Oleh Harco Kurniawan
JAKARTA – Perusahaan tambang emas dan tembaga, PT Freeport Indonesia (Freeport), akan mengucurkan kredit lunak US$ 100 juta kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua. Dana itu akan digunakan untuk membangun pabrik semen di Timika, Papua, berkapasitas 500 ribu ton.
Presiden Direktur Freeport Indonesia Armando Mahler menuturkan, proses pencairan kredit mulai dilakukan tahun ini untuk keperluan riset dan pengembangan. Selain mendukung dari sisi pembiayaan, Freeport mengirimkan tenaga ahli untuk membantu Pemprov Papua.
“Pada dasarnya pembangunan pabrik semen merupakan proyek dari Pemprov Papua. Kami hanya membantu dengan memberikan kredit dan tenaga ahli,” ujarnya kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (8/4).
Armando menerangkan, pembangunan pabrik semen terbagi menjadi beberapa tahap. Sebagai tahap awal, Pemprov Papua akan membangun infrastruktur di lokasi pabrik.
Saat ini, tegas dia, Pemprov Papua tengah membangun jalan raya yang menghubungkan Timika dan Morotali. Setelah proyek infrastruktur rampung, pemprov baru mulai membangun pabrik.
Dia memprediksi, proses peletakan batu pertama akan dilakukan pada 2011 dan selesai pada 2013. Pemprov Papua berencana menggandakan kapasitas pabrik hingga 1 juta ton dalam empat tahun ke depan.
Freeport, lanjut Armando, menawarkan dua skema pembayaran kepada Pemprov Papua. Pertama, tandas dia, membayar secara utuh, sedangkan alternatif kedua Freeport mendapat jatah pasokan semen dari pabrik itu.
“Kebutuhan semen kami per tahun sekitar 180 ribu ton per tahun untuk keperluan infrastruktur pabrik. Ini dapat dipasok dari pabrik semen yang baru,” jelasnya.
Menurut Armando, masyarakat Papua sangat membutuhkan pabrik semen. Sebab, harga semen di wilayah itu cukup mahal, yakni sekitar Rp 1 juta per sak (50 kg). Sedangkan harga semen di wilayah Jawa yang mencapai Rp 55-60 ribu per sak.
Selama ini, kata dia, kebutuhan semen di Papua dipasok dari Jawa dan Sulawesi. Ini membuat ongkos angkut semen menjadi mahal, sehingga harga jual melonjak tajam.
“Kalau Papua punya pabrik semen sendiri, harga semen bisa ditekan dan pembangunan infrastruktur bisa lancar,” katanya.
Investasi Rp 7,3 Triliun
Pembangunan pabrik semen di Papua membutuhkan dana sekitar Rp 7,3 triliun. Proyek ini akan dikerjakan oleh PT Egayai Papua Indonesia. Perusahaan ini menggandeng perusahaan manufaktur asal Denmark, FLSmidth, untuk mengerjakan proyek tersebut.
Dirut Egayai Papua Jefri Kayame menjelaskan, perseroan sudah menyiapkan lahan 1.000 hektare di Timika, Papua Tengah, untuk membangun pabrik semen berkapasitas 3 juta ton. “Selain FLSmidth, kami mengajak investor perseorangan dari Denmark yakni George Petersen sebagai penyandang dana. Artinya, dana investasi akan diperoleh dari partner asing 50% dan PT Egayai Papua Indonesia 50%,” ujarnya.
Egayai Papua, kata Jefri, membidik pasar Indonesia bagian timur, terutama Papua. Konsumsi semen di Papua diperkirakan mencapai 600-800 ribu ton per tahun. Dengan adanya pabrik semen, pembangunan infrastruktur di Papua akan lebih cepat,” ucapnya.



