Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Krisis Ekonomi Global’ Category


 

Indonesia Lambat Promosi


JAKARTA, KOMPAS – Indonesia menyerukan penghimpunan dana siaga yang berasal dari dan digunakan oleh negara-negara penganut ekonomi syariah atau Islamic World Expenditure Support Fund. Ini perlu untuk menangkal pengaruh buruk krisis perekonomian dan keuangan global.

 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan hal tersebut saat membuka Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) Kelima di Jakarta, Senin (2/3), yang dihadiri 1.557 peserta dari 36 negara.

Acara ini dihadiri juga Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Abdullah Ahmad Badawi, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Presiden Somalia Sheikh Sharief Sheikh Ahmed, Perdana Menteri Kerajaan Maroko Abbas El Fassi, dan Sekjen Organisasi Konferensi Islam Ekmeleddin Ihsanoglyu.

Menurut Presiden Yudhoyono, akibat krisis keuangan global, negara ekonomi maju dan berkembang menghadapi rintangan serius dalam mencapai tujuan pembangunannya.

Atas dasar itu, Indonesia mengusulkan pembentukan dana global (global expenditure support fund) di kelompok G-20, yang akan dimatangkan dalam pertemuan tingkat tinggi di London, April 2009.

”Dalam kaitan ini, saya percaya tidak ada ruginya jika kita mempertimbangkan Islamic Expenditure Support Fund. Dengan dana ini, negara Muslim yang tidak memiliki kemampuan maksimal untuk membangun negerinya akan mendapatkan manfaat dari cadangan dana yang kini dipegang oleh negara Muslim pengekspor minyak,” ujarnya.

Sebagai gambaran, negara-negara Teluk mencatatkan penghasilan bersih dari kenaikan harga minyak mentah sekitar 4 triliun dollar AS atau Rp 44.000 triliun. Itu setara delapan kali produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun 2009.

Menteri Negara BUMN yang juga Ketua Komite Penyelenggara WIEF Ke-5 Sofyan A Djalil mengatakan, investor Timur Tengah kini sedang mencari tempat investasi baru setelah investasi mereka di negara maju, seperti Eropa dan Amerika Serikat, rugi akibat krisis.

”Di negara maju, investor Timur Tengah umumnya berinvestasi di pasar keuangan. Di Indonesia, mereka lebih berminat berinvestasi di sektor riil,’ katanya.

Sofyan A Djalil mengakui, Indonesia terlambat mempromosikan diri sebagai tempat investasi yang berprospek. Berbeda dengan Malaysia yang telah berpromosi sejak belasan tahun silam. (OIN/FAJ)

 

Sumber, Kompas 3 Maret 2009

 

Read Full Post »


Jakarta (ANTARA News) – Pemerintah segera menyusun program aksi pengembangan ekonomi kreatif yang ditargetkan bisa memberi sumbangan sekitar 7-8 persen terhadap PDB pada 2015.

“Pada Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) yang kedua nanti kami akan fokus membahas program aksi untuk mencapai target itu,” kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, potensi industri kreatif di Indonesia sangat besar mengingat kekayaan budaya yang beragam. Selama ini, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB telah mencapai 6,4 persen.

“Kontribusi ekspor produk industri kreatif selama ini telah mencapai 10 persen. Tapi itu ditambah ekspor fesyen secara keseluruhan termasuk yang diproduksi secara massal,” jelasnya.

Mendag menjelaskan pada PPBI ke-2 yang digelar pada 4-8 Juni 2008 nanti akan diluncurkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif hingga 2025.

“Secara umum kami telah diidentifikasi lima permasalahan utama yang menjadi pokok perhatian dalam rencana pengembangan industri kreatif untuk pencapaian target tahap pertama pada 2015,” ungkap Mendag.

Lebih lanjut ia menjelaskan permasalahan dalam industri kreatif adalah kurangnya jumlah dan kualitas sumber daya manusia sehingga harus dikembangkan lembaga pendidikan dan pelatihan yang bisa melahirkan pelaku industri kreatif.

Masalah kedua adalah pengembangan iklim kondusif untuk memulai dan menjalankan usaha industri kreatif yang meliputi sistem administrasi negara, kebijakan dan peraturan serta infrastruktur yang diharapkan dapat dibuat kondusif bagi perkembangan industri kreatif.

Masalah ketiga, lanjut Mendag, mengenai penghargaan terhadap pelaku industri kreatif baik secara finansial maupun nonfinansial.

Masalah lain yang teridentifikasi adalah upaya percepatan tumbuhnya teknologi informasi dan komunikasi yang terkait erat dengan pengembangan akses pasar dan inovasi dalam industri kreatif.

Ekonomi kreatif bertumpu pada 14 subsektor industri kreatif yaitu periklanan, penerbitan dan percetakan, TV dan radio, film, video dan fotografi, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, fesyen, kerajinan, pasar barang seni, permainan interaktif, layanan komputer dan piranti lunak serta penelitian dan pengembangan.

Persentase kontribusi PDBB sub sektor industri kreatif pada 2006 didominasi oleh fesyen sebesar 43,71 persen atau senilai Rp45,8 triliun, kerajinan sebesar 25,51 persen atau senilai Rp26,7 triliun, periklanan sebesar 7,93 persen atau senilai Rp8,3 triliun.

Selama 2002-2006, industri kreatif menyerap sekitar 5,4 juta pekerja dan menyumbang Rp81,5 triliun atau 9,13 persen terhadap total ekspor nasional. Selama ini sumbangan ekonomi kreatif pada PDB sebesar 6,4 persen. (*)

Sumber:
Antara COPYRIGHT © 2008

Read Full Post »


JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, sistem keuangan negara saat ini tidak sederhana dibanding sistem keuangan negara sebelumnya. Akibatnya, banyak pejabat dan analis yang belum memahami sistem keuangan negara, termasuk sistem anggaran.

“Pelaksanaan sistem keuangan dan anggaran, tidak sesederhana yang dibayangkan. Pengelolaan keuangan negara saat ini berbeda dengan masa lalu,” kata Sri Mulyani dalam Konferensi Persoalan Kinerja Belanja Negara untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (26/5/2008).

Setidaknya, kata dia, ada tiga undang-undang (UU) bidang keuangan negara yang menjadi pedoman sistem keuangan negara, yaitu UU tentang Keungan Negara, UU Perbendaharaan Negara, serta UU yang terkait pemeriksaan dan tanggungjawab keuangan negara.

Sri Mulyani mengatakan, penganggaran dalam sistem keuangn lama didasarkan pada kebutuhan dana. Namun dalam sistem yang baru, anggaran didasarkan pada apa yang akan dihasilkan.

Reformasi anggaran yang akan dilaksanakan menyangkut tiga hal, yaitu bagaimana aplikasi penganggaran berbasis kinerja, pengelolaan anggaran secara terpadu, dan pengelolaan anggaran jangka menengah dan jangka panjang.

Di tempat yang sama, Sekjen Depkeu Mulia Nasution mengatakan, kerangka managemen dan perencanaan keuangan publik mengalami reformasi sejak 2001. “Penyusunan anggaran ini merupakan reformasi sejak 2001,” tegasnya. (hsp)

Read Full Post »


‘Ekonomi Dunia stabil mulai Mei’. Itulah salah satu judul yang dipublish oleh media cetak Bisnis Indonesia pada terbitan hari kamis 19 Pebruari 2009. Artikel yang ditulis oleh Erna R.U.Girsang ini memberi tanda kutip pada judul utama lalu dilanjutkan dengan judul kecil di bawahnya bahwa Greenspan: Stimulus AS belum mampu memulihkan sistem keuangan.

Tulisan ini berawal dari pernyataan Steve H. Hanke, dosen senior bidang ekonomi terapan Universitas John Hopkins, Amerika Serikat dalam kuliah umum Universitas Pelita Harapan (UPH) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia bertajuk The International Financial Crisis of 2008-2009, tanggal 18 February 2009, menyatakan “Setelah Mei akan dimulai stabilisasi. Kebijakan moneter dan fiskal akan kembali ke arah normal”.

Sejalan dengan Hanke, Dekan UPH Roy Sembel mengatakan ekspektasi dimulainya pemulihan ekonomi pada pertengahan tahun ini diharapkan dapat direspons oleh pelaku usaha. “Menghadapi krisis tidak hanya perlu kewaspadaan mengantisipasi semua risiko, tetapi juga siap menghadapi peluang yang muncul tiba-tiba”.

Hanke menambahkan pemulihan ekonomi, setelah Mei, sebagian besar mulai terlihat di negara maju dan kemudian meluas ke negara lain, dengan cara yang hampir sama saat krisis menyebar. Pemulihan ekonomi itu akan terlihat dari adanya beberapa indikator makro yang menunjukkan tanda-tanda kestabilan ekonomi setelah Mei 2009, seperti harga sejumlah komoditas yang menyentuh level terendah pada minggu pertama Desember 2008, kembali bergerak naik. Dengan begitu, jelasnya, nilai ekspor sejumlah negara ikut meningkat, sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Pemulihan ekonomi itu terjadi karena tiga faktor, yakni pertama adanya paket stimulus fiskal Pemerintah Amerika Serikat senilai US4787 miliar; kedua, sebelum Pemerintah mengucurkan dana stimulasi tersebut, pemerintah segera memperbaik sistem keuangan negara terlebih dahulu, seperti Jepang ketika menghadapi krisis ekonomi pada tahuan 199-an, mereka bangkit dengan cara memperbaiki sistem ekonomi dan menjalankannya; ketika, menurut Greenspan pemerintah perlu memperluas dana perbaikan sistem keuangan US$700 miliar.

Hal di atas sangat diperlukan karena “Jumlah dana yang disiapkan tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan krisis ini mengingat, Presiden AS Barack Obama sedang menghadapi resesi terdalam sepanjang sejarah, di mana ekonomi terkontraksi 3,8% pada kuartal IV/2008 atau terburuk sejak 1982, ujar mantan chairperson Federal Reserve Alan Greenspan sebelum menyampaikan pidato di Economic Club, New York, AS, tanggal 18 Februari 2009.

Kekontraksian ekonomi ini terjadi karena saham perbankan AS terpukul seiring dengan kerugian besar-besaran. Saham Citigroup Inc, bank yang memperoleh suntikan dana pemerintah US$45 miliar pada tahun lalu, turun 43% menjadi US$3,06. Adapun JPMorgan Chase & Co, bank terbesar kedua di AS berdasarkan aset, sahamnya turun US$3,04 menjadi US$21,65 dan Bank of America Corp melorot 67 sen menjadi US$4,90.

Itu berarti pemulihan ekonomi yang dinyatakan oleh Steve H. Hanke di atas itu, tergantung tindakan pemerintah AS melakukan poin kedua dan ketiga. Jika tidak, maka pemulihan ekonomi itu akan semakin jauh dari harapan. Lalu bagai mana dengan Pemerintah Indonesia dan Propinsi Papua? Apakah Pemerintah mampu menyikapi perubahan tersebut, lalu menyambutnya sebagai bola yang dipasing ke straiker dan siap menggolkan? Atau sebaliknya, pemerintah saat ini hanya sibuk dengan berkampanya sehubungan dengan Pemilu? Kita tunggu saja.antami-krisis1

Dari berbagai sumber

Read Full Post »


 

 

Ekonomi Kreatif adalah salah satu usaha ekonomi dari empat jenis usaha ekonomi di sector ril, yakni pertanian, industri, informasi. Pengembangan usaha ekonomi kreatif ini, sangat penting dalam menghadapi persaingan antar bangsa yang semakin kompetitif di era global ini dan mampu menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi global dan bahkan berjaya serta membuat Indonesia mampu bersaing dengan negara lain di dunia.

Menteri Perdagangan (Mendag), Mari Elka Pangestu, mengungkapkan, peran industri ekonomi kreatif tak bisa dianggap remeh. Se pan jang 2002-2006, industri krea tif Tanah Air menyumbang Rp 104,6 triliun atau 6,3 persen ter hadap produk domestik bruto (PDB); dan berkontribusi 10,6 persen dari total ekspor atau senilai Rp 81,4 triliun. Ini tentu capaian fantastis, mengingat Singapura saja, kontribusi industri kreatif hanya 2,8 persen terhadap PDB. Sementara Inggris mencapai 7,9 persen. ‘’Tingkat partisipasi tenaga kerja di sektor ini mencapai 5,8 persen. Pada 2001, total nilai ekonomi industri kreatif Rp 2 triliun”(21-10-2008).

Usaha ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan kurang lebih sebanyak 14 jenis, yakni: (1)musik dan alat musik, (2)periklanan, (3)arsitektur, (4)pasar seni dan barang antik, (5)kerajinan, (6)disign, (7)fashion, (8)film, (9)video dan fotografi, (10)permainan interaktif, (11)seni pertunjukan, (12)penerbitan dan percetakan,  (13)layanan komputer dan peranti lunak, (14)serta radio dan televisi.

Ekonomi kreatif bagaimana yang dapat merebut pangsa pasar di Indonesia dan dunia saat ini ? Ekonomi kreatif yang dapat merebut pangsa pasar adalah usaha atau industri ekonomi kreatif yang berbasis budaya dan ramah lingkungan.

Keberagaman budaya Indonesia yang kompleks dan amat beragam, seperti:

(a)    limpannya ribuan bahkan jutaan potensi produk kreatif yang layak dikembangkan di Tanah Air.

(b)   memiliki 17.500 pulau,

(c)    400 suku bangsa, lebih dari 740 etnis (di Papua saja 315 kelompok etnis), budaya, bahasa, agama dan kondisi sosial-ekonomi.

(d)   nilai-nilai budaya luhur (cultural heritage) yang kental terwarisi,

(e)    teknologi tinggi pembangunan Borobudur, batik, songket, wayang, pencak silat, dan seni bu daya lain, menjadi aset bangsa.

(f)     Ada tujuh lokasi di Indonesia yang dijadikan situs pusaka dunia (world heritage site),

(g)    memiliki tingkat keragaman hayati (biodiversity) yang sukar ditandingi,

(h)    banyak spesies yang khas dan tak dapat dijumpai di wilayah lain di dunia, seperti komodo, orang utan, cendrawasih,

(i)      lalu hasil budidaya rempah-rempah, seperti cengkeh, lada, pala, jahe, kayumanis, dan kunyit”().

 Dapat memberikan kontribusi yang cukup untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif sebagai upaya menyelamatkan Indonesia dari dampak krisis ekonomi global yang sedang terjadi saat ini dan barangkali krisis ekonomi yang akan datang.

 

Usaha ekonomi kreatif ini tidak dapat berkembang dengan sendirinya. Ia membutuhkan sentuhan tiga stake holder yang dikenal dengan istilah triple helix, yaitu pengusaha, kaum intelektual, dan pemerintah dalam sebuah networking yang holistik, kongkrit dan berkesinambungan.

Pengusaha dalam hal ini adalah kelompok masyarakat yang mensponsori usaha ekonomi kreatif, kaum intelektual yang menghasilkan karya-karya kreatif baik secara tradisional-budaya dan modern, serta pemerintah dalam hal ini sebagai stake holder yang memproteksi hasil kreasi masyarakat Indoanesia serta yang memberi kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan usaha pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Pemerintah Pusat telah berikhtiar untuk mengaturnya melalui kebijakan yang bertujuan mengangkat dan melindungi usaha ekonomi kreatif melalui suatu mekanisme kebijakan yang berkeadilan dan serta membangunan mekanisme operational yang sehimbang.
Lalu pertanyaannya adalah bagaimana dengan pemerintah Pronpinsi Papua dan kabupaten-kabupaten di Papua menyikapi perkembang ini? Apakah Pemda propinsi dan kabupaten di seluruh tanah Papua mampu menyikapi hal ini dengan membuat suatu strategi dalam menolong tumbuh-kembang ekonomi kreatif masyarakat pribumi tanah Papua atau diam seribu bahasa, lalu nongol hanya di media masa lalu hilang dan tertidur pulas di kursi empuk? Kita tunggu saja.

 

Read Full Post »


 

JAKARTA: Pemerintah mengaku sulit menjaga ekonomi Tanah Air 2009 untuk bisa tumbuh sebesar 5% di tengah krisis, sejalan dengan koreksi negatif pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 0,5% oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

“Target pertumbuhan ekonomi Indonesia yakni 5% pada 2009, luar biasa sulit,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menyampaikan sambutan dalam peluncuruan sukuk ritel, kemarin.

Sebelumnya, IMF memprediksi ekonomi dunia hanya akan tumbuh skeitar 0,5% yang menggambarkan laju perdagangan global yang negatif.

Untuk itu, katanya, pemerintah akan menyikapi dinamika ekonomi dunia yang cepat berubah dengan mengupayakan sejumlah cara agar krisis ekonomi dunia tidak berimbas ke Tanah Air.

Salah satunya dengan memastikan arus modal di dalam negeri tetap bergerak maksimal dengan mendorong investasi dan menjaga tingkat konsumsi masyarakat.

Sri Mulyani berharap sektor perbankan ikut membantu menciptakan iklim usaha yang lebih sehat dengan memberikan kredit kepada masyrakat dan dunia usaha. Hal ini erat kaintannya denga upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat meningkat guna menopang pertumbuhan ekonomi.

“Lembaga keuangan sebagai motor ekonomi saat ini memang menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, kegiatan pinjam meminjam menjadi sesuatu yang extraordinary,” ungkapnya.

Terkait dengan pembiayaan defisit, tambah Sri Mulyani, pemerintah akan menggerakkan sumber-sumber yang ada untuk menutupi defisit yang saat ini menjadi 2,5%, salah satunya dengan menerbitkan sukuk ritel bagi warga negara Indonesia.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Perindustrian Eddy Putra Irawady mengungkapkan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengurangi beban dunia usaha, pemerintah telah memberikan stimulus ekonomi yang merata di berbagai sektor.

 

Stimulus alternatif   

Dia mengakui banyak industri padat karya yang gaji pekerjanya di bawah PTKP. Untuk mereka, pemerintah sudah memikirkan secara masak untuk memberikan jenis stimulus alternatif yang bisa dirasakan.

Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Bidang Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah Sandiago Uno sepakat dengan pernyataan Eddy Putra.

Pasalnya, perusahaan yang selama ini menanggung PPh pasal 21 akan lebih longgar likuiditasnya dengan adanya insentif itu.

“Mudah-mudahan perusahaam memiliki opsi untuk tidak PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Perusahaan bisa lebih mengefisiensikan dana untuk penguatan kondisi perusahaan selama 2009,” tuturnya.

Sementara, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa menilai stimulus yang paling mendasar atau dibutuhkan dunia usaha saat ini adalah penguatan pasar domestic,” seperti memperbaiki jalur distribusi barang.

Read Full Post »


Kita semua tentu sudah tahu bahwa saat ini negara super power amerika sedang dalam masalah / krisis keuangan. Menurut kompas penyebab dari krisis ekonomi AS adalah penumpukan hutang nasional yang mencapai 8.98 triliun USD, pengurangan pajak korporasi, pembengkakan biaya perang irak dan afghanistan, dan yang paling krusial adalah Subprime Mortgage: Kerugian surat berharga property sehingga membangkrutkan Lehman Brothers, Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UF.

 

Surat kabar di Eropa menyoroti krisis ekonomi di Amerika Serikat yang dampaknya juga mulai terasa di Eropa.

 

 

 

Mengenai krisis konjunktur di Amerika Serikat dan akibatnya bagi pertumbuhan ekonomi global,

Harian dari Italia La Republica yang terbit di Roma dalam tajuknya berkomentar :

 

“Saat ini Amerika Serikat dilanda resesi yang sangat serius dan menyakitkan. Kini pertanyaanya adalah: Seburuk apa fase konjunktur ini, dan apakah akan dapat meruntuhkan ekonomi Amerika Serikat secara mendadak? Di Eropa, terutama  Bank Sentral Eropa walaupun menyadari hal itu merupakan ilusi, masih tetap mengharapkan bahwa mereka masih dapat melindung kawasannya atau menepis dampak dari krisis berat ekonomi di Amerika Serikat. Namun, di tahun 2008 ini Eropa tidak akan lagi mampu menahan dampak krisis ekonomi dari Amerika Serikat dan akan ikut tergilas.”

 

 

Dari Perancis Harian Dernieres Nouvelles d`Alsace yang terbit di Strassburg juga mengomentari dengan tajam krisis ekonomi dunia tsb:

 

“Di Jerman serikat buruh menuntut kenaikan gaji sampai 8 persen untuk mengimbangi daya beli yang terus menurun. Juga di Perancis menurunnya daya beli menjadi topik bahasan. Namun dalam kenyataannya penurunan daya beli ini adalah masalah seluruh Eropa. Di mana-mana pertumbuhan ekonomi harus dikoreksi ke bawah. Bank Sentral Eropa mengecam tuntutan serikat buruh- khususnya dengan menyoroti Jerman sebagai penggerak ekonomi Eropa. Ekonomi global mengalami perubahan drastis. Krisis kredit di Amerika Serikat menunjukkan betapa rentannya globalisasi moneter. Para aktor baru ekonomi juga muncul di luar rencana. Seperti halnya dana simpanan jangka panjang dari negara-negara penghasil minyak bumi, yang merupakan investasi jangka panjang. Yang berbeda dari dana pensiun, yang hanya tertarik pada keuntungan jangka pendek. Perubahan drastis dalam sirkulasi keuangan tidak dapat diabaikan lagi.”

 

 

Sedangkan Harian yang beredar di Jerman Der Tagesspiegel yang terbit di Berlin berkomentar :

 

“Juga jika tidak seluruh ketakutan menjadi kenyataan, sekarang terlihat betapa buruknya persiapan Jerman menghadapi penurunan konjunktur. Tahun lalu kas negara hanya mendapat pemasukan 70 juta Euro, walaupun pendapatan dari sektor pajak meningkat milyaran Euro. Negara tidak mampu lagi mengembalikan kemampuannya untuk bertindak. Politik secara keseluruhan, gagal mengambil manfaat dari laju konjunktur. Asuransi kesehatan, yayasan dana pensiunan dan pasaran kerja tidak lagi kebal dari krisis. Tema ini harus dibicarakan dalam kampanye.”

 

 

Dan yang terakhir harian liberal Denmark Information yang terbit di Kopenhagen mengomentari dampak resesi pada kampanye pemilu presiden di AS :

 

“Ancaman resesi ekonomi di tahun pemilihan presiden, secara ajaib kelihatannya mempersatukan partai Republik dan partai Demokrat di Kongres serta presiden saat ini. Sakarang ini juga harus disuntikkan dana segar bagi sirkulasi ekonomi, dan lebih baik tentu saja jika langsung disalurkan kepada konsumen AS. Seandainya presiden AS merintangi proyek ini, peluang partai Republik untuk mempertahankan kekuasaannya di Gedung Putih akan semakin buruk. Sebab kandidat partai demokrat dapat melemparkan tanggungjawab bagi resesi serius tahun 2008 ini, kepada Bush dan partai Republiknya. Untuk sementara, kelihatannya krisis ekonomi tsb meningkatkan peluang partai Demokrat untuk memenangkan pemilu presiden dan meraih mayoritas di kedua kamar di Kongres.”

 

 

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? krisis kuangan yang menimpa amerika jelas juga berdampak di Indonesia, seperti harga rupiah yang terus melemah, IHSG yang juga tidak sehat, ekspor diperkirakan juga menjadi terhambat karena perusahaan- perusahaan AS akan melakukan politik banting harga. Namun apakah krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997/98 akan terjadi lagi? Menurut Ekonom UGM Sri Adiningsih menilai sampai sejauh ini pemerintah Indonesia belum mempunyai langkah strategis untuk mengantisipasi dampak krisis financial AS, padahal jika krisis financial AS tidak segera teratasi maka dampaknya terhadap perekonomian Indonesia bisa lebih buruk dibanding krisis ekonomi tahun 1997/98.

 

Setidaknya kita berharap pasar asia masih bertahan dalam menghadapi krisis yang terjadi di AS, karena saat ini pemerintah hanya memiliki strategi untuk fokus kepada jalur distribusi ekspor, akan tetapi apabila pasar asia ikut hancur maka dipastikan Indonesia akan mengalami krisis ekonomi yang lebih parah dari tahun 1997/98

Source : http://www.pinara.net

Read Full Post »


Apa Kata Paul Krugman dan Bagaimana Perkembangan Selanjutnya?

Dalam artikel tentang Kondisi Ekonomi kita(Indonesia) dan Gelombang Pasang Surutnya, kami telah mencoba menguraikan tentang struktur ekonomi Indonesia dalam arti apakah relatif kelebiham modal dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja, ataukah relatif kelebihan tenaga kerja dibandingkan dengan modal yang dimilikinya? Tulisan tersebut mendasarkan diri pada teori-teori yang dapat dikelompokkan ke dalam pengenalan terhadap penyebab krisis ekonomi yang dikaitkan dengan struktur perekonomian dalam arti relatif kekurangan modal atau relatif kekurangan tenaga kerja.

Seperti dapat dibaca kembali, dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa dalam ekonomi suatu bangsa yang strukturnya relatif kelebihan tenaga kerja, pada umumnya krisis disebabkan oleh overinvestment, sehingga penanggulangannya hanya bisa dilakukan selama hausse atau boom sedang berlangsung. Harus ada pengenalan bahwa ekonomi memanas dan terjadi ketegangan dalam wujud investasi yang jauh lebih besar daripada tabungannya. Kalau krisis sudah terjadi sudah terlambat. Mereka hanya dapat menyaksikannya dengan penuh penderitaan. Paling-paling dapat menggunakan kesempatan selama resesi berlangsung untuk lebih memantapkan diri dalam organisasi ekonominya.

Sebaliknya, negara bangsa yang struktur ekonominya bercirikan relatif kelebihan modal, krisis disebabkan oleh underconsumption. Maka kalau krisis terjadi yang diikuti dengan resesi atau bahkan depresi, konsumsi dan investasi digenjot, yang dinamakan prime pumping. Pendeknya resepnya John Maynard Keynes yang paling tepat.

Saya pernah sangat heran mengapa tidak ada ekonom, terutama di Indonesia yang berbicara tentang teori business cycle dalam menjelaskan resesi ekonomi, dan dari pikiran itu menemukan terapinya yang tepat. Apakah teori-teori business cycle atau conjunctuur sudah mati, sudah kuno, sudah ketinggalan zaman? Dalam bukunya Paul Krugman terakhir yang berjudul “The Return of Depression Economics and The Crisis of 2008”, dia mengatakan memang banyak sekali ekonom terkemuka yang mempunyai anggapan bahwa teori-teori tentang business cycle sudah tidak terlampau relevan lagi, karena mereka merasa bahwa pengetahuan ilmu ekonomi sudah maju, sehingga kita tidak perlu risau terhadap gejolak business cycle.

Krugman sendiri tidak berpendapat demikian. Dia masih percaya bahwa gelombang pasang surutnya ekonomi masih berlaku sepenuhnya. Dia mengemukakan contoh-contohnya, yaitu Amerika Latin di tahun 1980-an, Jepang di tahun 1990, krisis di Asia, termasuk Indonesia yang dimulai di tahun 1997. Namun dia beranggapan bahwa resesi dan depresi selalu bisa ditanggulangi atau diperlunak.

Mari kita kutip pendapatnya tentang business cycle di halaman 9 dari bukunya tersebut sebagai berikut:

“Di tahun 2003, pemenang hadiah Nobel Robert Lucas mengatakan kepada rapat tahunan dari American Economic Association. Lucas tidak mengatakan bahwa business cycle sudah tidak ada. Dia mengatakan bahwa business cycle sudah bisa dijinakkan, sehingga kita tidak perlu khawatir lagi. Maka fokus kita lebih baik diarahkan pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ben Bernanke (yang sekarang Gubernur Bank Sentral AS) di tahun 2004 mengatakan bahwa kebijakan ekonomi makro telah berhasil mengendalikan business cycle, sehingga pencuatannya hanya merupakan gangguan kecil saja, bukan isu utama.

Krugman berkomentar bahwa krisis-krisis belakangan ini sangat mirip dengan depresi tahun 1930, sehingga pernyataan-pernyataan yang optimistik seperi yang dikemukakan oleh Robert Lucas dan Ben Bernanke terasa sangat picik.

Toh Krugamn tidak terlampau pesimistik tentang prospek akan dapat ditanggulanginya krisis dan resesi yang sedang berlangsung. Dia tidak menjelaskan mengapa. Saya sendiri menduga keras bahwa dalam zaman globalisasi ini faktor produksi yang paling mobile adalah uang atau modal. Maka tidak ada kekurangan modal relatif dibandingkan dengan tenaga kerja atau kekurangan tenaga kerja relatif dibandingkan dengan modal yang sifatnya struktural.

Yang ada ialah dalam satu negara dan dalam kurun waktu tertentu investasi lebih besar dibandingkan modal yang tersedia untuk kredit investasi, baik yang domestik maupun asing, bukan tabungan nasional oleh rakyatnya sendiri. Perbandingan inilah yang menandai ekonomi dalam kondisi hausse atau baisse.

Maka kalau semua negara mengalami kelangkaan modal seperti sekarang ini, kita saksikan terjadinya resesi di mana-mana. Sebabnya bukan terbatasnya modal, tetapi karena modal yang ada disimpan atau terjadi hoarding besar-besaran. Seperti kita ketahui, bank yang memberi kredit berarti menciptakan uang giral dan ketika kredit dikembalikan terjadi pemusnahan uang. Maka kita membaca bahwa di mana-mana sedang terjadi pengetatan likuiditas atau liquidity squeeze atau credit squeeze.

Bagaimana prospeknya? Buat kami sangat sulit ditebak. Bahwa resesi atau bahkan depresi seperti apapun hebatnya akan teratasi adalah soal waktu. Bukan hanya kali ini saja dunia mengalami resesi yang diperkirakan akan menjurus pada depresi.

Yang menjadi tantangan buat para pemimpin dunia bukannya itu, tetapi apakah depresi hebat dapat dihindarkan. Para pemimpin negara-negara maju dan kaya nampaknya sudah sepakat akan memompakan uang seperlunya untuk tujuan itu, berapapun jumlahnya. Mereka tidak lagi berbicara dalam hitungan ratusan milyar dollar AS, tetapi trilyunan. Proses menuju pada kesepakatan secara all out menghindarkan diri dari depresi hebat sudah tampak yang akan melibatkan jumlah pemompaan daya beli senilai 4 sampai 5 trilyun dollar AS, yang terutama akan dipompakan oleh pemerintah-pemerintah Amerika Serikat, Eropa dan China.

Bahwa gelombang pasang surutnya ekonomi atau business cycle atau conjunctuur melekat pada sistem mekanisme pasar rasanya tidak terbantahkan. Tetapi hal baru yang sangat menarik adalah keterkaitan antara satu negara dengan negara lainnya, serta sudah sangat banyaknya uang yang terakumulasi dari kemajuan teknologi dan ekonomi yang menciptakan nilai tambah dalam jumlah yang sangat besar.

Tidak terbayangkan bahwa China mempunyai uang dalam bentuk valuta asing sekitar 2 trilyun dollar AS tanpa Taiwan dan Macau, dan mungkin juga tanpa Hong Kong. Sekitar 1 trilyun dollar sudah tertanam dalam US treasury bonds. Seperti yang diberitakan oleh media massa, pemerintah China sedang memikirkan strategi apa yang akan mereka tempuh. Membantu AS atau mengembangkan ekonominya dengan cara memompakan daya beli kepada rakyatnya. Mereka mempertimbangkan memompakan daya beli kepada AS bukan karena cinta, tetapi karena kemakmuran China bagian terbesarnya karena ekspor ke AS dan UE yang sekarang drastis berkurang dan entah sampai kapan akan menyusut terus.

Memompakan daya beli kepada rakyatnya yang berjumlah 1,3 milyar manusia dengan maksud memberantas kemiskinan mempunyai dampak sampingan yang luar biasa besarnya dalam bidang mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Rakyat miskin yang dinaikkan pendapatannya dengan sendirinya akan membelanjakan pendapatan yang diperolehnya. Ini mendongkrak permintaan akan barang dan jasa, yang pada gilirannya akan mendongkrak produksi dan menggairahkan industri, perusahaan dagang dan jasa. Kecuali bahwa Investasi mempunyai dampak ganda yang bernama multiplier dan konsumsi mempunyai daya dongkrak yang bernama akselerasi, semua komponen yang mempunyai daya untuk menggerakkan ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi bekerja sepenuhnya, terutama China yang telah membuktikan mempunyai kemampuan besar dalam ekspor neto. Maka dalam persamaan Y = C + I + G + (X – M), semuanya bekerja. C atau Konsumsi digerakkan melalui pemompaan daya beli kepada bagian terbesar dari rakyatnya yang miskin tetapi sangat besar jumlahnya. Untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya yang meningkat disamping memenuhi kebutuhan dunia, perusahaan-perusahaan baru harus didirikan dan perusahaan-perusahaan lama diperluas, yang berarti bahwa I atau Investasi akan meningkat yang melipat gandakan pertumbuhan melalui apa yang dinamakan multiplier effect. Pemerintahnya yang masih menguasai bagian terbesar dari perusahaan-perusahaan akan lebih-lebih lagi mempunyai kemampuan untuk membangun infrastruktur. Ini berarti G atau Government Spending meningkat. Tentang ekspor neto kita tidak perlu berbicara, karena kemampuannya sudah dibuktikan yang membuat China mempunyai cadangan devisa sekitar 2 trilyun dollar AS.

Melihat ini semua kita tidak perlu terlampau pesimistik menghadapi resesi ekonomi dunia. Dalam angka-angka memang lebih dahsyat dibandingkan dengan the great depression tahun 1930, tetapi kemampuan negara-negara dan bangsa-bangsa maju juga sudah luar biasa. Mereka juga sudah mengakumulasi daya beli yang luar biasa besarnya untuk melakukan yang dinamakan prime pumping guna mewujudkan jump start perekonomian negara-negara maju, betapapun hebatnya depresi moral dan psikologi yang menurut keyakinan saya memegang peran demikian besarnya dalam resesi yang sedang kita alami.

Itulah sebabnya dalam waktu yang begitu singkat orang sudah tidak terkejut lagi dan sudah terbiasa berbicara tentang trilyunan dollar AS yang dibutuhkan, sedangkan baru sekitar dua bulan yang lalu semua orang dikejutkan oleh permintaan dana sebesar 700 milyar dollar AS oleh Menteri Keuangan Henry Paulson.

Maka rasanya sudah terlihat a light at the end of the tunnel, karena negara-negara paling kaya sudah sepakat bertindak bersama-sama dengan kekuatan keuangannya yang luar biasa. Kecuali itu, pemerintah AS masih mempunyai kekuatan mencetak uang dollar AS yang akan diserap oleh seluruh dunia, karena kurang lebihnya sudah mentradisi menjadi standard dari mata uang seluruh dunia.

Bagaimana Indonesia?

Dengan sejujurnya saya tidak tahu dan tidak mempunyai gambaran sedikitpun tentang apa yang akan terjadi. Sebabnya karena pemerintah praktis tidak memberikan signal, apalagi gagasan dan rencana kerja yang jelas dan konkret.

Tadi telah dikatakan bahwa Indonesia yang strukturnya relatif kelebihan tenaga kerja, tetapi karena pengaruh globalisasi bisa saja mendapat dana dari luar negeri, yang membuat ketimpangan ini mengecil sedikit.

Tetapi modal asing yang masuk dan berupa investasi riil atau FDI sedikit. Bagian terbesarnya ditanam dalam saham-saham atau deposito yang cepat lari kembali, dan itu sudah terjadi. Maka IHSG kita menurun terus sebelum krisis keuangan di AS meledak, dan nilai rupiah juga merosot dengan 20% dalam waktu sangat singkat.

Maka untuk Indonesia yang berlaku tetap saja sebuah struktur yang relatif kekurangan modal dibandingkan tenaga kerjanya, walaupun Indonesia sangat terbuka dalam lalu lintas modal global. Tidak ada negara lain yang berkepentingan ekonomi Indonesia maju atau tidak. Maka tidak ada yang peduli terhadap Indonesia. Para pemimpin kita telah membuat bangsanya sendiri tidak relevan dalam globalisasi.

Sekarang sudah sangat jelas gambarannya bahwa perekonomian Indonesia kembali pada zaman kolonial, yaitu tempat untuk mengeduk kekayaan mineral dan kekayaan laut serta tempat untuk menanam komoditi perkebunan besar dengan nilai tambah untuk bangsa Indonesia yang sangat kecil. Indonesia juga sudah lama menjadi pasar barang-barang industri dari mancanegara dengan nilai tambah yang tinggi buat mereka yang diraih dari konsumen Indonesia.

Terjadilah hal yang sangat konyol. Tim Ekonomi menggebu-gebu mempropagandakan diri sangat terbuka terhadap modal asing, sangat liberal, tidak mau regulasi terlalu banyak, karena penganut Washington Consensus, merugikan negaranya sendiri sampai ratusan trilyun rupiah karena mengikuti secara membabi-buta dan nurut apa saja yang diperintahkan oleh IMF. Tetapi ketika ikut terkena dampak negatif dari globalisasi, liberalisasi, mekanisme pasar dengan pengaturan paling minimal dan sebagainya itu, tidak dianggap sama sekali oleh tuan-tuan yang memerintahnya.

Jadi apa yang harus dilakukan? Berpikir dan bersikaplah mandiri dan kreatif, berpikirlah secara lateral tanpa berdogma dan berdoktrin. Sudah terbukti bahwa para majikan dan ndoro-ndoro asingnya Tim Ekonomi seperti IMF dan Bank Dunia tidak berdaya dan juga tidak relevan lagi untuk mengatasi masalah-masalah keuangan dunia. Kekuatan modal mereka dibandingkan dengan yang ditipu oleh Bernard Madoff saja tidak ada artinya, apalagi dibandingkan dengan sekitar US$ 4 trilyun yang sedang disiapkan oleh AS, EU, China dan mungkin negara-negara Arab?

Karena tidak pernah terlatih secara mandiri, pikirannya tentang bagaimana menghadapi krisis ini ya sangat lucu. Mari kita telaah.

Tim Ekonomi akan memompa daya beli dengan cara mempercepat penggunaan APBN yang tidak mampu diserap oleh aparat birokrasi, sehingga tersisa sekitar Rp 60 trilyun. Ini kan bukan prime pumping? Ketika tidak mampu membelanjakan, sifatnya sudah kontraktif, sehingga ketika digenjot hanya mengkoreksi kesalahan, bukan prime pumping yang bisa membuat jump start.

Terus ingin memberi insentif pajak buat pengusaha. Pengusaha sedang menghadapi kemerosotan permintaan. Omsetnya turun, bukan beban pajaknya yang tinggi.

Yang ada pengaruhnya harga BBM yang justru tidak diturunkan secara signifikan, walaupun harga minyak mentah internasional sudah turun menjadi sangat rendah. Masih dalam bidang harga BBM, kebijakannya didasarkan atas persepsi yang salah sama sekali, mengandung penyesatan kepada rakyat seperti yang telah berkali-kali saya jelaskan sampai bosan. Sekarang lebih aneh lagi. Harga minyak mentah internasional yang diacu bagaikan agama turun drastis, harga BBM tidak diturunkan secara proporsional. Dalam kondisi sulit masih saja berbohong, mencla-mencle dengan perbuatan yang tidak konsisten dengan jalan pikirannya sendiri.

Lantas apa yang bisa dilakukan? Tidak banyak karena memang tidak ada kemampuan dana besar dan juga tidak ada kemampuan berpikir inovatif, kreatif dan mandiri. Rakyat tidak merasakan ada pemerintah atau tidak ada, karena pemerintahnya sendiri yang membuat dirinya tidak relevan dalam bidang ekonomi dengan dalih the best government is the least government. Bank Dunia dan IMF yang selalu menjadi acuan hanya bisa memberikan utangan lagi sekedarnya. Mereka sendiri sama sekali sudah tidak dianggap oleh negara-negara yang menentukan jalannya roda ekonomi dunia.

Paul Krugman tentang peran IMF di Indonesia

Apa kata Krugman tentang peran IMF di Indonesia dalam krisis tahun 1997? Dalam bukunya yang terbaru tersebut, di halaman 115 dan 116 Krugman berkomentar tentang kebijakan IMF di Indonesia sebagai berikut:

“Banyak orang mengatakan bahwa IMF dan Departemen Keuangan AS yang de facto mendikte IMF yang menyebabkan terjadinya krisis di Indonesia, atau mereka sangat salah (mishandled) menanganinya, sehingga krisisnya menjadi semakin parah.

Marilah kita mulai dengan yang paling mudah. Dalam dua hal IMF jelas melakukan blunder.

Pertama, ketika IMF diundang membantu Thailand, Indonesia dan Korea, mereka segera saja menuntut pengencangan ikat pinggang, bahwa negara-negara ini harus menaikkan pajak, mengurangi pengeluaran untuk menghindarkan diri dari defisit anggaran yang besar. Sangat sulit dimengerti mengapa kebijakan seperti ini yang menjadi programnya IMF di tiga negara tersebut, karena tidak ada seorangpun kecuali IMF (KKG : dan para kroninya di Indonesia) yang menganggap defisit anggaran sebagai masalah. Dan ternyata kebijakan IMF itu mempunyai dua dampak negatif. Yang pertama, resesi diperparah karena permintaan merosot. Kedua, segala sesuatunya menjadi lepas kendali sehingga terjadi kepanikan.

Kedua, IMF menuntut reformasi struktural (structural reform) yang melampaui batas-batas bidang moneter dan fiskal sebagai persyaratan memperoleh pinjaman dari IMF. Penutupan bank-bank tidak relevan untuk menanggulangi krisis. Yang lainnya, seperti menuntut pemerintah Indonesia menghapus pemberian monopoli oleh Presiden Soeharto kepada para kroninya tidak ada hubungannya dengan mandat dan wewenang IMF. Memberikan monopoli cengkeh kepada dua pengusaha saja memang hal yang buruk. Tetapi apa hubungannya dengan ketidak percayaan terhadap rupiah yang membuat nilai tukarnya anjlok?”

Para pembaca, ini kata-katanya Paul Krugman, bukan kata-kata saya. Banyak ekonom mengatakan hal yang sama di tahun 1997 sampai tahun 2000, tetapi mereka dianggap dungu dan goblok oleh para ekonom yang memegang kendali kebijakan ekonomi sampai hari ini. Bagaimana pendapat mereka sekarang terhadap Paul Krugman yang baru saja memenangkan hadiah Nobel?

Tim Ekonomi Tidak Perlu Cemas

Kembali tentang resesi yang sedang berlangsung, Tim Ekonomi tidak perlu terlampau cemas, karena nampaknya, dampak krisis dan resesi dunia tidak terlampau besar buat bagian terbesar rakyat Indonesia yang miskin. Mereka selalu hidup tanpa adanya keterkaitan dengan sektor modern di dalam negerinya sendiri (ekonomi dualistik), apalagi dengan dunia. Dunia mau hausse dan boom hebat-hebatan, mereka tetap miskin, dunia mau depresi hebat mereka juga tetap miskin. Mereka tidak lagi dijajah dan dihisap oleh kekuatan asing, tetapi oleh kekuatan elit bangsanya sendiri. Mereka sudah kekurangan gizi, tidak berpendidikan dan tidak sehat, sehingga menerima kemiskinan, kelaparan dan kematian dengan tenang tanpa protes.

Itulah sebabnya elit kita, termasuk pemerintahnya cukup tenang dan terkesan tidak peduli pada nasib dari bagian terbesar rakyatnya yang sangat miskin. Banyak yang mengatakan kepada yang prihatin: bukankah jalanan macet dengan kendaraan mewah? Bukankah ada Grand Indonesia yang bisa dipasangi gambar besar dengan Presiden dan para menteri yang sedang memakmurkan rakyatnya (walaupun hanya dalam gambar saja)? Bukankah ada berbagai city ini dan city itu yang merupakan kota-kota kecil mandiri super baru dan super mewah di Jakarta? Bukankah di setiap sudut kota ada mall dengan barang-barang bermerk yang sangat mahal? Masa bodoh siapa yang membiayai. Masa bodoh laku dijual atau tidak, masa bodoh bank-bank BUMN yang membiayainya menyembunyikan kesulitannya memperoleh pembayaran kembali cicilan utang pokok dan bunganya, sampai nanti bank-bank ini meledak lagi. Kalau itu terjadi, Uncle Sam dan IMF toh akan datang melindunginya lagi, selama kebijakan ekonomi berada di tangan para kroninya. Kalau ini yang ada dalam benak pemerintah, terutama Tim Ekonominya, kami hanya mohon satu hal: be realistic.

Oleh Kwik Kian Gie

Read Full Post »


Kondisi Ekonomi kita dan Gelombang Pasang Surutnya

Dalam sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia, kita selalu mengalami gelombang pasang surutnya pertumbuhan ekonomi beserta indikator-indikatornya seperti kesempatan kerja, investasi, tabungan, tingkat suku bunga, besarnya anggaran negara.

Ekonomi tidak bisa tumbuh terus tanpa batas. Kehidupannya selalu ditandai oleh fluktuasi dengan periode meningkatnya kegiatan ekonomi, disusul dengan titik puncak yang sekaligus merupakan titik balik (the upper turning point). Terjadi krisis, yang disusul dengan periode menurunnya kegiatan ekonomi, atau baisse, sampai tingkat pertumbuhan dan besaran-besaran makro ekonomi lainnya mencapai titik paling rendah. Terjadilah titik balik terendah (the lower turning point), disusul dengan periode kenaikan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, atau economic boom, atau hausse lagi. Gejala pasang surutnya kegiatan ekonomi secara periodik di dalam teori ekonomi disebut business cycle atau conjunctuur.

Jadi kalau ekonomi suatu negara pada saat tertentu tiba pada titik tertinggi, yang lalu mentok dan terjadi krisis, yang disusul dengan memasuki resesi, hal itu sangat wajar. Ekonomi akan merosot terus, dan pada waktunya nanti akan dicapai titik terrendah. Bertolak dari sini, gelombangnya meningkat lagi.

Sangat jelas bahwa ekonomi kita memasuki resesi. Titik baliknya berupa krisis keuangan di Amerika Serikat dengan dampak yang telah saya kemukakan dalam artikel pertama, yaitu ekspor ke AS, Eropa dan Jepang tersendat. Modal yang tertanam dalam saham-saham di Indonesia dijual karena sedang sangat diperlukan untuk negerinya sendiri. Dampaknya IHSG anjlok. Hasil rupiahnya dibelikan dollar, nilai tukar rupiah anjlok. Dampak psikologisnya semuanya mengerem pembelian, permintaan menurun, produksi dikurangi, PHK meningkat, daya beli menurun, permintaan menurun, omset menurun, investasi dikurangi lagi dan seterusnya terjadi spiral ke bawah atau downward spiraling yang sangat kita kenali dalam resesi-resesi, apalagi depresi yang lalu.

Apakah pemerintah sebagai pengelola ekonomi negara tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan ekonomi bergelombang naik turun atas dasar mekanisme pasar? Jawabnya jelas bisa, dan bahkan harus. Kita mengenalnya dengan sebutan kebijaksanaan yang “antisiklis”. Tetapi tipologi dari krisisnya itu sendiri yang merupakan the upper turning point sangat bervariasi. Tipe titik balik tertinggi atau krisis mewarnai resesi yang dimasukinya. Pengenalannya sangat penting untuk mengetahui, apakah kita memang mempunyai instrumen-instrumennya untuk membendung arus yang tidak kita kehendaki, ataukah kita dihadapkan pada keterbatasan yang membuat semua upaya dan usaha sia-sia?

Mari kita telusuri permasalahannya.

ANALISA TIPE KRISIS DAN RESESI

Dalam tulisan ini saya mencoba mendekati resesi yang kita masuki dari segi teori dan pola business cycle. Pertama-tama ingin saya kemukakan berbagai macam teori dan pola yang ada. Lalu kita coba menempatkan tipe resesi ekonomi yang kita alami dewasa ini termasuk kedalam teori atau pola yang mana. Berdasarkan pengenalan dan analisa mengenai teori dan pola yang kira-kira berlaku untuk Indonesia, kita bisa mencoba mendeteksi, terapi apa yang sebaiknya kita terapkan.

Semua teori sepakat mengenai gambaran dari periode meningkatnya kegiatan ekonomi, hausse, atau gelombang pasang, dan menurunnya kegiatan ekonomi, baisse atau gelombang surut. Dalam periode gelombang pasang, investasi selalu lebih besar daripada tabungan yang dapat dibentuk oleh pendapatan nasional. Kekurangannya selalu dibiayai oleh penciptaan uang, antara lain melalui kredit bank. Dalam periode gelombang surut, tabungan yang terbentuk dari pendapatan nasional selalu lebih besar daripada investasi. Dalam periode ini terjadi pemusnahan uang, antara lain dengan membayar kembali kredit bank. Selisih antara investasi dan tabungan justru merupakan saluran bagi mengembang dan menciutnya arus uang, yang dalam hal ini sama dengan mengembang dan menciutnya permintaan akan barang dan jasa.

Dalam menjelaskan mengenai mengapa krisis terjadi yang merupakan titik balik dari gelombang pasang menjadi gelombang surut, teori-teori business cycle dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yang masing-masing dapat disebut sebagai kelompok dari teori-teori overinvestment dan kelompok dari teori-teori underconsumption.

KELOMPOK TEORI UNDERCONSUMPTION

Menurut kelompok teori-teori ini, cikal bakal dari krisis adalah kenaikan dari permintaan untuk barang-barang konsumsi yang tidak setimpal dengan kenaikan kapasitas produksi dari barang-barang konsumsi tersebut. Permintaan masih meningkat, tetapi naiknya tidak setimpal dengan membesarnya kapasitas produksinya. Karena permintaan tidak dapat menyerap volume produksi, tidak ada gunanya memperluas kapasitas lebih lanjut. Gairah untuk investasi berkurang. Di sini awal kirsis, karena dengan berkurangnya gairah investasi, investasi menurun, yang mengakibatkan pendapatan menurun, dengan akibat konsumsi menurun. Konsumsi menurun berarti permintaan terhadap barang-barang konsumsi menurun, sehingga gairah terhadap investasi tambah menurun lagi dan seterusnya. Terjadilah spiral ke arah menurunnya seluruh kegiatan ekonomi dan menurunnya indikator-indikator makro ekonomi. Menurut teori ini, sebab utama adalah konsumsi yang tidak bisa membengkak terus sesuai dengan pembengkakan kapasitas produksinya. Maka menurut kelompok teori ini, obatnya adalah bahwa pada waktu krisis terjadi, kita harus meningkatkan konsumsi dengan cara memompa atau menambah daya beli kepada masyarakat, kalau perlu dengan deficit spending. Sasarannya biasanya adalah pembangunan proyek-proyek prasarana oleh pemerintah. Kalau pola krisis dan resesi seperti ini, investasi proyek-proyek besar disyukuri.

Para pencetus atau penganut teori ini dengan nuansa dan variasinya masing-masing adalah Samuelson melalui teori akselerasi dan multiplier. Aftalion dengan memasukkan unsur gestation period. Hicks, Harrod dan Haberler yang melihat mentoknya unsur manusia sebagai faktor produksi, Kaldor dan Kalecki yang melihatnya dari segi psikologis, yaitu faktor kejenuhan manusia, dan Schumpeter yang menjelaskannya dari segi kurangnya inovasi untuk berinvestasi.

KELOMPOK TEORI OVERINVESTMENT

Inti dari teori-teori overinvestment adalah bahwa investasi yang selama gelombang pasang selalu memang lebih besar daripada tabungan, dilakukan dengan menggunakan kredit dari bank yang semakin lama semakin besar. Artinya, selama gelombang pasang, pembentukan modal sendiri atau equity capital tertinggal dibandingkan dengan kesempatan dan gairah investasi. Maka investasi dilakukan dengan kadar kredit dari bank yang semakin lama semakin membengkak. Kesediaan dan kemampuan bank tidak akan berkelanjutan tanpa batas. Pada suatu saat, kredit bank akan berkurang. Dengan demikian investasi akan berkurang, dan krisis dimulai. Pemikiran ini tampak jelas pada Machlup.

Antara lain Witteveen mengatakan bahwa selama kesempatan bisnis atau kesempatan untuk investasi masih ada, walaupun investasi dibiayai oleh kredit bank pada mulanya, peningkatan investasinya sendiri akan mengakibatkan kenaikan pendapatan yang berganda lewat multiplier. Pendapatan yang meningkat akan membentuk pula tabungan yang meningkat, dan tabungan ini akan cukup untuk menutup investasi yang pada mulanya dibiayai dengan kredit bank. Maka selama kita masih belum mentok pada salah satu faktor produksi, investasi bisa dilakukan terus.

Namun kelompok teori overinvestment menekankan bahwa walaupun kredit bank bisa dipakai sebagai pembiayaan investasi, yang nantinya akan ditutup dengan tabungan yang akan dibentuk, pasti akan ada faktor produksi yang menjadi kendala di dalam gelombang pasang. Faktor produksi ini menjadi rerbutan dan harganya akan naik. Maka untuk mempertahankan volume investasi, dibutuhkan lebih banyak lagi modal, karena adanya peningkatan harga pada faktor-faktor produksi yang sudah menjadi langka. Dengan demikian, kebutuhan akan pembiayaan oleh bank akan menjadi membengkak, sehingga akhirnya banknya sendiri akan tersendat dalam kemampuannya. Bilamana sumber pembiayaan bagi investasi ini tersendat, investasinya tentunya akan tersendat pula, dan dengan menurunnya investasi, krisis dimulai. Jadi yang mentok akhirnya toh berpulang pada faktor modal lagi.

Saya sendiri ingin menambahkan bahwa rentabilitas dari seluruh investasi tidak selalu lebih tinggi dari tingkat suku bunga bank. Bilamana rentabilitas investasi atau Return On Investment (ROI) lebih kecil dari tingkat suku bunga, perusahaan-perusahaan yang memakai banyak kredit akan berguguran dengan kebangkrutan, atau dipaksa menciutkan skala usahanya.

PERBEDAAN DASAR ANTARA KEDUA KELOMPOK TEORI KONJUNGTUR

Sekarang kita telaah lebih dalam, apa sebenarnya yang merupakan inti perbedaan antara kelompok teori underconsumption dan kelompok teori overinvestment? Teori overinvestment melihat bahwa cikal bakal krisis muncul selama gelombang pasang sedang berlangsung, karena kuatnya keinginan untuk investasi, sehingga akhirnya pertumbuhan investasi ini mentok pada pembiayaannya, yang selalu ditutup oleh kredit bank. Kredit bank ini ada batasnya, sehingga pada saat pembiayaan oleh bank tersendat, krisis terjadi. Oleh karena itu, kelompok teori ini berpendapat bahwa usaha menghindarkan diri dari krisis harus dilakukan selama gelombang pasang sedang berjalan. Tidak boleh ditunggu sampai krisis sudah terjadi. Bahkan banyak penganut teori ini mengatakan bahwa apabila krisis sudah terjadi, kita tidak dapat berbuat lain kecuali menyerahkan penyembuhannya pada proses alamiah yang sangat menyakitkan. Artinya, kita tidak dapat berbuat lain kecuali membiarkan resesi ekonomi sampai mencapai titik balik yang terendah, dan proses gelombang pasang dimulai lagi berdasarkan titik keseimbangan baru yang terletak pada tingkat “the lower turning point”.

Pada kelompok teori underconsumption (seperti yang kita lihat tadi), cikal bakalnya krisis adalah pertumbuhan konsumsi yang kurang sepadan dengan pertumbuhan kapasitas produksi dari barang-barang konsumsi ini. Oleh karena itu, penanganan krisis adalah dengan meningkatkan konsumsi setelah krisis terjadi.

Jadi pada teori underconsumption, krisis harus diatasi dengan meningkatkan konsumsi. Pada teori overinvestment, krisis hendaknya diperlunak dengan cara mengurangi konsumsi dan investasi, agar bisa memperbesar tabungan. Tindakannya pun harus cukup dini selama gelombang pasang masih berlangsung. Kalau sudah terlambat, tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali menjalani proses yang sangat menyakitkan.

Contoh bagi kita saat ini antara lain adalah mega proyek dalam bidang properti yang mencapai jumlah puluhan milyar US$. Berapa besar yang sudah dibangun setengah jalan? Kalau diteruskan tidak ada uangnya. Kalau dihentikan akan menjadi besi tua. Inilah antara lain yang saya artikan dengan proses yang menyakitkan.

Kita lihat dengan jelas bahwa terapi yang disajikan oleh teori underconsumption bertolak belakang dengan terapi yang disajikan oleh teori overinvestment. Baik instrumen yang dipakai maupun timing penanganannya. Maka pertanyaan yang paling krusial adalah teori manakah yang pada saat ini kira-kira berlaku bagi Indonesia? Teori underconsumption atau teori overinvestment? Sebelum menelusuri lebih dalam, kita teropong terlebih dahulu hubungan antara kedua kelompok teori ini dengan struktur ekonomi makro kita, karena teori mana yang berlaku bagi sesuatu negara dalam suatu kurun waktu tertentu, sangat banyak ditentukan oleh struktur ekonomi makronya yang berlaku dalam kurun waktu yang bersangkutan.

STRUKTUR DAN KONJUNGTUR

Dalam analisa tulisan ini yang diartikan dengan struktur adalah perbandingan antara modal dan tenaga kerja. Kegiatan ekonomi atau investasi dan produksi tidak lain adalah mengkombinasikan faktor produksi tenaga manusia dan modal untuk mengolah alam menjadi barang-barang konsumsi dan alat-alat produksi. Jarang sekali terjadi bahwa untuk jangka waktu yang cukup lama, jumlah tenaga kerja yang tersedia tepat cukup untuk dikombinasikan dengan jumlah modal yang ada.

Untuk periode yang cukup lama, modal lebih banyak daripada tenaga kerja yang tersedia. Struktur yang demikian kita namakan STRUKTUR LANGKA TENAGA KERJA. Keadaan yang sebaliknya adalah bahwa kita selalu kekurangan modal untuk dapat menciptakan lapangan kerja bagi seluruh angkatan kerja. Struktur ini kita namakan STRUKTUR LANGKA MODAL.

Witteveen berpendapat bahwa dengan struktur langka modal, yang berlaku adalah teori-teori overinvestment. Dalam kurun waktu yang ditandai oleh struktur langka tenaga kerja, yang berlaku adalah teori underconsumption. Tanpa penelahaan lebih dalam, hubungan ini memang logis. Kurang modal berarti faktor ini yang akan mentok terlebih dahulu. Jadi klop dengan overinvestment seperti yang tergambarkan tadi. Kurang tenaga manusia berarti kurang mulut yang berkonsumsi. Jadi klop dengan underconsumption.

Kita melihat bahwa pada teori underconsumption, struktur yang melandasi penyebab krisis adalah tiadanya kesempatan untuk menginvestasikan tabungan, karena faktor tenaga kerja sudah terpakai habis. Dalam struktur yang ditandai oleh langka modal, kita dihadapkan pada kecenderungan yang kuat dan terus menerus untuk melakukan investasi agar bisa memberikan lapangan kerja kepada penduduknya. Kecenderungan yang kuat ini lalu dipaksakan dengan pembiayaan-pembiayaan melalui kredit bank. Seperti telah diuraikan diatas, pembiayaan semacam ini tidak bisa berkelanjutan tanpa batas. Kredit bank akan tersendat, dan biaya-biaya investasi akan meningkat.

APA YANG BERLAKU UNTUK INDONESIA?

Tanpa penelitian lebih lanjut, rasanya bagi Indonesia, seperti halnya dengan negara-negara berkembang lainnya, struktur pada umumnya adalah langka modal. Maka yang berlaku rasanya adalah teori overinvestment.

Berdasarkan teori ini, tidak akan banyak manfaatnya untuk meningkatkan investasi terus dengan memompa atau memperbesar daya beli masyarakat, karena krisis terjadi justru disebabkan oleh overinvestment. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah sekedar supaya resesi tidak menjadi terlampau parah. Secara mental kita harus sudah siap dengan proses alamiah untuk mencapai keseimbangan baru. Yang dapat dilakukan adalah tight money policy, penjadwalan kembali proyek-proyek besar tanpa pandang bulu milik siapa proyek itu, pengendalian kredit komersial dari luar negeri. Pokoknya mengerem investasi. Dengan mengerem investasi kita memang memasuki resesi yang akan merupakan proses yang menyakitkan, tetapi tidak bisa kita hindarkan. Ini adalah biaya yang dari waktu ke waktu harus kita bayar karena kita ingin memiliki ekonomi yang tidak sentralistik dan tidak otoriter. Maka kita harus menghadapi resesi yang kita masuki sekarang ini dengan tenang dan wajar, karena gelombang ekonominya sedang surut. Kita berkonsolidasi untuk boom yang pasti akan datang setelah kita mencapai the lower turning point .

Yang perlu ditegakkan adalah konsistensi dalam pelaksanaan dan disiplin baja tanpa pilih kasih. Yang perlu dipantau dan diantisipasi adalah perubahan kondisi psikologi massa yang setiap saat mendadak bisa mencapai momentumnya, agar theory of the rational expectation yang negatif tidak terjadi. Pemerintah perlu siap dengan gebrakan-gebrakan psikologis bilamana sewaktu-waktu nanti diperlukan.

Oleh Kwik Kian Gie

 

Read Full Post »


Bahwa terjadi krisis maha dahsyat di Amerika Serikat yang menyebar ke semua negara di dunia sudah sangat banyak kita baca. Namun tidak banyak yang menjelaskan tentang sebab-sebabnya, dan juga tidak banyak yang menguraikan tentang landasan dari sebab-sebab itu, yaitu mashab pikiran atau ideologi yang memungkinkan dipraktekannya cara-cara penggelembungan di sektor keuangan.

Tentang yang pertama, media massa di negara-negara maju banyak yang mengulasnya. Intinya sebagai berikut.

Bank hipotik yang mengkhususkan diri memberikan kredit untuk pembelian rumah, dengan sendirinya mempunyai tagihan kepada penerima kredit yang menggunakan uangnya untuk membeli rumah. Jaminan atas kelancaran pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya adalah rumah yang dibiayai oleh bank hipotik tersebut. Kita sebut tagihan ini tagihan primer, karena langsung dijamin oleh rumah, atau barang nyata. Tagihannya bank hipotik kepada para penerima kredit berbentuk kontrak kredit yang berwujud kertas. Istilahnya adalah pengertasan dari barang nyata berbentuk rumah. Karena kertas yang diciptakannya ini mutlak mewakili kepemilikan rumah sebelum hutang oleh pengutang lunas, maka kertas ini disebut surat berharga atau security. Pekerjaan mengertaskan barang nyata yang berbentuk rumah disebut securitization of asset.

Katakanlah bank hipotik ini bernama Bear Sterns. Bear Sterns mengkonversi uang tunainya ke dalam kewajiban cicilan utang pokok beserta pembayaran bunga oleh para penghutang atau debitur. Jadi uang tunai atau likuiditasnya berkurang. Namun Bear Sterns memegang surat berharga atau security yang berbentuk kontrak kredit atau tagihan kepada para debiturnya. Bear Sterns mengelompokkan surat-surat tagihan tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang setiap kelompoknya mengandung surat tagih dengan tanggal jatuh tempo pembayaran yang sama. Setiap kelompok ini dijadikan landasan untuk menerbitkan surat utang yang dijual kepada Lehman Brothers (misalnya) dan bank-bank lain yang semuanya mempunyai nama besar. Yang sekarang dilakukan oleh Bear Sterns bukan menerbitkan surat piutang, tetapi surat janji bayar atau surat utang. Atas dasar surat piutang kepada ratusan atau ribuan debiturnya, Bear Sterns menerbitkan surat utang kepada Lehman. Uang tunai hasil hutangnya dari Lehman dipakai untuk memberi kredit lagi kepada mereka yang membutuhkan rumah. Seringkali untuk membeli rumah kedua, ketiga oleh orang yang sama, sehingga potensi kreditnya macet bertambah besar.

Penerbitan surat berharga berbentuk surat janji bayar atau promes disebut securitization of security. Bahasa Indonesianya yang sederhana “mengertaskan kertas.” Surat berharga ini kita namakan surat berharga sekunder, karena tidak langsung dijamin oleh barang yang berbentuk rumah, melainkan oleh kertas yang berwujud surat janji bayar oleh bank hipotik yang punya nama besar.

Lehman memegang surat utang dari Bear Sterns dan juga dari banyak lagi perusahaan-perusahaan sejenis Bear Sterns. Seluruh surat ini dikelompokkkan lagi ke dalam wilayah-wilayah geografis, misalnya kelompok debitur California, kelompok debitur Atlanta dan seterusnya. Oleh Lehman kelompok-kelompok surat-surat utang dari bank-bank ternama ini dijadikan landasan untuk menerbitkan surat utang yang dibeli oleh Merril Lynch dan bank-bank lainnya dengan nama besar juga. Kita namakan surat utang ini surat utang tertsier.

Demikianlah seterusnya, satu rumah sebagai jaminan menghasilkan uang tunai ke dalam kas dan bank-bank ternama dengan jumlah keseluruhan yang berlipat ganda. Media massa negara-negara maju menyebutkan bahwa bank-bank tersebut melakukan sliced and diced, yang secara harafiah berarti bahwa satu barang dipotong-potong dan kemudian masing-masing diperjudikan. Maka banyak bank yang debt to equity ratio-nya 35 kali.

Sekarang kita bayangkan adanya pembeli rumah yang gagal bayar cicilan utang pokok beserta bunganya. Kalau satu tagihan dipotong-potong (sliced) menjadi 5, yang masing-masing dibeli oleh bank-bank yang berlainan, maka gagal bayar oleh satu debitur merugikan 5 bank. Ini sebagai contoh. Dalam kenyataannya bisa lebih dari 5 bank yang terkena kerugian besar, karena kepercayaan bank-bank besar di seluruh dunia kepada nama-nama besar investment banks dan hedge funds di AS.

Dampak pertama adalah bahwa bank tidak percaya pada bank lain yang minta kredit kepadanya melalui pembelian surat berharganya. Ini berarti bahwa bank-bank yang tadinya memperoleh likuiditas dari sesama bank menjadi kekeringan likuiditas, sedangkan bank-bank yang termasuk kategori investment bank atau hedge fund tidak mendapatkan uangnya dari penabung individual, tetapi dari bank-bank komersial atau sesama investment bank atau sesama hedge funds. Jadi dampak pertama adalah kekeringan likuiditas.

Dampak kedua adalah bahwa bank yang menagih piutangnya yang sudah jatuh tempo tidak memperoleh haknya, karena bank yang diutanginya tidak mampu membayarnya tepat waktu, karena pengutang utamanya, yaitu individu yang membeli rumah-rumah di atas batas kemampuannya memang tidak mampu memenuhi kewajibannya. Lembaga-lembaga keuangan di Amerika Serikat dengan sadar memberikan kredit rumah kepada orang yang tidak mampu. Itulah sebabnya namanya subprime mortgage. Sub artinya di bawah. Prime artinya prima atau bonafid. Jadi dengan sadar memang memberikan kredit rumah kepada orang-orang yang tidak bonafid atau tidak layak memperoleh kredit. Bahwa kepada mereka toh diberikan, bahkan berlebihan, karena adanya praktek yang disebut sliced and diced tadi. Dampak kedua ini, yaitu bank-bank gagal bayar kepada sesama bank mengakibatkan terjadinya rush oleh bank-bank pemberi kredit, antara lain kepada Lehman Brothers. Maka Lehman musnah dalam waktu 24 jam.

Ketika surat utang inferior yang disebut subprime mortgage macet, barulah ketahuan bahwa begini caranya memompakan angin ke dalam satu surat utang yang dijual berkali-kali dengan laba sangat besar.

Ketika balon angin keuangan meledak, Henry Paulson sudah menjabat menteri keuangan AS. Dia melakukan tindakan-tindakan yang buat banyak orang membingungkan, tetapi buat beberapa orang, dia manusia yang hebat, tegas, dan menurutnya sendiri bersenjatakan bazooka. (Newsweek tanggal 29 September 2008 halaman 20). Ada alasan untuk menganggapnya orang hebat. Dia mahasiswa Phi Beta Kappa dari Dartmouth. Penghubung antara gedung putihnya Nixon dan Departemen Perdagangan. MBA dari Harvard, bergabung dengan Goldman Sachs Chicago di tahun 1974, menjadi CEO-nya dari 1998 sampai 2006. Dan sekarang menteri keuangan AS.

Maka dialah yang ketiban beban berat menghadapi krisis yang maha dahsyat yang sedang berlangsung. Tindakan-tindakannya seperti semaunya sendiri atau bingung. Dia memfasilitasi JP Morgan untuk membeli Bear Sterns dengan harga hanya US$ 2 per saham, yang dalam waktu singkat direvisi menjadi US$ 10. Fannie Mae dan Freddie Mac, perusahaan quasi milik pemerintah telah memberikan jaminan kredit sebesar US$ 5,4 trilyun. Untuk menyelamatkannya dua perusahaan penjaminan kredit tersebut dibeli oleh pemerintah dengan jumlah uang US$ 80 milyar. Lehman Brothers disuruh bangkrut saja. Merril Lynch dijual kepada Bank of America. Akhirnya dia menyodorkan usulan supaya pemerintah AS menyediakan uang US$ 700 milyar untuk menanggulangi krisis. Kongres marah, karena alasan ideologi. Bagaimana mungkin bangsa yang kepercayaannya pada keajaiban mekanisme pasar bagaikan agama mendadak disuruh intervensi dengan uang yang begitu besar? Wall Street guncang luar biasa. Kongres rapat lagi dan “terpaksa” menyetujui usulan Hank Paulson dan Bernanke, Presiden Federal Reserve, supaya pemerintah AS menggunakan uang rakyat pembayar pajaknya sebesar Rp 700 milyar untuk mencoba menyelesaikan masalah keuangan yang maha dahsyat itu. Saya katakan mencoba, karena setelah disetujui, Wall Street tetap saja terpuruk.

Maka masyarakat menjadi panik, kepercayaan kepada siapapun hilang. Dengan adanya pengumuman bahwa perusahaan-perusahaan besar dengan nama besar dan sejarah yang panjang ternyata bangkrut, saham-sahamnya yang dipegang oleh masyarakat musnah nilainya. Masyarakat bertambah panik.

Seperti telah dikemukakan sangat banyak kertas-kertas derivatif diciptakan oleh bank-bank dengan nama besar, sehingga tanpa ragu banyak bank-bank besar di seluruh dunia membelinya sebagai investasi mereka. Kertas-kertas berharga ini mendadak musnah harganya, sehingga banyak bank yang menghadapi kesulitan sangat kritis.

Dampaknya terhadap Indonesia

Secara rasional dampaknya terhadap Indonesia sangat kecil, karena hubungan ekonomi Indonesia dengan AS tidak ada artinya. Praktis tidak ada uang Indonesia yang ditanam ke dalam saham-saham AS yang sekarang nilainya merosot atau musnah. Hanya milik orang-orang Indonesia kaya dan super kaya yang tertanam dalam saham-saham perusahaan-perusahaan AS. Uang inipun jauh sebelum krisis sudah tidak pernah ada di Indonesia.

Dampak yang riil dan sekarang terasa ialah dijualnya saham-saham di Bursa Efek Indonesia oleh para investor asing karena mereka membutuhkan uangnya di negaranya masing-masing. Maka IHSG anjlok. Uang rupiah hasil penjualannya dibelikan dollar, yang mengakibatkan nilai rupiah semakin turun. Namun sayang bahwa kenyataan yang kasat mata ini tidak mau diakui oleh pemerintah, sehingga pemerintah memilih membatasi Bursa Efek dalam ruang geraknya dengan cara mengekang Bursa Efek demikian rupa, sehingga praktis fungsi Bursa Efek ditiadakan.

Kebijakan lain ialah mengumumkan memberikan jaminan keamanan dan keutuhan uang yang disimpan dalam bank-bank di Indonesia sampai batas Rp 2 milyar. Ini sama saja mengatakan kepada publik di seluruh dunia supaya jangan menyimpan uangnya di bank-bank di Indonesia yang melebihi Rp 2 milyar.

Karena pengaruh teknologi informasi yang demikian canggihnya, semua berita-berita tentang krisis yang melanda negara-negara maju dapat diikuti. Pengaruh psikologisnya ialah kehati-hatian dalam membelanjakan uangnya yang berarti konsumsi akan menyusut dengan segala akibatnya.

Setelah Bank Indonesia menjadi independen ada kecenderungan terjadinya ego sektoral. Karena tugas pimpinan BI terfokus pada menjaga stabilitas nilai rupiah dan menjaga tingkat inflasi, semuanya dipertahankan at any cost. Maka di banyak negara maju yang menjadi cikal bakal pikiran independennya bank sentral menurunkan tingkat suku bunga, di Indonesia dinaikkan sangat tinggi yang lebih memperpuruk sektor riil yang sudah terpuruk karena menurunnya drastis permintaan dari negara-negara tujuan ekspor.

Hal yang kurang dipahami adalah faktor-faktor, kekuatan-kekuatan serta mekanisme yang bekerja setelah meletusnya gelembung angin (bubble) keuangan menyeret perekonomian global ke dalam spiral yang menurun.

Sejak lama kita mengenal adanya gejala gelombang pasang surutnya ekonomi atau business cycle atau conjunctuur yang selalu melekat pada sistem kapitalisme dan mekanisme pasar. Cikal bakal tercapainya titik balik teratas menuju pada kemerosotan, dan sebaliknya, cikal bakal tercapainya titik balik terendah menuju pada kegairahan dan peningkatan ekonomi bisa macam-macam. Tetapi pola kemerosotan dan pola peningkatannya selalu sama.

Seberapa besar pemerintah mempunyai kemampuan mempengaruhinya tergantung pada struktur ekonomi dalam aspek perbandingannya antara ketersediaan modal dan ketersediaan tenaga kerja. Bagian ini dari ekonomi tidak banyak dibicarakan oleh para ahli. Apakah karena mereka kurang paham, ataukah gejala business cycle sudah mati, sudah kuno dan tidak berlaku lagi?

Kita telusuri dalam tulisan berikutnya.

Oleh Kwik Kian Gie

 

Sumber: Koran Internet

http://www.koraninternet.com/webv2/lihatartikel/lihat.php?pilih=lihat&id=12225

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.