,3 triliun.

Selama 2002-2006, industri kreatif menyerap sekitar 5,4 juta pekerja dan menyumbang Rp81,5 triliun atau 9,13 persen terhadap total ekspor nasional. Selama ini sumbangan ekonomi kreatif pada PDB sebesar 6,4 persen. (*)

Sumber:
Antara COPYRIGHT © 2008

Read Full Post »


JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, sistem keuangan negara saat ini tidak sederhana dibanding sistem keuangan negara sebelumnya. Akibatnya, banyak pejabat dan analis yang belum memahami sistem keuangan negara, termasuk sistem anggaran.

“Pelaksanaan sistem keuangan dan anggaran, tidak sesederhana yang dibayangkan. Pengelolaan keuangan negara saat ini berbeda dengan masa lalu,” kata Sri Mulyani dalam Konferensi Persoalan Kinerja Belanja Negara untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (26/5/2008).

Setidaknya, kata dia, ada tiga undang-undang (UU) bidang keuangan negara yang menjadi pedoman sistem keuangan negara, yaitu UU tentang Keungan Negara, UU Perbendaharaan Negara, serta UU yang terkait pemeriksaan dan tanggungjawab keuangan negara.

Sri Mulyani mengatakan, penganggaran dalam sistem keuangn lama didasarkan pada kebutuhan dana. Namun dalam sistem yang baru, anggaran didasarkan pada apa yang akan dihasilkan.

Reformasi anggaran yang akan dilaksanakan menyangkut tiga hal, yaitu bagaimana aplikasi penganggaran berbasis kinerja, pengelolaan anggaran secara terpadu, dan pengelolaan anggaran jangka menengah dan jangka panjang.

Di tempat yang sama, Sekjen Depkeu Mulia Nasution mengatakan, kerangka managemen dan perencanaan keuangan publik mengalami reformasi sejak 2001. “Penyusunan anggaran ini merupakan reformasi sejak 2001,” tegasnya. (hsp)

Read Full Post »


‘Ekonomi Dunia stabil mulai Mei’. Itulah salah satu judul yang dipublish oleh media cetak Bisnis Indonesia pada terbitan hari kamis 19 Pebruari 2009. Artikel yang ditulis oleh Erna R.U.Girsang ini memberi tanda kutip pada judul utama lalu dilanjutkan dengan judul kecil di bawahnya bahwa Greenspan: Stimulus AS belum mampu memulihkan sistem keuangan.

Tulisan ini berawal dari pernyataan Steve H. Hanke, dosen senior bidang ekonomi terapan Universitas John Hopkins, Amerika Serikat dalam kuliah umum Universitas Pelita Harapan (UPH) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia bertajuk The International Financial Crisis of 2008-2009, tanggal 18 February 2009, menyatakan “Setelah Mei akan dimulai stabilisasi. Kebijakan moneter dan fiskal akan kembali ke arah normal”.

Sejalan dengan Hanke, Dekan UPH Roy Sembel mengatakan ekspektasi dimulainya pemulihan ekonomi pada pertengahan tahun ini diharapkan dapat direspons oleh pelaku usaha. “Menghadapi krisis tidak hanya perlu kewaspadaan mengantisipasi semua risiko, tetapi juga siap menghadapi peluang yang muncul tiba-tiba”.

Hanke menambahkan pemulihan ekonomi, setelah Mei, sebagian besar mulai terlihat di negara maju dan kemudian meluas ke negara lain, dengan cara yang hampir sama saat krisis menyebar. Pemulihan ekonomi itu akan terlihat dari adanya beberapa indikator makro yang menunjukkan tanda-tanda kestabilan ekonomi setelah Mei 2009, seperti harga sejumlah komoditas yang menyentuh level terendah pada minggu pertama Desember 2008, kembali bergerak naik. Dengan begitu, jelasnya, nilai ekspor sejumlah negara ikut meningkat, sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Pemulihan ekonomi itu terjadi karena tiga faktor, yakni pertama adanya paket stimulus fiskal Pemerintah Amerika Serikat senilai US4787 miliar; kedua, sebelum Pemerintah mengucurkan dana stimulasi tersebut, pemerintah segera memperbaik sistem keuangan negara terlebih dahulu, seperti Jepang ketika menghadapi krisis ekonomi pada tahuan 199-an, mereka bangkit dengan cara memperbaiki sistem ekonomi dan menjalankannya; ketika, menurut Greenspan pemerintah perlu memperluas dana perbaikan sistem keuangan US$700 miliar.

Hal di atas sangat diperlukan karena “Jumlah dana yang disiapkan tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan krisis ini mengingat, Presiden AS Barack Obama sedang menghadapi resesi terdalam sepanjang sejarah, di mana ekonomi terkontraksi 3,8% pada kuartal IV/2008 atau terburuk sejak 1982, ujar mantan chairperson Federal Reserve Alan Greenspan sebelum menyampaikan pidato di Economic Club, New York, AS, tanggal 18 Februari 2009.

Kekontraksian ekonomi ini terjadi karena saham perbankan AS terpukul seiring dengan kerugian besar-besaran. Saham Citigroup Inc, bank yang memperoleh suntikan dana pemerintah US$45 miliar pada tahun lalu, turun 43% menjadi US$3,06. Adapun JPMorgan Chase & Co, bank terbesar kedua di AS berdasarkan aset, sahamnya turun US$3,04 menjadi US$21,65 dan Bank of America Corp melorot 67 sen menjadi US$4,90.

Itu berarti pemulihan ekonomi yang dinyatakan oleh Steve H. Hanke di atas itu, tergantung tindakan pemerintah AS melakukan poin kedua dan ketiga. Jika tidak, maka pemulihan ekonomi itu akan semakin jauh dari harapan. Lalu bagai mana dengan Pemerintah Indonesia dan Propinsi Papua? Apakah Pemerintah mampu menyikapi perubahan tersebut, lalu menyambutnya sebagai bola yang dipasing ke straiker dan siap menggolkan? Atau sebaliknya, pemerintah saat ini hanya sibuk dengan berkampanya sehubungan dengan Pemilu? Kita tunggu saja.antami-krisis1

Dari berbagai sumber

Read Full Post »


 

 

Ekonomi Kreatif adalah salah satu usaha ekonomi dari empat jenis usaha ekonomi di sector ril, yakni pertanian, industri, informasi. Pengembangan usaha ekonomi kreatif ini, sangat penting dalam menghadapi persaingan antar bangsa yang semakin kompetitif di era global ini dan mampu menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi global dan bahkan berjaya serta membuat Indonesia mampu bersaing dengan negara lain di dunia.

Menteri Perdagangan (Mendag), Mari Elka Pangestu, mengungkapkan, peran industri ekonomi kreatif tak bisa dianggap remeh. Se pan jang 2002-2006, industri krea tif Tanah Air menyumbang Rp 104,6 triliun atau 6,3 persen ter hadap produk domestik bruto (PDB); dan berkontribusi 10,6 persen dari total ekspor atau senilai Rp 81,4 triliun. Ini tentu capaian fantastis, mengingat Singapura saja, kontribusi industri kreatif hanya 2,8 persen terhadap PDB. Sementara Inggris mencapai 7,9 persen. ‘’Tingkat partisipasi tenaga kerja di sektor ini mencapai 5,8 persen. Pada 2001, total nilai ekonomi industri kreatif Rp 2 triliun”(21-10-2008).

Usaha ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan kurang lebih sebanyak 14 jenis, yakni: (1)musik dan alat musik, (2)periklanan, (3)arsitektur, (4)pasar seni dan barang antik, (5)kerajinan, (6)disign, (7)fashion, (8)film, (9)video dan fotografi, (10)permainan interaktif, (11)seni pertunjukan, (12)penerbitan dan percetakan,  (13)layanan komputer dan peranti lunak, (14)serta radio dan televisi.

Ekonomi kreatif bagaimana yang dapat merebut pangsa pasar di Indonesia dan dunia saat ini ? Ekonomi kreatif yang dapat merebut pangsa pasar adalah usaha atau industri ekonomi kreatif yang berbasis budaya dan ramah lingkungan.

Keberagaman budaya Indonesia yang kompleks dan amat beragam, seperti:

(a)    limpannya ribuan bahkan jutaan potensi produk kreatif yang layak dikembangkan di Tanah Air.

(b)   memiliki 17.500 pulau,

(c)    400 suku bangsa, lebih dari 740 etnis (di Papua saja 315 kelompok etnis), budaya, bahasa, agama dan kondisi sosial-ekonomi.

(d)   nilai-nilai budaya luhur (cultural heritage) yang kental terwarisi,

(e)    teknologi tinggi pembangunan Borobudur, batik, songket, wayang, pencak silat, dan seni bu daya lain, menjadi aset bangsa.

(f)     Ada tujuh lokasi di Indonesia yang dijadikan situs pusaka dunia (world heritage site),

(g)    memiliki tingkat keragaman hayati (biodiversity) yang sukar ditandingi,

(h)    banyak spesies yang khas dan tak dapat dijumpai di wilayah lain di dunia, seperti komodo, orang utan, cendrawasih,

(i)      lalu hasil budidaya rempah-rempah, seperti cengkeh, lada, pala, jahe, kayumanis, dan kunyit”().

 Dapat memberikan kontribusi yang cukup untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif sebagai upaya menyelamatkan Indonesia dari dampak krisis ekonomi global yang sedang terjadi saat ini dan barangkali krisis ekonomi yang akan datang.

 

Usaha ekonomi kreatif ini tidak dapat berkembang dengan sendirinya. Ia membutuhkan sentuhan tiga stake holder yang dikenal dengan istilah triple helix, yaitu pengusaha, kaum intelektual, dan pemerintah dalam sebuah networking yang holistik, kongkrit dan berkesinambungan.

Pengusaha dalam hal ini adalah kelompok masyarakat yang mensponsori usaha ekonomi kreatif, kaum intelektual yang menghasilkan karya-karya kreatif baik secara tradisional-budaya dan modern, serta pemerintah dalam hal ini sebagai stake holder yang memproteksi hasil kreasi masyarakat Indoanesia serta yang memberi kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan usaha pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Pemerintah Pusat telah berikhtiar untuk mengaturnya melalui kebijakan yang bertujuan mengangkat dan melindungi usaha ekonomi kreatif melalui suatu mekanisme kebijakan yang berkeadilan dan serta membangunan mekanisme operational yang sehimbang.
Lalu pertanyaannya adalah bagaimana dengan pemerintah Pronpinsi Papua dan kabupaten-kabupaten di Papua menyikapi perkembang ini? Apakah Pemda propinsi dan kabupaten di seluruh tanah Papua mampu menyikapi hal ini dengan membuat suatu strategi dalam menolong tumbuh-kembang ekonomi kreatif masyarakat pribumi tanah Papua atau diam seribu bahasa, lalu nongol hanya di media masa lalu hilang dan tertidur pulas di kursi empuk? Kita tunggu saja.

 

Read Full Post »


 

JAKARTA: Pemerintah mengaku sulit menjaga ekonomi Tanah Air 2009 untuk bisa tumbuh sebesar 5% di tengah krisis, sejalan dengan koreksi negatif pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 0,5% oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

“Target pertumbuhan ekonomi Indonesia yakni 5% pada 2009, luar biasa sulit,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menyampaikan sambutan dalam peluncuruan sukuk ritel, kemarin.

Sebelumnya, IMF memprediksi ekonomi dunia hanya akan tumbuh skeitar 0,5% yang menggambarkan laju perdagangan global yang negatif.

Untuk itu, katanya, pemerintah akan menyikapi dinamika ekonomi dunia yang cepat berubah dengan mengupayakan sejumlah cara agar krisis ekonomi dunia tidak berimbas ke Tanah Air.

Salah satunya dengan memastikan arus modal di dalam negeri tetap bergerak maksimal dengan mendorong investasi dan menjaga tingkat konsumsi masyarakat.

Sri Mulyani berharap sektor perbankan ikut membantu menciptakan iklim usaha yang lebih sehat dengan memberikan kredit kepada masyrakat dan dunia usaha. Hal ini erat kaintannya denga upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat meningkat guna menopang pertumbuhan ekonomi.

“Lembaga keuangan sebagai motor ekonomi saat ini memang menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, kegiatan pinjam meminjam menjadi sesuatu yang extraordinary,” ungkapnya.

Terkait dengan pembiayaan defisit, tambah Sri Mulyani, pemerintah akan menggerakkan sumber-sumber yang ada untuk menutupi defisit yang saat ini menjadi 2,5%, salah satunya dengan menerbitkan sukuk ritel bagi warga negara Indonesia.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Perindustrian Eddy Putra Irawady mengungkapkan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengurangi beban dunia usaha, pemerintah telah memberikan stimulus ekonomi yang merata di berbagai sektor.

 

Stimulus alternatif   

Dia mengakui banyak industri padat karya yang gaji pekerjanya di bawah PTKP. Untuk mereka, pemerintah sudah memikirkan secara masak untuk memberikan jenis stimulus alternatif yang bisa dirasakan.

Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Bidang Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah Sandiago Uno sepakat dengan pernyataan Eddy Putra.

Pasalnya, perusahaan yang selama ini menanggung PPh pasal 21 akan lebih longgar likuiditasnya dengan adanya insentif itu.

“Mudah-mudahan perusahaam memiliki opsi untuk tidak PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Perusahaan bisa lebih mengefisiensikan dana untuk penguatan kondisi perusahaan selama 2009,” tuturnya.

Sementara, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa menilai stimulus yang paling mendasar atau dibutuhkan dunia usaha saat ini adalah penguatan pasar domestic,” seperti memperbaiki jalur distribusi barang.

Read Full Post »


Kita semua tentu sudah tahu bahwa saat ini negara super power amerika sedang dalam masalah / krisis keuangan. Menurut kompas penyebab dari krisis ekonomi AS adalah penumpukan hutang nasional yang mencapai 8.98 triliun USD, pengurangan pajak korporasi, pembengkakan biaya perang irak dan afghanistan, dan yang paling krusial adalah Subprime Mortgage: Kerugian surat berharga property sehingga membangkrutkan Lehman Brothers, Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UF.

 

Surat kabar di Eropa menyoroti krisis ekonomi di Amerika Serikat yang dampaknya juga mulai terasa di Eropa.

 

 

 

Mengenai krisis konjunktur di Amerika Serikat dan akibatnya bagi pertumbuhan ekonomi global,

Harian dari Italia La Republica yang terbit di Roma dalam tajuknya berkomentar :

 

“Saat ini Amerika Serikat dilanda resesi yang sangat serius dan menyakitkan. Kini pertanyaanya adalah: Seburuk apa fase konjunktur ini, dan apakah akan dapat meruntuhkan ekonomi Amerika Serikat secara mendadak? Di Eropa, terutama  Bank Sentral Eropa walaupun menyadari hal itu merupakan ilusi, masih tetap mengharapkan bahwa mereka masih dapat melindung kawasannya atau menepis dampak dari krisis berat ekonomi di Amerika Serikat. Namun, di tahun 2008 ini Eropa tidak akan lagi mampu menahan dampak krisis ekonomi dari Amerika Serikat dan akan ikut tergilas.”

 

 

Dari Perancis Harian Dernieres Nouvelles d`Alsace yang terbit di Strassburg juga mengomentari dengan tajam krisis ekonomi dunia tsb:

 

“Di Jerman serikat buruh menuntut kenaikan gaji sampai 8 persen untuk mengimbangi daya beli yang terus menurun. Juga di Perancis menurunnya daya beli menjadi topik bahasan. Namun dalam kenyataannya penurunan daya beli ini adalah masalah seluruh Eropa. Di mana-mana pertumbuhan ekonomi harus dikoreksi ke bawah. Bank Sentral Eropa mengecam tuntutan serikat buruh- khususnya dengan menyoroti Jerman sebagai penggerak ekonomi Eropa. Ekonomi global mengalami perubahan drastis. Krisis kredit di Amerika Serikat menunjukkan betapa rentannya globalisasi moneter. Para aktor baru ekonomi juga muncul di luar rencana. Seperti halnya dana simpanan jangka panjang dari negara-negara penghasil minyak bumi, yang merupakan investasi jangka panjang. Yang berbeda dari dana pensiun, yang hanya tertarik pada keuntungan jangka pendek. Perubahan drastis dalam sirkulasi keuangan tidak dapat diabaikan lagi.”

 

 

Sedangkan Harian yang beredar di Jerman Der Tagesspiegel yang terbit di Berlin berkomentar :

 

“Juga jika tidak seluruh ketakutan menjadi kenyataan, sekarang terlihat betapa buruknya persiapan Jerman menghadapi penurunan konjunktur. Tahun lalu kas negara hanya mendapat pemasukan 70 juta Euro, walaupun pendapatan dari sektor pajak meningkat milyaran Euro. Negara tidak mampu lagi mengembalikan kemampuannya untuk bertindak. Politik secara keseluruhan, gagal mengambil manfaat dari laju konjunktur. Asuransi kesehatan, yayasan dana pensiunan dan pasaran kerja tidak lagi kebal dari krisis. Tema ini harus dibicarakan dalam kampanye.”

 

 

Dan yang terakhir harian liberal Denmark Information yang terbit di Kopenhagen mengomentari dampak resesi pada kampanye pemilu presiden di AS :

 

“Ancaman resesi ekonomi di tahun pemilihan presiden, secara ajaib kelihatannya mempersatukan partai Republik dan partai Demokrat di Kongres serta presiden saat ini. Sakarang ini juga harus disuntikkan dana segar bagi sirkulasi ekonomi, dan lebih baik tentu saja jika langsung disalurkan kepada konsumen AS. Seandainya presiden AS merintangi proyek ini, peluang partai Republik untuk mempertahankan kekuasaannya di Gedung Putih akan semakin buruk. Sebab kandidat partai demokrat dapat melemparkan tanggungjawab bagi resesi serius tahun 2008 ini, kepada Bush dan partai Republiknya. Untuk sementara, kelihatannya krisis ekonomi tsb meningkatkan peluang partai Demokrat untuk memenangkan pemilu presiden dan meraih mayoritas di kedua kamar di Kongres.”

 

 

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? krisis kuangan yang menimpa amerika jelas juga berdampak di Indonesia, seperti harga rupiah yang terus melemah, IHSG yang juga tidak sehat, ekspor diperkirakan juga menjadi terhambat karena perusahaan- perusahaan AS akan melakukan politik banting harga. Namun apakah krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997/98 akan terjadi lagi? Menurut Ekonom UGM Sri Adiningsih menilai sampai sejauh ini pemerintah Indonesia belum mempunyai langkah strategis untuk mengantisipasi dampak krisis financial AS, padahal jika krisis financial AS tidak segera teratasi maka dampaknya terhadap perekonomian Indonesia bisa lebih buruk dibanding krisis ekonomi tahun 1997/98.

 

Setidaknya kita berharap pasar asia masih bertahan dalam menghadapi krisis yang terjadi di AS, karena saat ini pemerintah hanya memiliki strategi untuk fokus kepada jalur distribusi ekspor, akan tetapi apabila pasar asia ikut hancur maka dipastikan Indonesia akan mengalami krisis ekonomi yang lebih parah dari tahun 1997/98

Source : http://www.pinara.net

Read Full Post »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.